25 March 2011
One kritik

The Eagle

5:48 AM
Sobekan tiket bioskop tertanggal 24 Maret 2011 adalah The Eagle. Film epik jaman Romawi memang selalu menarik untuk ditonton. Apalagi kali ini cerita dalam film ini mengambil latar belakang tanah Britania Raya yang dijajah Romawi. Mumpung gue lagi berada disini, rasanya akan lebih menarik untuk menonton film ini bersama orang-orang lokal.

Di tahun 140, dua puluh tahun setelah hilangnya The Ninth Legion di pegunungan Skotlandia, Marcus Aquila (Channing Tatum) dari Roma tiba di Inggris untuk memimpin pasukan penjaga di tanah Britania Raya. Dengan maksud untuk memulihkan reputasi ayahnya yang memimpin The Ninth Legion, Marcus bersama budaknya, Esca (Jamie Bell) menuju utara tanah Britania Raya, melewati Hadrian's Wall untuk mencari emblem emas yang hilang, The Eagle of the Ninth. Ternyata pencarian itu tidak mudah ketika mereka dihadang oleh sekelompok suku pedalaman yang buas.

Entah kenapa ada beberapa perasaan aneh dan tak nyaman selama gue menonton film ini. Walaupun tidak terlalu signifikan, tapi entah kenapa gue cukup merasa aneh dengan aksen American-English dalam pasukan Romawi dalam film ini. Ini pasukan Romawi yang gagah berani dan menaklukkan hampir satu benua Eropa itu loh! Namun sutradara Kevin Macdonald yang kelahiran Glasgow pun cukup setia untuk memakai bahasa kuno Gaelic pada suku-suku pedalaman. Lalu garis besar film ini seakan ingin membanggakan kekuasaan Romawi yang sedang menjajah tanah Britania Raya pada waktu itu, ditambah dengan misi yang rada klise; menyelamatkan emblem emas sampai rela (bertahan hidup) membunuhi penduduk asli. Ini bangsa penjajah loh. Suatu hal yang sangat bertolak belakang dari apa yang ingin diperlihatkan oleh film Avatar atau District 9.


Memang dalam film ini, emblem emas berbentuk elang itu merepresentasikan harga diri; baik harga diri nama keluarga dan harga diri bangsa Romawi. Emblem emas yang hilang di tanah jajahan, bukankah itu adalah konsekuensi dari aktivitas menjajah itu sendiri? Lalu melakukan "misi bunuh diri" demi mendapatkan kembali si emblem emas tersebut, dan dengan begitu menjadi punya alasan untuk membantai suku penduduk lokal? Aduh maaf ya, tapi gue rada tidak suka dengan apa yang tergambar dalam film ini. Kekuatan imperialis? Entah yah, tapi jelas bukan film yang baik untuk dicontoh oleh orang-orang modern masa kini, yang akhir-akhir ini pun banyak orang yang berperang atas nama bendera atau bahkan kitab suci.
gambar diambil dari sini
Bangsa Romawi memang banyak mewariskan penemuan dan kebudayaannya pada masyarakat modern. Sampai-sampai Hitler pun terinspirasi dari bagaimana Romawi menguasai Eropa. Tapi sayangnya film ini hanya fokus pada bagaimana obsesi orang-orang Romawi berupaya keras untuk melebarkan kekuasaannya. Sebenarnya ada banyak hal yang bisa diceritakan dalam film seperti ini, sekedar untuk mengimbangi cerita yang ada. Sayang, yang ditonjolkan "hanyalah" honour, honour, dan honour.

Akting Channing Tatum sendiri menurut gue malah tenggelam oleh aktingnya Jamie Bell. Entah memang dari naskah atau aktingnya, karakter Marcus yang dibawakan Tatum tidak terlihat sebegitu macho dan perkasanya, malahan terkesan lenje, melankolis, dan sangat terbawa masa lalunya. Kebanyakan ekspresi dan dialog yang ada (ditambah flashback tentang ayahnya) hanya membangun karakter Marcus yang klemer-klemer. Malahan budaknya yang terkesan lebih gagah berani daripada tuannya. Gue sangat suka dengan akting Jamie Bell disini, walaupun dibuat kurus ceking berotot, namun dari ekspresi dan tatapan mata yang tajam berhasil membangun seorang penduduk terjajah yang kuat dan tegar. Namun, sekali lagi karena ketidak-sukaan gue pada penjajah, gue cukup kecewa dengan nasib akhir dari Esca.
gambar diambil dari sini
Rasanya memang film ini hanyalah film keren-kerenan belaka, tanpa memperhitungkan kisah penjajahan yang (sebenarnya) tersaji di sepanjang jalan cerita. Adegan peperangan dan berkelahi memang oke, sinematografi dengan gaya shaky-camera pun terlihat artistik, pilihan tone warna yang mirip-mirip 300 pun menghidupkan kesan masa lampau. Oya, cerita dalam film ini fiksi yah, meskipun keberadaan Hadrian's Wall itu nyata adanya dan masih berdiri gagah sampai saat ini, membentang dari kota Carlisle di timur sampai kota Newcastle di barat. Alasan dibangunnya Hadrian's Wall yang diusulkan dalam film ini pun tidak terlalu relevan, mengingat masih banyaknya debat dan diskusi tentang hal ini.

Film ini rasanya termasuk film yang segmented; mereka yang menyukai Channing Tatum dan/atau Jamie Bell, atau mereka yang senang dengan chemistry sesama-jenis macam Frodo Baggins dengan Sam Gamgee ;p

Rating?
6 dari 10

1 kritik:

  1. lenje dan klemer! itu dia kata yang cocok buat akting dan performa Channing Tatum di sini. Sandainya gada Jamie Bll disini, gatau lagi apa yang bisa dibilang bagus dari film ini.

    Great review as always!

    ReplyDelete

 
Toggle Footer
Top