12 March 2011
3 kritik

Battle: Los Angeles

5:22 AM
Sobekan tiket bioskop tertanggal 11 Maret 2011 adalah Battle: Los Angeles. Sepertinya Hollywood tidak bosan-bosannya membuat film tentang invasi alien. Apalagi gue masih sedikit "trauma" dengan Skyline yang gue tonton sekitar empat bulan yang lalu, yang hanya pamer efek visual semata. Namun berhubung gue belum pupus harapan akan film-film senada, gue ingin memberikan kesempatan kepada film yang dibintangi oleh Aaron Eckhart ini. Walaupun dengan trailer yang menjanjikan dan cukup dramatis, rasanya lebih aman jika gue menonton dengan ekspektasi yang tidak terlalu tinggi.

Jalan cerita utama dalam ini sangat sederhana. Sekelompok prajurit marinir harus mengerahkan kekuatan terbaik mereka untuk mempertahankan kota Los Angeles yang diserbu oleh alien. Ketika manusia kalah oleh kuantitas armada alien dan kualitas teknologi yang ada, maka hanya ada satu hal yang menjadi satu-satunya pertahanan terakhir umat manusia; determinasi.

Lima belas tahun semenjak Independence Day menyerbu Washington D.C. dan menghancurkan Gedung Putih, baru film ini yang berani untuk kembali mengambil sudut pandang tentara dalam menghadapi serbuan alien ke bumi. Selama ini kita telah disuguhi berbagai sudut pandang dalam menghadapi kedatangan alien; seorang pendeta dan keluarganya di sebuah desa kecil (Signs), seorang anak muda bersama teman-temannya (Cloverfield), warga pekerja beserta anaknya (War of the Worlds), dan yang lainnya. Rasanya akan cukup segar jika menampilkan kembali para tentara yang gagah berani yang bertempur di garis depan melawan kekuatan asing yang mengerikan. Selain mengkategorikan film ini sebagai film invasi alien, rasanya gue bisa saja mengkategorikan film ini sebagai film perang sejajar dengan Saving Private Ryan atau Band of Brothers - walaupun musuhnya bukan sesama manusia.

Betul saja, sepanjang film kita disajikan oleh pertempuran perang dengan istilah-istilah prajurit yang menyebut "click" (kilometer), "asset" (warga sipil), dan "hostile" (musuh/alien). Mata dan telinga penonton pun sangat dimanjakan dengan efek visual yang megah dan cantik, serta tembak-menembak dan ledak-ledakan hampir di sepanjang film. Menyelamatkan warga sipil, membantu rekan prajurit yang terluka, covering fire, fire in the hole; semua ini cukup membuat gue merasa sedang menonton Black Hawk Down dengan musuh hybrid antara alien di ID4 dengan alien di District 9. Apalagi dengan teknik hand-held camera yang shaky yang sedikit membantu untuk meningkatkan ketegangan.
gambar diambil dari sini
Namun sayang, film ini membuat gue kurang konsentrasi saat mengikuti jalan ceritanya. Menurut gue, salah satu hal dari film yang benar-benar bagus adalah film yang tidak membuat penontonnya tiba-tiba/otomatis teringat pada film lain yang mirip. Notabene, ketika penonton benar-benar hanyut dan masuk dalam cerita film tersebut, maka film tersebut dapat gue kategorikan sebagai film yang brilian. Di genre film invasi alien ke bumi dan di genre film perang, Signs dan Black Hawk Down yang mampu membuat gue merinding disko. Di genre film apocalyptic, gue masih ingat betapa merinding dan hopeless-nya gue di akhir film Terminator 3: Rise of the Machines. Namun film yang disutradarai oleh Jonathan Liebesman ini tidak mampu menyeret pikiran dan perasaan gue mengikuti para marinir yang gagah berani ini.

Tidak ada kedalaman cerita, kengerian pasukan alien atau pesawat alien yang dahsyat pun seakan hanya dijejalkan saja ke dalam pikiran penonton. Awal kemunculan alien yang baru mendarat di bumi saja hanya lewat begitu saja. Sayang, padahal gue sudah berharap banyak pada adegan tersebut, dan bisa saja digali lebih jauh lagi untuk meningkatkan kengerian pada penonton. Klip-klip berita yang menayangkan serangan alien di belahan dunia lain - walaupun cukup efektif dalam menggambarkan situasi gawat yang ada - tidak terasa menggigit lantaran sudah sering dipakai di film-film sejenis. Layaknya film-film perang lainnya, film ini cukup mematuhi formula film perang yang ada dengan sedikit menyelipkan unsur drama. Namun sayang, dengan kurangnya kedalaman karakter dan sepanjang film hanya disuguhi dar-der-dor saja, praktis setiap selipan drama sama sekali tidak menyentuh dan terasa hanya sebagai tempelan saja.
gambar diambil dari sini
Satu kelemahan utama dalam film ini adalah pada naskah. Ditulis oleh Christopher Bertolini yang baru dua kali ini menulis naskah untuk film layar lebar, banyak dialog-dialog cheesy yang bertebaran dalam film ini. Cukup sering gue menemukan diri gue nyeletuk "apaan sih?!" terhadap dialog yang klise dan terkesan memaksa di sebuah sikon gawat darurat.

Namun ternyata cerita film ini terinspirasi dari kejadian nyata yang dikenal dengan nama Battle of Los Angeles. Jadi pada malam 24-25 Februari 1942, pesawat-pesawat tak dikenal terlihat di langit Los Angeles. Pada masa itu AS yang baru saja terlibat dalam Perang Dunia Ke-2 setelah pengeboman di Pearl Harbor, pesawat-pesawat tak dikenal itu diduga adalah pesawat-pesawat Jepang. Pemerintah pun menginstruksikan untuk mematikan listrik di seluruh kota dan sekitar 1440 peluru anti-pesawat pun ditembakkan ke udara. Setelah itu diketahui bahwa tidak ada bukti adanya pesawat-pesawat musuh di udara, dan insiden tersebut dinyatakan sebagai false alarm. Pemerintah menyatakan bahwa insiden tersebut terjadi karena ketegangan perang yang sedang terjadi dan meriliskan pernyataan bahwa objek tak dikenal tersebut hanyalah balon-balon cuaca, meskipun banyak pencinta teori konspirasi percaya bahwa objek tak dikenal tersebut adalah UFO.
gambar diambil dari sini
Selain visual effect dan sound effect yang memukau pada film ini, gue juga sangat suka dengan berbagai promosi yang digencarkan oleh pembuat film ini. Selain teaser trailer yang dramatis dan bikin penasaran, lihat saja halaman imdb tentang film ini (bisa diklik disini). Lalu official website yang sangat menarik, didukung dengan banyak fakta tentang laporan penglihatan UFO, seakan-akan membuat kita percaya akan apa yang sedang terjadi (bisa diklik disini).

Sayang seribu sayang, untuk film dengan budget kurang lebih 100 juta USD ini sebenarnya bisa saja menjadi film yang berkualitas. Namun tampaknya para pembuat film ini tetap berpegang pada tujuan utamanya; membuat film pameran efek visual dan suara. Untuk para action junkie atau mereka yang menyatakan bahwa Skyline itu bagus (walaupun gue akui film ini jauh lebih bagus daripada Skyline), film ini mungkin bisa membuat mereka keluar bioskop dengan mulut menganga. Namun bagi pencinta Monsters dan District 9, janganlah berharap banyak dari film ini.



Rating?
7 dari 10

3 kritik:

  1. Wah cepet banget udah nonton. Dimana nontonnya?

    ReplyDelete
  2. hebat...dalem bgt..bisa jadi sutradara donk..oiya nonton dimana gan?di indonesia katanya tgl 23 maret tuh...bener ga..

    ReplyDelete
  3. nonton di bioskop, gan.
    hehe, di UK sih.

    ReplyDelete

 
Toggle Footer
Top