Di tahun 140, dua puluh tahun setelah hilangnya The Ninth Legion di pegunungan Skotlandia, Marcus Aquila (Channing Tatum) dari Roma tiba di Inggris untuk memimpin pasukan penjaga di tanah Britania Raya. Dengan maksud untuk memulihkan reputasi ayahnya yang memimpin The Ninth Legion, Marcus bersama budaknya, Esca (Jamie Bell) menuju utara tanah Britania Raya, melewati Hadrian's Wall untuk mencari emblem emas yang hilang, The Eagle of the Ninth. Ternyata pencarian itu tidak mudah ketika mereka dihadang oleh sekelompok suku pedalaman yang buas.
Entah kenapa ada beberapa perasaan aneh dan tak nyaman selama gue menonton film ini. Walaupun tidak terlalu signifikan, tapi entah kenapa gue cukup merasa aneh dengan aksen American-English dalam pasukan Romawi dalam film ini. Ini pasukan Romawi yang gagah berani dan menaklukkan hampir satu benua Eropa itu loh! Namun sutradara Kevin Macdonald yang kelahiran Glasgow pun cukup setia untuk memakai bahasa kuno Gaelic pada suku-suku pedalaman. Lalu garis besar film ini seakan ingin membanggakan kekuasaan Romawi yang sedang menjajah tanah Britania Raya pada waktu itu, ditambah dengan misi yang rada klise; menyelamatkan emblem emas sampai rela (bertahan hidup) membunuhi penduduk asli. Ini bangsa penjajah loh. Suatu hal yang sangat bertolak belakang dari apa yang ingin diperlihatkan oleh film Avatar atau District 9.
Memang dalam film ini, emblem emas berbentuk elang itu merepresentasikan harga diri; baik harga diri nama keluarga dan harga diri bangsa Romawi. Emblem emas yang hilang di tanah jajahan, bukankah itu adalah konsekuensi dari aktivitas menjajah itu sendiri? Lalu melakukan "misi bunuh diri" demi mendapatkan kembali si emblem emas tersebut, dan dengan begitu menjadi punya alasan untuk membantai suku penduduk lokal? Aduh maaf ya, tapi gue rada tidak suka dengan apa yang tergambar dalam film ini. Kekuatan imperialis? Entah yah, tapi jelas bukan film yang baik untuk dicontoh oleh orang-orang modern masa kini, yang akhir-akhir ini pun banyak orang yang berperang atas nama bendera atau bahkan kitab suci.
![]() |
| gambar diambil dari sini |
Akting Channing Tatum sendiri menurut gue malah tenggelam oleh aktingnya Jamie Bell. Entah memang dari naskah atau aktingnya, karakter Marcus yang dibawakan Tatum tidak terlihat sebegitu macho dan perkasanya, malahan terkesan lenje, melankolis, dan sangat terbawa masa lalunya. Kebanyakan ekspresi dan dialog yang ada (ditambah flashback tentang ayahnya) hanya membangun karakter Marcus yang klemer-klemer. Malahan budaknya yang terkesan lebih gagah berani daripada tuannya. Gue sangat suka dengan akting Jamie Bell disini, walaupun dibuat kurus ceking berotot, namun dari ekspresi dan tatapan mata yang tajam berhasil membangun seorang penduduk terjajah yang kuat dan tegar. Namun, sekali lagi karena ketidak-sukaan gue pada penjajah, gue cukup kecewa dengan nasib akhir dari Esca.
![]() |
| gambar diambil dari sini |
Film ini rasanya termasuk film yang segmented; mereka yang menyukai Channing Tatum dan/atau Jamie Bell, atau mereka yang senang dengan chemistry sesama-jenis macam Frodo Baggins dengan Sam Gamgee ;p
Rating?
6 dari 10




lenje dan klemer! itu dia kata yang cocok buat akting dan performa Channing Tatum di sini. Sandainya gada Jamie Bll disini, gatau lagi apa yang bisa dibilang bagus dari film ini.
ReplyDeleteGreat review as always!