Posts

Latest Review

Rig 45 - Series Review

Image
Hal paling buruk apa yang bisa terjadi di pengeboran minyak bumi lepas pantai selain hujan badai dan putus komunikasi? Kecelakaan kerja yang mengakibatkan luka bahkan kematian? Atau adanya pembunuh berdarah dingin yang ingin menyabotase segala macam kegiatan pengeboran? Kurang lebih ini adalah premis yang diangkat oleh serial asal Swedia, Rig 45 , yang setelah kesuksesannya dengan Season 1 di tahun 2018 kemarin baru saja merilis Season 2 di tahun 2020 ini. Andrea seorang ibu dua orang anak dan istri dari suami yang selalu rela istrinya pergi berhari-hari meninggalkan rumah demi pekerjaannya, dikirim oleh kantor pusat Benthos Oil ke Rig 45. Andrea yang bekerja sebagai seorang damage regulator ditugaskan untuk menyelidiki kecelakaan kerja yang fatal dan memakan nyawa seorang pekerja di sana. Namun kehadiran Andrea di sana ternyata ditolak oleh beberapa kru. Bahkan investigasinya sempat disabotase oleh seseorang yang misterius. Kejadian demi kejadian aneh pun hilir mudik berganti yang ti

Mother - Netflix Review

Image
Gue inget di periode akhir 2019 kita diberkahi oleh dua film tentang ibu dari Barat dan Timur; Tully dan Kim Ji-Young 2918 yang dua-duanya gue puja mati-matian. Kini di periode yang sama di tahun 2020 yang penuh musibah ini, lagi-lagi kita diberkahi dengan dua film tentang ibu dari barat dan timur. Tapi! Di spektrum yang kebalikannya - in a good way of course; Hillbilly Elegy dan Mother. Iya, dua film tersebut sama-sama menceritakan tentang ibu yang toxic dan dampak psikologis pada anaknya. Tapi sori banget nih buat Ron Howard, Glenn Close, Amy Adams, dan Freide Pinto. Kalian harus memberi jalan pada film karya sutradara dan penulis naskah Tatsushi Ohmori ini, yang bersinar jauh lebih gelap dan kelam ketimbang nama-nama besar yang digadang-gadang masuk nominasi Oscar itu. Mother ini dark banget dan lebih pahit daripada Shoplifters-nya Hirokazu Koreeda. Selesai nonton berhasil membuat mood riang gembira gue jadi kacau dan super kalut karena ultra gemes dengan apa yang terjadi di layar.

Hillbilly Elegy - Netflix Review

Image
Nggak munafik; Amy Adams + Glenn Close + Ron Howard yang bikin gue tertarik nonton film yang berdasarkan novel autobiografi ini. Hillbilly Elegy tergolong film "susah" buat ditonton sih, bukan cuma karena tentang drama keluarga working class di US yang kurang related sama kita penonton Indonesia. Tetapi juga karena karakter ibu (dan nenek) yang sama sekali nggak bikin gue simpatik.  Bisa dibilang, ini termasuk gambaran keluarga yang toxic sih - terutama dari ibu yang menurun dari sang nenek. Kekerasan verbal, kekerasan fisik, gaslighting, sampai drug abuse jadi lingkaran setan di keluarga ini. Tapi dilema sang anak adalah betapa jahatnya ibu kandung, dia tetap ibunya sendiri. Yaaa kalau ada pesan makna yang bisa gue ambil, meski turunan dan kebiasaan, pilihan mau jadi orang seperti apa ada di tangan kita sendiri. ---------------------------------------------------------- review film hillbilly elegy review hillbilly elegy hillbilly elegy movie review hillbilly eleg

Younger - Series Review

Image
Bagaimana rasanya jika kamu yang sudah berusia empat puluh tahun kemudian mengaku umur dua puluh lima? Mungkin hal itu cukup wajar dan banyak dilakukan oleh orang-orang di sekitar kita. Tapi bagaimana jika pengakuan itu malah dipercaya oleh orang lain, dan kamu jadi bisa dapat pekerjaan yang ada batas usianya? Ditambah lagi jika kamu berkenalan dengan lawan jenis di tempat umum, dan dia percaya dengan tipuan umurmu? Untuk kemudian malah hubungannya berlanjut menjadi sedikit serius? Wah hal ini menarik untuk di eksplorasi ya! Kurang lebih itu adalah premis awal dari series Younger , yang dibintangi oleh Sutton Foster dan Hilary Duff. Film yang diadaptasi dari novel berjudul sama karangan Pamela Redmond Satran ini fokus pada karakter ibu berumur 40, Liza Miller, yang awalnya berbohong soal usianya demi mendapatkan pekerjaan impiannya di penerbit buku. Pekerjaan tersebut memang dia dapatkan, dan lucunya malah dirinya bisa memberikan performa jauh lebih baik dari rekan-rekan kerja “seumura

The Life Ahead - Netflix Review

Image
Nonton ini membuat gue teringat masa-masa gue maraton film di Europe on Screen. Kalau nonton ramai-ramai di satu tempat itu kan enak ya minim distraksi dan bisa tetap fokus ke layar. Lha ini nonton di rumah dengan smartphone dalam jangkauan tangan, belum lagi kalau truk sampah lewat depan rumah. Ditambah filmnya model sunyi dan minim dialog seperti ini. Jujur gue sih cukup sulit untuk bisa tetap fokus terhadap apa yang sedang terjadi di layar. Padahal ceritanya lumayan menarik untuk diikuti, tentang persahabatan dan hubungan yang unik antara dua manusia yang sama-sama memiliki luka masa lalu. Ditambah lagi diperankan dengan sangat apik di masing-masing karakter utama. Dihiasi dengan keindahan kota Italia yang eksotis. Menonton ini setelah sekian lama binge watching The Crown seperti menyadarkan gue bahwa Eropa tidak serta merta gemerlap istana dan diisi orang-orang privilese. ---------------------------------------------------------- review film the life ahead review the li

Peninsula - Review

Image
Delapan bulan terakhir ini kalo nonton film cuma di rumah pakai layar tv dan speaker di depan. Akhirnya balik nonton di bioskop and men... ....beneran ga ada yang ngalahin sensasinya bioskop. Ya entah gue norak atau gimana ya. Tapi denger speaker kiri kanan dan belakang itu beneran bikin tambah tense. Nonton Peninsula, berasa dikelilingi zombie beneran! Iya gue berhasil nahan diri ga nonton Peninsula donlotan di 3 bulan terakhir. Nonton legal aja ya gaes, bantu para pekerja bioskop yang udah pada happy bisa kerja lagi dan menemukan makna hidup kembali. Filmnya sendiri gue suka kok! Nggak sejelek yang dibilang orang-orang. Trus come oooon cuma masalah CGI langsung dicap jelek gitu ya gak lah. Buat gue sih maklum aja soal CGI, karena ceritanya sendiri cukup believable di kategori zombie apocalypse. Mirip banget sama 28 Days Later karena ada unsur militernya, dan cukup meyakinkan.  Keluhan gue cuma drama khas Korea pake acara slow-mo itu aja sih, yang kalau itu dihilangin pasti akan lebih

Greyhound - Review

Image
Kalau bukan Tom Hanks, gue kayaknya ga tertarik nonton film ini. Film tentang perang antara kapal laut kayaknya masih lebih seru Master & Commander atau sekalian POTC. Sementara Greyhound ini kayaknya untuk memuaskan hasrat pecinta kapal perang di era WWII aja deh, dengan detil kapal perang dan U-Boat yang konon cukup akurat. Meski nama kapal Greyhound sendiri fiksi, alias buatan pengarang novel C.S. Forester. Ceritanya memang menegangkan dan seru terus-terusan, dan hanya dikasih nafas beberapa kali dan sebentar saja. Tapi apa mungkin ketegangannya jadi berkurang drastis karena gue tonton di TV saja ya? Pasti kalau ditonton di bioskop akan berkali lipat lebih seru karena layarnya yang besar dan audio yang surround. Ya kisahnya memang simpel dan to the point, tapi kesannya jadi repetitif karena mereka terus-terusan diserang oleh U-Boat yang berburu layaknya kawanan serigala.  Kalau soal Tom Hanks di atas kapal, masih jauh lebih seru Captain Phillips (2013).  -------------

Teen Spirit - Review

Image
Nonton Teen Spirit ini atmosfer warnanya kaya berasa lagi nonton Neon Demon-nya (2016) Nicholas Winding Refn, karena sama-sama Elle Fanning yang main. Enak banget sih nontonnya karena lagu-lagu yang dipakai itu populer semua, nggak kebayang berapa duit budgetnya habis untuk bayar semua lisensinya. Ceritanya sendiri standar kisah from-zero-to-hero yang kita semua udah tahu dan bisa tebak. Ditambah dengan mentor orang tua ala Mr. Shaibel-nya The Queen's Gambit, yang sebenarnya jalan ceritanya juga mirip-mirip meski beda bidang. Satu yang hal yang gue rasa kurang pas adalah di bagian nyanyi. Iya menurut gue kok suaranya Elle Fanning biasa banget ya, beda jauh sama suara kompetitornya si Roxy yang kelihatan lebih ada khas dan berkarakter. Padahal di tipikal film musikal kaya gini, harusnya yang ditonjolkan adalah bakatnya - which is suara.  Ngerti sih sutradara dan penulis naskah debutan Max Minghella mau nonjolin bakat aktingnya Elle Fanning, yang memang tampil sangat baik dengan kara

On the Rocks - Apple TV+ Review

Image
Sebagai seorang yang selalu menonton film-filmnya Sofia Coppola, rasanya ini adalah film yang paling gue nggak suka - karena terlalu biasa. Iya, kalau On the Rocks tidak ditulis dan disutradarai oleh Sofia Coppola mungkin gue akan lebih bisa memaklumi ya.  Tapi berhubung biasanya karya-karya beliau selalu bertemakan keterisolasian - dan konsisten kecuali film terbaru ini - maka rasa kekecewaan gue menjadi berkali lipat. Kenyataan bahwa film ini diproduksi oleh A24 juga tidak menyelamatkan kualitasnya. Ya maklum saja pasti orang-orang A24 juga memberikan kebebasan berekspresi bagi nama besar Sofia Coppola. Menurut gue, kalau nggak ada Bill Murray rasanya sulit orang mau tertarik nonton film ini. Memang benar, sepanjang film hanyalah seorang Bill Murray yang mampu membawa film menjadi menarik apalagi kalau bukan karena gayanya yang komedik dan komikal. Ceritanya sendiri "terlalu biasa" dengan kecurigaan sang istri bahwa si suami selingkuh, dengan campur tangan ayahnya maka mere

Story of Kale: When Someone's In Love - Review

Image
Berhubung Story of Kale ini malah rame ngomongin bajak-bajakan dan kale dan argo ngeselin, ada satu poin penting yang sayang malah tenggelam gak diomongin; kombinasi maut physical and verbal abuse + gaslighting + passive aggresive jadilah toxic relationship. Gue sih seneng ya selain Posesif, ada film lokal lagi yang ngebahas soal toxic relationship. Apalagi kali ini direpresentasikan lewat dua karakter di sekitar si cewe. Ya harusnya judulnya Story of Dinda kali ya, tapi ya udahlah. Lagipula jarang-jarang kan film Indonesia ngebahas break up story, biar nggak kalah sama Hollywood gitu yang udah punya Blue Valentine dan kawan-kawannya. Durasi 77 menit lumayan cukup panjang lah ya buat ngelihat dua orang berantem semalaman, sambil flashback gimana mereka bisa jadian dulu. Apalagi ngeliat dua karakter nyebelin, yang satu karakter utama pula, yang bukan antihero malah jadi antagonis di sini. Ngerti sih ini kaya mau ngasih liat sudut pandang lain dari seorang Kale yang keliatan bijak banget