Semenjak kejadian di Fast Five (2011), Dominic Toretto dan tim-nya telah berpencar di berbagai belahan dunia untuk menikmati hasil rampokan 100 juta dollar-nya. Hidup mewah di beberapa tempat terpencil ternyata tidak sesempurna itu; mereka tidak dapat kembali pulang ke rumah sebagai keluarga besar. Sementara itu, Agen Hobbs sedang memburu tim perampok yang telah beraksi di 12 negara yang datang dan menghilang secepat kilat. Melawan api dengan api, Hobbs meminta bantuan Dom dan tim-nya untuk menghentikan Evan Shaw, mantan SAS yang menjadi perampok. Bayarannya adalah penghapusan segala macam catatan kejahatan sebagai bayarannya agar mereka semua dapat pulang ke rumah dan berkumpul kembali sebagai keluarga besar.
Serial Fast & Furious telah berevolusi dari film tentang balapan mobil keren menjadi kisah perampokan dengan mobil-mobil modifikasi. Walaupun dengan plot kriminal yang itu-itu saja, setiap sekuelnya masih saja menghadirkan adegan aksi dan stunt yang mengundang decak kagum. Jangan berharap banyak dari segi cerita, dimana perkembangan karakter dan alur plot yang logis pun di-nomordua-kan. Dengan formula sekuel terbaru harus lebih megah daripada pendahulunya, sutradara Justin Lin pun tidak tanggung-tanggung menghadirkan tank dan pesawat kargo sebagai lawan dari mobil-mobil balap. Selain itu, adegan aksi pada sekuel keenam ini tidak hanya terbatas pada kejar-kejaran mobil, tetapi juga adegan pertarungan jarak dekat. Yeah, that's why Justin Lin recruited Joe Taslim to the club.
baca selengkapnya...
Setelah menyelesaikan misi eksplorasi dan pengintaian - yang berakhir dengan intervensi - di sebuah planet asing, Enterprise dipanggil pulang ke bumi. Ketika kru Enterprise sedang mempersiapkan misi 5 tahun eksplorasi luar angkasa, markas Starfleet diserang oleh serangkaian serangan yang menjatuhkan banyak korban jiwa. Kapten Kirk, Spock, beserta seluruh awak Enterprise pun ditugaskan untuk memburu seorang pelaku yang ternyata adalah orang dalam. Perburuan tersebut ternyata membawa Enterprise masuk dalam zona perang. Menghadapi musuh yang tidak diketahui, membuat petualangan dan perjuangan Kapten Kirk dan kawan-kawan ke level yang lebih tinggi untuk mengorbankan tidak hanya persahabatan, namun juga rasa kekeluargaan.
Perlu menunggu empat tahun untuk dapat mengikuti kembali kisah Kapten Kirk dan Spock (plus Scotty), sejak Star Trek (2009) yang fenomenal tersebut. Remake dari serial televisi yang dicintai jutaan penggemar ditambah dengan berbagai ekspektasi memang tidaklah mudah. Tapi sutradara J.J. Abrams yang visioner berhasil menjawab berbagai ekspektasi tersebut, dengan menghadirkan film panjang Star Trek yang megah sekaligus mind-blowing. Di sekuel pertamanya, kisah perang luar angkasa yang kolosal sekaligus putaran twist tentang time-travel yang memutar otak. Di sekuel kedua ini, kisah eksplorasi luar angkasa ini memang sengaja tidak dibuat sekolosal dan semegah pendahulunya, melainkan menyasar pada hal-hal yang lebih personal dan mendasar.
baca selengkapnya...
Adam dan Eden adalah dua individu yang saling mencintai, tetapi dengan kondisi yang luar biasa. Di alam semesta lain, mereka tinggal di dua planet yang berbeda, yang dengan kondisi yang luar biasa, dua planet ini mengitari orbit yang sama tepat bersebelahan dan tidak saling bertubrukan. Kondisi ini mengakibatkan orang-orang di planet "bawah" dapat melihat dengan jelas planet "atas" namun dengan jarak yang cukup signifikan. Dengan masing-masing planet memiliki gravitasinya sendiri, dan hukum gravitasi benda-benda akan patuh pada gravitasi planet asal, menjadi halangan besar bagi kisah romansa Adam dan Eden. Namun layaknya kisah cinta tragedi lainnya, tidak ada yang dapat menghalangi percintaan mereka, bahkan hukum alam sekalipun.
Film panjang kedua dari sutradara dan penulis naskah asal Argentina, Juan Solanas, ini memang menawarkan unsur baru dalam genre film romansa. Hal baru ini memang terkesan konyol dan menggelikan, apalagi jika ditinjau dari hukum alam semesta. Namun memang Mr. Solanas hendak mengeksplorasi imajinasinya semaksimal mungkin, dengan membawa kisah romansa tragedi ke level yang baru dan berbeda. Plot tentang dua planet yang mengitari orbit dengan beriringan dengan jarak yang cukup dekat adalah ide gila dan terlalu imajinatif. Tetapi Mr. Solanas tampak berhasil mengeksekusi ide tersebut dengan baik lewat visual efek yang mengagumkan, serta efek praktis yang mengharuskan Jim Sturgess berakting dengan posisi terbalik. Selain itu, unsur isu sosial pun dimasukkan ke dalam film ini. Planet "up-top" yang kapitalis dan penuh dengan orang-orang kaya dan planet "down-below" yang miskin. Perbedaan kelas sosial dan ekonomi ini pun diperjelas dengan tone warna yang digunakan, dengan tone warna kusam dalam adegan-adegan berlatar planet "down-below" dan tone warna terang dan cerah dalam planet "up-top".
.jpg)
"Seorang ibu ingin mendapatkan kembali hak asuh atas anaknya dengan menceritakan sebuah cerita kepada dinas sosial, dimana realita dan imajinasi bercampur aduk dalam cerita tersebut"
Untuk mendapatkan kembali hak asuh atas anak perempuannya, Mona harus menceritakan alasan mengapa dirinya menghilang selama beberapa bulan kepada seorang pekerja sosial. Kisah yang ia ceritakan kepada si pekerja sosial, adalah sebuah cerita yang penuh dengan petualangan dan terkesan terlalu fantastis. Mungkin saja cerita tersebut adalah cara coping Mona untuk menghadapi rasa sakit dan trauna yang dialaminya, untuk kemudian dapat kembali berhubungan dengan realitas yang ada.
Ditinggal begitu saja oleh seorang laki-laki setelah menghamili dirinya, Mona perlu berjuang lebih keras untuk menghidupi dirinya sendiri dan juga anak perempuannya. Demi mendapatkan penghasilan tambahan, Mona nekat meninggalkan Hungaria untuk menuju Inggris atas tawaran seseorang yang misterius. Ternyata Mona dijual ke sebuah rumah bordil di Liverpool, dimana fantasi seksual segila apapun yang dimiliki oleh para kliennya dapat dipenuhi disini.
Empire Me adalah sebuah film dokumenter yang melakukan pencarian terhadap fenomena micronation yang terjadi di beberapa tempat di berbagai belahan dunia. Kelompok-kelompok manusia ini bergabung dan membentuk sebuah "negara do-it-yourself" yang menjaga jarak dari politik dan ekonomi dunia yang mengglobal. Mereka membuat peraturan mereka sendiri, memberi gelar raja bagi pendirinya, bahkan membuat cap visa sendiri. Dokumenter ini merupakan sebuah road movie yang menangkap gambaran generasi-generasi "unplugged" yang mendefinisikan ulang arti kebebasan dan kemerdekaan. Lebih jauh lagi, sutradara Paul Poet berhasil menangkap bagaimana mereka menyadari imajinasi dan fantasi eskapis mereka untuk kemudian menghadapi tekanan kenyataan yang terjadi di sekitar mereka.
Menariknya film dokumenter ini adalah ide yang disajikan, sekaligus berhasil ditangkap secara deskriptif. Dokumenter ini benar-benar memaksimalkan tujuannya untuk memberikan pengetahuan kepada para penontonnya. Melihat gambaran dari fenomena ini jadi menarik jika memahami latar belakang mengapa orang-orang ini memutuskan untuk mendirikan negara, atau bahkan kerajaan sendiri. Dikemas dengan tutur cerita dan gaya editing yang menarik, membuat dokumenter ini enak ditonton dari awal hingga akhir.
baca selengkapnya...




