07 February 2011
0 kritik

Rabbit Hole

7:00 AM
Sobekan tiket bioskop tertanggal 6 Februari 2011 adalah Rabbit Hole. Begitu melihat trailernya pertama kali, film ini langsung masuk dalam daftar playlist gue. Namun dengan premis yang ditawarkan, gue sadar bahwa gue harus menunggu mood yang tepat agar gue siap menyelami atmosfer film ini. Film ini pun melengkapi minggu pertama Februari gue sebagai film ketiga yang bercerita seputar kematian yang gue tonton dalam kurun waktu satu minggu.

Becca dan Howie Corbett (Nicole Kidman dan Aaron Eckhart) adalah pasangan suami istri yang hidup sempurnanya dijungkir-balikkan oleh kehilangan atas anak 4 tahun mereka. Dengan kepedihan yang amat sangat yang ditanggung, masing-masing Becca dan Howie mencoba menggapai pegangan hidup untuk tetap bisa berdiri tegak, kepada siapapun orang-orang di sekitarnya. Pengalaman mereka mencari konsolidasi dengan orang-orang sekitar membawa mereka perlahan namun pasti untuk menemukan kembali arti hidup mereka.

Menurut gue, nonton film ini lebih asyik dan enak kalau tidak membaca sinopsisnya secara detil terlebih dahulu. Maka dari itu gue membuat sinopsis di atas se-general mungkin, walaupun menurut gue "kehilangan anak yang masih berumur 4 tahun" juga telah mengikis keasyikan tersendiri dalam menikmati film ini. Film ini adalah tipikal film-film dimana para penonton merasakan serunya untuk merangkai puzzle besar dari potongan-potongan dialog, ekspresi, gerak tubuh, dan kejadian yang ada di layar untuk menjawab apa yang terjadi pada sepasang suami istri ini. Walaupun penceritaan di layar tidak memberikan kata yang jelas, namun entah kenapa mata gue seakan tersihir untuk terus mengikuti jalan cerita untuk kemudian memungut satu persatu potongan-potongan puzzle yang tersebar. Film ini juga diakhiri dengan adegan yang menurut gue pun apa yang terjadi selanjutnya pada pasangan ini dapat terbersit oleh gerakan kecil yang mereka lakukan di adegan tersebut. Dengan jalan cerita seperti itu, ending film ini terbilang cukup fair.

Cerita yang diadaptasi dari drama panggung berjudul sama yang ditulis oleh David Lindsay-Abaire ini secara khusus diminta oleh Nicole Kidman untuk ditranslansikan ke dalam bentuk film layar lebar. Film ini menjadi film pertama bagi Nicole Kidman dimana dia berperan sebagai produser dan juga sebagai pemeran utama. Layaknya film-film lain yang diadaptasi dari drama panggung, menonton film ini seakan menonton kumpulan adegan-adegan random yang saling berhubungan satu sama lain untuk kemudian dirangkai menjadi satu kesatuan cerita yang utuh.
gambar diambil dari sini
Untuk menggambarkan sepasang suami istri yang sedang berduka karena kehilangan anaknya beberapa bulan yang lalu, ternyata tidak perlu digambarkan dengan atmosfer yang melulu suram dan kelam. Untuk apa mendramatisir suasana jika dialog-dialog dalam film ini sudah cukup terbilang depresif, dan bahkan sinis. Memang benar, kekuatan utama film ini adalah deretan dialog-dialog yang mengalir dari setiap karakternya, yang tentunya didukung oleh akting yang kuat dari setiap pemerannya. Setiap celetukan kecil yang terlihat tidak penting sebenarnya malah menyiratkan suatu rasa, khususnya yang keluar dari Becca yang karakternya hobi untuk mengomentari segala hal. Entah kenapa gue cukup suka dengan komentar-komentar (sinis) dari Becca, dimana pertama kali kita cukup terkejut hingga akhir film gue dibuat terbiasa oleh komentar-komentar dia. Menurut gue, hal tersebut menandakan bahwa gue sebagai penonton yang hanya duduk di bangku bioskop sanggup mengenal Becca lebih dekat seakan-akan dia adalah tetangga sebelah rumah gue.
If He needs another angel, why didn't He just make another one? He's God after all...
Walaupun suasana film ini murung dengan hampir semua karakter yang muncul di layar mengekspresikan kepedihan yang terdalam, gambar-gambar dan warna-warna yang muncul di layar justru berwarna-warni dan cerah. Paradoksal ini seakan menggambarkan berbagai cara yang dilakukan oleh Becca dan Howie untuk menyembuhkan rasa duka cita mereka. Becca yang memiliki alasan tersendiri sehingga terlihat merasa lebih pedih ketimbang Howie, mencari konsolidasi dengan melakukan kegiatan-kegiatan agar terlihat tegar. Walaupun menjalani aktivitas seperti layaknya orang "normal", penonton dapat dengan jelas menangkap isi pikiran dan perasaan Becca lewat sorot matanya yang mengungkapkan kedalaman tersendiri. Sementara Howie yang tidak saja sedih kehilangan anaknya, namun juga menyadari lambat laun betapa istrinya semakin lama semakin menjadi seperti orang lain. Lebih jauh lagi, paradoksal tersebut juga tergambar dengan bagaimana gue (dan penonton lainnya) menemukan bahwa alih-alih meneteskan air mata, kami malah tersenyum bahkan tertawa oleh beberapa adegan yang tersaji. Menurut gue, film ini seakan ingin menunjukkan bahwa dalam proses berduka ternyata pikiran dan perasaan kita akan jauh lebih mudah terlempar ke atas dan ke bawah sebagai gambaran betapa labilnya emosi kita dalam keadaan yang paling pedih.
gambar diambil dari sini
Sebelum film ini, gue selalu merujuk pada film Up (2009) untuk menggambarkan dinamika stages of grief-nya Kübler-Ross (artikel wikipedia bisa dibaca disini). Jika Up juga menyisipkan premis lain seperti mengejar mimpi terbesar, maka film ini hanya fokus pada dinamika proses berduka saja. Tidak hanya konsisten dan setia, film ini juga benar-benar jujur dalam menggambarkan naik-turunnya keadaan seseorang dalam menghadapi kabar duka cita yang mendalam. Banyak tindakan-tindakan Becca dan Howie yang merepresentasikan dinamika tersebut, sebagai petunjuk sedang berada pada tahap manakah mereka. Pakaian-pakaian anaknya, lukisan-lukisan anaknya yang ditempel di kulkas, kamar anaknya, foto-foto, video-video, sampai pada rumah mereka. Belum lagi ditambah sinis dan sarkastisnya Becca, kemarahan dan pelampiasan dari Howie, dan setiap dialog antara Becca dan Howie dengan orang-orang terdekatnya. Sebagai tambahan, ada alasan khusus mengapa gue memilih untuk memajang poster diatas dibandingkan poster versi lain dari film ini; potongan-potongan ekspresi dari Becca (dan Howie) seakan menggambarkan dinamika bagaimana ia menghadapi kepedihannya.

Rasanya gue tidak berlebihan jika menyebut Nicole Kidman sebagai roh penggerak dalam film ini (selain karena gue mengidolakan artis cantik ini). Walaupun beban karakter ditanggung bersama dengan Aaron Eckhart, tapi entah kenapa gue merasa bahwa karakter Becca lebih menggambarkan dan mengarahkan suasana dalam film ini. Bukan dengan perbandingan durasi munculnya Becca dan Howie di layar, tapi dengan seberapa dalam karakter mereka tergali lewat tutur ceritanya. Mungkin hal tersebut yang membuat gue merasa bahwa akting Nicole lebih menonjol ketimbang Aaron. Kualitas akting Aaron Eckhart memang layak diperhitungkan, mengingat bahwa ia pernah memerankan seorang suami yang kehilangan istrinya dalam Love Happens (2009). Belum lagi mengingat fakta bahwa Nicole sendiri yang memilih Aaron untuk menjadi suami dari karakter Becca. Namun setiap penampilan Nicole di layar, sekecil apapun itu dan sebagaimana pun cerianya dia, gue langsung dengan mudah merasakan ada pisau-pisau kecil yang menyayat di dalam dada gue. Apalagi dengan intonasi suara dia, yang meskipun dalam kondisi "biasa saja", tapi tetap membersitkan perihnya kondisi dia pada saat itu. Ketika tensi dalam perkembangan cerita naik, seperti ketika mereka beradu pendapat, pisau-pisau kecil tersebut seakan berubah menjadi palu besar yang menghantam keras.
gambar diambil dari sini
Sebagai tambahan, special mention untuk Dianne Wiest yang berperan sebagai Nat, ibu dari Becca yang juga pernah berada dalam situasi yang sama dengan Becca. Kehadirannya dalam film ini seakan memberikan udara segar dan ketenangan tersendiri bagi penonton, seperti bagaimana Becca selalu mencari ketenangan tersebut dengan terus dekat dengan ibunya. Walaupun pedas - namun tidak sepedas anaknya - Nat mencoba mengimbangi Becca yang terlanjur sinis pada kehidupan dengan kasih sayang yang besar lewat dukungannya yang terus mengalir tanpa henti. Diperankan dengan tak kalah briliannya, Dianne Wiest mampu memberikan warna tersendiri dalam film ini dengan setiap dialog-dialog penuh makna yang ia keluarkan. Sepertinya memang hampir semua dialog dalam film ini memang bisa dan layak untuk direnungkan lebih dalam.
Becca: Does it ever go away?
Nat: No, I don't think it does. Not for me, it hasn't - has gone on for eleven years. But it changes though. The weight of it, I guess. At some point, it becomes bearable.
Film ini adalah film yang indah, jujur, realistis, dan memberikan rasa hangat tersendiri dalam bercerita tentang arti dari kehidupan.
Dan juga kematian.



'cause they know and so do I
the high road is hard to find
a detour in your new life
tell all of your friends goodbye
Broken Bells - The High Road

Rating?
9 dari 10

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top