04 February 2011
One kritik

The Fighter

8:15 AM
Sobekan tiket bioskop tertanggal 2 Februari 2011 adalah The Fighter. Film ketujuh yang gue tonton dari nominasi Best Picture Academy Awards 2011. Pertama kali melihat poster film ini terpampang di salah satu dinding bioskop terdeket, gue hanya melihatnya sambil lalu karena film tentang tinju bukan hal baru. Namun setelah mengetahui bahwa film ini mondar-mandir di berbagai penghargaan, dan selalu menancapkan lebih tiga nominasi di setiap penghargaan, gue jadi tertarik. Belum lagi Christian Bale, Melissa Leo, dan Amy Adams yang bergantian memenangi BAFTA, Golden Globes, dan calon kuat merebut piala Oscar pada 27 Februari 2011 nanti.

Cerita yang berdasarkan kisah nyata tentang perjalanan karir tinju Micky Ward (Mark Wahlberg) untuk merebut gelar tinju kelas menengah. Kisah perjalanan tinju Micky yang seakan bentuk hidup dari Rocky-nya Stallone ini, diasuh oleh Dicky (Christian Bale) yang sudah dianggap sebagai kakak sendiri. Dengan ibunya sebagai manajer, Micky mulai merasa bahwa karir tinjunya kurang bisa berkembang jika ia terus bersama mereka. Apalagi Dicky yang kecanduan obat-obatan tersandung masalah kriminal. Setelah bertemu dengan Charlene (Amy Adams), jalan Micky menuju karir profesional pun terbuka lebar. Masalah muncul ketika Micky harus memilih mana yang lebih penting dalam hidupnya; karir tinju atau keluarganya.

Sekarang gue tahu kenapa film arahan David O. Russel ini banyak mendapatkan nominasi dan penghargaan di award season ini. Cerita yang diambil dari kisah nyata yang dituliskan ke dalam bentuk layar lebar adalah bukan hal yang terbilang mudah. Kalau diangkat dari novel, mungkin akan sedikit lebih mudah untuk diangkat ke layar lebar. Tapi kalau cerita yang diangkat dari data mentah kemudian ditulis dalam bentuk layar lebar mungkin memiliki tantangan tersendiri. Lepas dari seberapa setia dan akurat cerita dalam film ini terhadap kisah nyatanya, dengan mengikuti cerita pada film ini kita bisa melihat bagaimana perjuangan pantang menyerah dari Micky. Tidak hanya Micky, tapi juga karakter-karakter lain seperti Dicky yang melawan kecanduan dan tindakan kriminalnya, ibu dari Micky dengan sifat posesifnya, dan Charlene yang menginginkan karir Micky untuk terus maju. Memang sebuah judul film yang tepat untuk menggambarkan semangat yang ada di dalamnya.

Cerita yang diangkat dari kisah nyata tidak akan sedemikian hidupnya jika tidak didukung oleh para pemeran yang brilian. Harus gue akui, ensemble cast pada film ini luar biasa dalam menghidupkan karakter masing-masing. Mark Wahlberg, Christian Bale, Melissa Leo, Amy Adams, dan Jack McGee, masing-masing dari mereka tampil memukau dan tidak tenggelam antara satu dengan yang lain. Kekuatan akting dan kedalaman karakter dari masing-masing mereka benar-benar brilian dan merata. Saking meratanya, tidak terlihat satu pemeran pun yang tampil menonjol daripada yang lain. Mark Wahlberg sebagai Micky yang dilingkupi dilema antara karir atau keluarga, Jack McGee sebagai ayah dan juga pelatih yang tak kuasa berhadapan dengan istrinya yang keras, Melissa Leo sebagai ibu yang tegas dan keras terhadap siapapun, Amy Adams (oh Amy, aku padamu! ;p) sebagai wanita yang mencintai Micky dan ternyata juga rada "sangar", dan Christian Bale sebagai kakak dari Micky yang pecandu dan dikenal sebagai orang yang gokil di daerahnya. Tiga nama terakhir yang gue sebutkan memang layak mondar-mandir masuk nominasi di kategori yang sama di berbagai penghargaan. Bukan tidak mungkin Melissa Leo (atau bahkan Amy Adams) dan Christian Bale akan merebut piala Oscar di kategori yang sama yang telah dimenangkan mereka pada Golden Globe kemarin.
gambar diambil dari sini
Pujian dari gue harus gue arahkan ke Christian Bale. Bukan saja karena dia telah berhasil menguruskan badannya beberapa kilogram agar terlihat kurus seperti seorang pecandu obat-obatan, tapi juga karena natural akting dia lewat tingkah laku, gaya berjalan, dan gaya bicara seorang pecandu. Apalagi Bale memerankan tokoh hidup (dimana Dicky Eklund yang asli masih hidup di Lowell, Massachusetts) yang tentu saja tantangannya tidak mudah untuk tidak dibanding-bandingkan dengan karakter aslinya. Menurut gue, salah satu akting yang berhasil adalah aktor/aktris yang bisa melepaskan image karakter yang telah menempel padanya di film(-film) sebelumnya. Khusus untuk Bale, gue sama sekali tidak melihat sisa-sisa karakter Bruce Wayne pada dirinya dalam film ini.

Perbendaharaan film tentang tinju yang gue tonton memang tidak banyak, paling-paling hanya film-film tenar macam Rocky, Million Dollar Baby, dan Cinderella Man. Tapi entah kenapa film ini yang paling menghibur diantara yang lain. Tidak saja karena jajaran cast yang tampil merata, tapi juga karena cara bertutur cerita yang menyenangkan dan tidak membosankan. Banyak adegan-adegan yang bisa membuat gue mengelus dada, atau tersenyum penuh makna.
gambar diambil dari sini
Gue suka bagaimana film ini menutup cerita dengan eksekusi endingnya yang megah. Seperti tipikal film-film olahraga lainnya, film ini membawa adegan finale-nya dengan epik. Karena selama tigaperempat film, emosi penonton sudah dilarutkan dan dihanyutkan sedemikan rupa oleh drama yang tersaji di layar, maka cukup mudah untuk larut pada adegan pertarungan final dari Micky Ward. Bahkan gue menemukan diri gue gregetan dan menyemangati adegan tersebut, yang ternyata gue tidak sendirian ketika orang di sebelah gue tepuk tangan setelah pertandingan tersebut selesai. Anti-klimaks yang ditampilkan pun bisa mengembangkan senyum di muka, maka dari itu jangan buru-buru beranjak dari tempat duduk ketika ending credit mulai muncul.

Drama yang menghanyutkan ini dimanfaatkan dengan baik oleh para pembuat film untuk menyampaikan berbagai makna yang diselipkan di plot cerita. Kesadaran untuk pulih dari kecanduan, pantang menyerah, sampai arti pentingnya sebuah keluarga. Lebih jauh lagi, menurut gue rasanya film ini memang film tentang pentingnya keluarga dan orang-orang di sekitar, dimana latar belakang tinju bisa diganti dengan latar belakang apapun. Namun memang teknik dalam bertinju yang terkadang kita harus bertahan dulu baru kemudian menyerang, lalu teknik menyerang bergantian antara kepala-badan-kepala-badan, memang paling pas untuk merepresentasikan pesan tersebut.
gambar diambil dari sini
Jalan cerita yang menyenangkan untuk diikuti, jajaran pemeran dengan kualitas penampilan merata, dan kisah yang inspirasional ini sangat sayang untuk dilewatkan serta layak untuk ditonton lebih dari sekali.

Rating?
9 dari 10

1 kritik:

  1. Haduh knp error mulu nih mau comment..

    Gue kmrn baru nonton mo! Go to the kil man! *eh bahasa gue kok jadi begini hahaha..waktu liat karakter aslinya Dicky g langsung angkat semua jempol dan jari2 lain yg mirip jempol buat diaaa..hahaha..gokilll..mirip mo! Hahahaha..hebat sih nih film,dan g seneng loe kasi rating 9..hahaha..

    ReplyDelete

 
Toggle Footer
Top