Postingan

Latest Review

Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas - Review

Gambar
Bajingan! Memang bajingan film ini, bajingan vulgarnya, bajingan juga bagusnya! Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas benar-benar jadi standar baru perfilman Indonesia di segala segi. Sangat well-made dan terasa bahwa film ini dibuat dengan hati. Sebuah kapsul waktu dan pengingat miris tentang kondisi sosio-politik yang memengaruhi rakyat kecil bahwa kekerasan dan maskulinitas adalah token yang berlaku di jalanan. Pertama-tama, film ini memberikan hiburan mata yang maksimal. Dunia tahun 1989-1990an sangat terpercaya berkat kombinasi brilian dari gambar hasil dari kamera seluloid, desain latar yang detil, kostum retro, sampai bahasa tubuh dan dialog para pemainnya. Nggak sulit untuk menyelami world building yang digambarkan Edwin x Eka Kurniawan dalam film ini, dan jadi pintu masuk yang nyaman untuk turut menyelami setiap karakter dan ceritanya. Dengan menggandeng penulis bukunya sendiri untuk turut menggarap naskah, rasanya aman bahwa alihwahana dari buku berjudul sama ke film a

Ghostbusters: Afterlife - Review

Gambar
Ghostbusters: Afterlife ini adalah sekuel langsung dari Ghostbusters (1984) dan Ghostbusters II (1989). Jadi lupakan Ghostbusters versi gender-swapped tahun 2016 karena itu termasuk proyek gagal dan nggak dilanjutin lagi. Nah menurut gue, Afterlife ini cukup sukses untuk membangkitkan kembali franchise Ghostbusters yang udah terpendam lama di library-nya Sony. Benar-benar belajar dari kesalahan versi 2016, bahwa franchise ini tujuannya untuk fans service dan bukan reboot ulang. Jadi bisa dibilang Ghostbusters: Afterlife adalah film yang maksimal di fans service seakan-akan seluruh durasi 124 menit ini hanya untuk fans aja gitu. Tapi nggak juga sih, buat yang nggak nonton dwilogi Ghostbusters tahun 80-an menurut gue akan bisa menikmati film ini dengan baik tanpa roaming. Sepanjang film penonton memang diperlakukan sebagai orang-orang yang nggak tahu sebelumnya siapa itu tim Ghostbusters, sampai harus diperkenalkan lewat iklan jadul "who's you're gonna call" utnuk t

Encanto - Review

Gambar
Gue nggak siap-siap tisu pula, mana expect sih kalau ternyata Encanto punya ending yang bikin banjir air mata. Parah! Terlihat dari trailernya, Encanto ini emang film animasi yang punya tema keluarga yang sangat kuat. Secara khusus keluarga multigenerasi di Kolombia yang - sama seperti di Indonesia - punya konsep nuclear family di mana keluarga tiga generasi tinggal di dalam satu rumah yang sama. Ada nama Lin-Manuel Miranda sebagai pencipta lagu-lagu yang ada di film ini, tapi kali ini nggak sebagai penulis naskah dan sutradara. Jadi lagu-lagunya sangat khas dengan melodi yang menghentak dan lirik yang to the point tapi kena banget. Selain hiburan telinga, Encanto juga hiburan mata yang maksimal. Di sini keliatan banget sih Disney lagi pamer habis-habisan teknologi animasi terbaru mereka. Detil rambut keriting sampai dengan jahitan benang di bordiran baju bisa keliatan dengan jelas! Hal yang gue suka banget dari Encanto adalah nggak ada keluarga yang sempurna, hal yang gue rasa sanga

Tick Tick Boom - Netflix Review

Gambar
Tick Tick Boom adalah film adaptasi dari teater musikal Broadway berjudul sama, yang ditulis dan disutradarai oleh Jonathan Larsson. Kisahnya sendiri sangat unik buat jadi teater musikal dan film adaptasi; semi-biografi tentang bagaimana Jonathan Larson mencoba menulis dan menyutradarai musikal pertamanya sebelum dia berusia 30 tahun. Bintang utamanya jelas Andrew Garfield, yang menurut gue ini adalah penampilan terbaik dia. Bukan cuma ngebawain semua nyanyian lengkap dengan koreografinya, tapi bisa ngasih emotion range yang luar biasa meyakinkan. Ya setiap kali dia nyanyi sih gue lumayan syok ya karena suaranya bagus bener. Eh tapi kok Vanessa Hudgens cuma dapet porsi segitu doang ya, makin ke sini kok karir filmnya makin kecil porsinya.  Siapa lagi orang yang paling cocok untuk menyutradarai film adaptasi dari musikal Broadway kalau bukan sang maestro Lin Manuel Miranda. Tapi ya tugas dia kali ini hanya untuk sebatas menyutradarai dan mengalihwahanakan saja, bukan menulis naskah bah

Losmen Bu Broto - Review

Gambar
Gue suka banget sama Losmen Bu Broto! Ciamik mantap di berbagai segi. Akibatnya signifikan banget ngaduk-aduk emosi gue sepanjang film. Beneran usaha banget buat nahan air mata, apalagi sampai akhir film yang langsung berasa hangat di dada. Losmen Bu Broto ini menurut gue adalah film keluarga yang kalau ditonton langsung berada ada di rumah dengan segala kehangatan, lengkap dengan hal-hal yang emosional. Pertama-tama skripnya solid banget. Nggak salah deh ngasih update dan adaptasi film panjang dari serial TVRI tahun 1980-an ini. Naskah karya Alim Sudio ini benar-benar bisa membawakan semua permasalahan setiap karakter dengan sama rata dan tidak ada menonjol. Karakternya banyak padahal tapi kita bisa kenal dekat dengan setiap karakter mulai dari Bu Broto dan Pak Broto sampai ke tiga anaknya Pur, Sri, dan Tarjo. Okelah mungkin Tarjo yang agak tenggelam dan sia-sialah talenta Baskara Mahendra. Tapi drama masing-masing Pur dan Sri jelas jadi nyawa paling menyala, dan membawa film ini ke r