02 March 2011
0 kritik

Animal Kingdom

1:06 AM
Sobekan tiket bioskop tertanggal 1 Maret 2011 adalah Animal Kingdom. Gue tahu tentang film ini sudah cukup lama, bahkan sempat masuk dalam line-up Glasgow Film Festival bulan lalu. Namun niat gue untuk menonton film ini terangkat karena baru sadar bahwa salah satu nominasi Aktris Pendukung Terbaik Oscar 2011 ternyata bermain dalam film ini, Jacki Weaver. Apalagi film ini dapat menambah referensi film-film gue asal Australia.

Joshua "J" Cody yang menyaksikan ibunya meninggal karena overdosis heroin, mau tidak mau tinggal bersama satu-satunya relatif keluarganya yaitu neneknya, Janine "Smurf" Cody. Smurf tinggal bersama ketiga anak laki-lakinya yang ternyata terlibat dalam perampokan bersenjata dan jual-beli obat bius. Dengan polisi yang terus menerus mengejar mereka, J pun terjebak diantara perseteruan dua kubu. Disaat hanya tersisa dua pilihan; membantu polisi atau membantu keluarganya sendiri, J mengambil tindakan yang tidak disangka-sangka.

Tadinya niatan gue hanya sebagai mengobati rasa penasaran tentang aktinya Jacki Weaver yang sampai bisa masuk nominasi Oscar. Tapi ternyata gue cukup menikmati film ini. Setengah film pertama memang terasa membosankan dan membuat gue menguap beberapa kali. Sampai di seperempat terakhir film pun, dalam kepala gue sudah menurunkan nilai film ini beberapa poin karena jalan cerita yang tidak menawarkan hal baru. Tapi lima menit terakhir dalam film ini mengubah penilaian gue akan keseluruhan film ini. Ending tersebut mampu membuat mulut gue menganga sampai beberapa detik, dan langsung membuat gue menaikkan film ini beberapa poin. Sekeluarnya gue dari bioskop, gue masih tidak percaya betapa briliannya ending tersebut. Setelah gue selesai dari toilet, gue pun mendapatkan insight bahwa ending tersebut benar-benar menjadi kunci dalam penjelasan dari keseluruhan jalan cerita.

Tema cerita tentang keluarga yang menjadi geng kriminal memang bukan lagu baru di dunia perfilman. Namun ide cerita film ini ternyata terinspirasi dari kejadian nyata yang terjadi di Melbourne pada tahun 1980-an. Salah satu kekuatan geng kriminal yang dihubungkan dengan darah keluarga adalah mereka saling setia dan melindungi satu sama lain. Namun di sisi lain, mereka memiliki isu dengan skill dan "profesionalitas". Terkadang, hubungan keluarga tersebut juga menjadi penghalang dalam menjalankan aksi tertentu. Film ini menggambarkan hal tersebut dengan cukup apik, ditambahkan beberapa sub-plot yang turut memanaskan suasana.
gambar diambil dari sini
Gue suka bagaimana David Michod mengarahkan film yang menjadi debut film panjang sebagai sutradara, yang juga menulis naskah dalam film ini. Jalan cerita dibawakan dengan aura yang suram. Didukung oleh score yang menyayat dan menambah tensi pada setiap adegan. Pilihan tone warna yang kelam pun semakin membuat film ini menjadi lebih mengerikan dari apa yang terlihat di mata. Yang paling gue suka adalah bagaimana diselipkannya lagu I'm All Out of Love-nya Air Supply, yang malah membuat film ini menjadi semakin ironis dan menakutkan.

Gatal rasanya kalau tidak membahas Jacki Weaver, penampilan beliau dalam film ini benar-benar...menakutkan! Layaknya melihat sosok Dr. Hannibal Lecter dalam sosok perempuan. Berumur, memiliki kasih sayang yang banyak terhadap anak-anaknya, namun cerdas dan manipulatif. Memang Smurf tidak melakukan kekerasan fisik, tapi apa yang ada dibalik sorotan matanya, dibalik senyum hangatnya, dan didalam pikirannya lah yang menakutkan. Jangankan gue, ketiga anaknya yang kriminal dan tidak takut dengan polisi saja tunduk dan menaruh hormat dengan ibu mereka. Setiap Jacki Weaver muncul di layar, gue merasa suasana film menjadi berubah dan penuh tensi. Ini kali pertama gue melihat beliau akting di layar lebar, dan gue akan menunggu film-film berikutnya yang akan beliau bintangi.
gambar diambil dari sini
James Frecheville yang berperan sebagai J tampak tidak terlalu berusaha banyak dalam menghidupkan karakter J. Walaupun membawakan karakter yang kaku dan tidak bicara, James tampil cukup meyakinkan mengingat ini adalah film kedua dalam karir dia. Bagi gue yang cepat bosan dengan tipikal karakter J, cukup terhibur dengan penampilan paman-pamannya yang begajulan dan sangar. Belum lagi ada Guy Pearce yang memerankan detektif yang mengejar-ngejar keluarga Cody.

Gue sangat tertarik dengan pilihan judul untuk film ini, dan juga teaser posternya yang "menakutkan". Betul saja, judul film ini sangat menggambarkan mengenai apa yang terjadi dalam cerita film ini. Setelah selesai menonton, gue setuju bahwa judul film ini tidak saja merujuk pada keluarga Cody tapi juga pada orang-orang di sekitarnya. Mengerikannya, jika telah buta pada materi dan keselamatan diri maka manusia pun bisa "memakan" sesamanya - walaupun disatukan dalam hubungan darah.

Rating?
8 dari 10

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top