08 March 2011
2 kritik

The Adjustment Bureau

6:34 AM
Sobekan tiket bioskop tertanggal 6 Maret 2011 adalah The Adjustment Bureau. Film ketiga yang dibintangi oleh Matt Damon di tahun 2011 ini sulit untuk gue lewatkan karena gue sangat tertarik dengan ide cerita yang ditawarkan. Tidak saja ide cerita yang unik dan menarik, tapi karena kehadiran Emily Blunt yang selalu membuat gue klepek-klepek *halah*.

Hampir memenangkan kursi sebagai senator, politisi David Norris (Damon) bertemu dengan gadis balerina cantik, Elise (Blunt). Namun ketika David menyadari bahwa pikiran dan perasaannya tidak pernah lepas dari Elise, sekelompok orang berjas mulai mencoba untuk memisahkan mereka berdua. Ternyata, David berhadapan dengan "The Adjusment Bureau", agen-agen takdir yang akan melakukan apa saja dengan kekuatan mereka untuk memastikan seseorang menjalani rencana yang telah ditentukan. Sayangnya, dalam rencana takdir dari David, dia tidak seharusnya bertemu dan menjalin hubungan dengan Elise. Dihadapkan pada situasi sulit tersebut, David harus memilih apakah harus melepaskan Elise demi menjalani takdir yang telah dituliskan atau melawan takdir untuk dapat bersama cintanya.

Benar saja dugaan gue, debat lama "free will vs fate" ini selalu menarik untuk diangkat ke layar lebar. Kisah romansa yang didukung oleh takdir bahwa mereka akan bersama mungkin cukup sering diangkat, salah satunya contohnya adalah A Lot Like Love. Namun seorang pria dan wanita yang tidak ditakdirkan untuk bertemu dan memiliki hubungan, ternyata berjalan tidak sesuai "rencana yang telah dituliskan" dan mati-matian membela cinta mereka demi free will? Menonton film ini seakan campuran antara Serendipity, Minority Report, dan Enemy of the States. Betul, kisah romansa yang diberi bumbu action-thriller untuk memberi penekanan tersendiri pada hubungan cinta David dengan Elise. Yang menjadi menarik (dan menurut gue kocak) adalah bagaimana si agen-agen takdir ini berusaha sedemikian rupa agar David dan Elise tidak bertemu lagi satu sama lain, bahkan hanya untuk sekedar ciuman.

Cerita ini diadaptasi dari cerita pendek karya Philip K. Dick, yang juga menulis Blade Runner, Minority Report, dan Total Recall. Dari melihat karya-karyanya, maka engga heran Philip dapat menulis ide cerita agen-agen takdir ini. Setelah nonton film ini pun, gue bergegas mencari di dunia maya untuk membaca cerita pendek aslinya yang berjudul The Adjustment Team. Menurut gue, George Nolfi yang mengadaptasi dan menulis naskah untuk film ini telah melakukan pekerjaan yang luar biasa. Bukan berarti cerita pendek aslinya tidak baik, hanya saja si penulis naskah Ocean's Twelve dan The Bourne Ultimatum ini menambahkan plot jalan cerita yang cukup signifikan, walaupun tidak melupakan premis dasarnya. Penambahan unsur romansa pun menurut gue adalah contoh kasus yang paling pas dan menyentuh dalam konteks pertentangan antara free will vs fate.
gambar diambil dari sini
Sayang, George Nolfi yang menjadikan film ini sebagai debut pertamanya sebagai sutradara, kurang dapat mengeksekusi film dengan baik. Jalan dan pembawaan cerita yang telah dibangun dengan baik dari awal sampai tiga perempat film, George terkesan terburu-buru dan kehabisan langkah untuk mengakhiri filmnya. Jujur, gue sangat menikmati "debat" antara kemauan bebas dengan takdir dalam film ini, khususnya di awal-awal film. Menurut gue, itu adalah salah satu hal baru yang cukup menambah referensi filosofis hidup gue. Pembawaan kisah romansa antara David dengan Elise juga dieksekusi dengan baik. Namun ketika sampai pada sesi aksi, George seakan terlihat kelimpungan sehingga adegan yang seharusnya menjadi klimaks tersebut menjadi kurang menggigit. Walaupun materi anti-klimaksnya juga menarik, tapi rasanya adegan tersebut dapat dieksplor lebih jauh.

Gue sangat suka dengan chemistry antara Matt Damon dengan Emily Blunt. Di dunia nyata, mereka berdua memang sudah menikah dengan pasangan masing-masing, bahkan Damon telah memiliki tiga anak. Namun dalam film ini, setiap kali krakter David dengan Elise saling berinteraksi, gue sangat bisa merasakan aura ketertarikan antara mereka berdua. Cukup sering gue menemukan diri gue yang senyum-senyum sampai geli sendiri oleh tingkah polah masing-masing dari mereka. Curhat dikit yah dari gue, Emily Blunt benar-benar tampil gorgeous dalam film ini. Setiap kostum yang dia pakai, cara bercanda dia, sampai british accent dia yang seksi. Aduh biyung, repot dah dunia persilatan!
gambar diambil dari sini
Para pemain yang memerankan si agen-agen takdir ini juga patut diberi perhatian. John Slattery dan Terence Stamp yang menjadi dua agen senior yang ngotot agar David Norris mengikuti rencana yang sudah ditulis, tampil baik dan sukses membuat penonton sebal. Namun gue ingin memberi kredit pada Anthony Mackie sebagai salah satu agen, memang bukan penampilan terbaik dia tapi terasa dapat mengimbangi kualitas Matt Damon dan Emily Blunt. Setelah selesai nonton pun baru sadar bahwa ia juga bermain di The Hurt Locker, pantes selama nonton kok familiar ya orang ini.

Menarik melihat argumen-argumen yang dilontarkan oleh agen-agen dan David Norris dalam pandangan mereka mengenai takdir dan nasib. Argumen-argumen yang dikeluarkan oleh David Norris juga tidak kalah menarik, namun karena karakter David dibuat seolah-olah mewakili pandangan penonton dan orang-orang kebanyakan jadi seakan terdengar familiar. Sedangkan agen-agen ini memberikan pandangan seolah-olah mengisi celah kehidupan yang sebelum ini tidak pernah kita (manusia) pertanyakan sebelumnya. Kehidupan adalah serangkaian kejadian yang saling melengkapi. Dalam Butterfly Effect, kita belajar bahwa satu kejadian kecil dapat mempengaruhi serentetan kejadian yang akan terjadi di masa mendatang. Setiap kejadian yang terjadi dalam satu kurun waktu adalah sebuah mata rantai yang saling berkesinambungan. Cerita dalam film ini benar-benar menggambarkan pepatah lama "everything happens for a reason" dengan cara yang tajam. Kopi yang tidak sengaja tumpah pada kemeja sehingga membuat anda terlambat kerja, ban motor yang tiba-tiba bocor, atau tersandung batu di tengah jalan, siapa tahu bahwa ternyata hal-hal ini adalah kerjaan dari agen-agen takdir yang melakukan penyesuaian/intervensi agar kita tetap bisa mengikuti rencana takdir yang ada.

Namun di sisi lain, dengan "tujuan hidup" yang telah ditetapkan, apa yang akan terjadi jika kita memutuskan untuk melakukan detour? Dengan resiko tidak dapat mencapai tujuan tersebut, worth it kah resiko yang diambil untuk melakukan detour tersebut dan melawan takdir yang telah dituliskan? Apakah manusia memang layak memiliki suatu anugrah yang dinamakan free will? Anda sendiri sebagai manusia, jalan hidup mana yang lebih baik anda pilih untuk dijalani; tenang dan aman untuk hidup sesuai rencana yang telah digariskan, atau pontang-panting memutuskan sendiri jalan hidup anda agar penuh dengan kejutan? Dengan caranya sendiri, film ini mencoba memberi sedikit gambaran, bukan jawaban jelas, mengenai pertanyaan-pertanyaan tersebut.



Rating?
7 dari 10


BONUS: Baca cerita pendeknya Philip K. Dick - The Adjustment Team disini.

2 kritik:

  1. ini memang film bagus bgt..walau baru download film nya

    ReplyDelete
  2. Baru nonton skrg..ada yg review bilang film ini jelek..ada yg biasa2 aja..tapi buat gua..bener2 superbly menghibur..bersama deathly hallow n first class adalah film yg sangat menghibur gua di 2011

    ReplyDelete

 
Toggle Footer
Top