14 October 2016
0 kritik

The Beatles: Eight Days A Week - The Touring Years

"Rock documentary yang membawa semua penontonnya merasa lebih dekat dengan John, Paul, George, dan Ringo"

Di tahun 1960-an, The Beatles meroket menjadi band yang fenomenal dan konser secara konsisten di Inggris dan di kota Hamburg. Dipimpin dan dikembangkan oleh manager Brian Epstein, empat anak muda yang tampil apa adanya dan jadi ikon pop ini pun mulai melanglang buana ke seluruh penjuru dunia. Dokumenter ini fokus pada rangkaian konser mereka di berbagai kota dan negara dari tahun 1963 hingga 1969, termasuk titik balik berbagai hal; mulai dari kejenuhan hingga gaya eksperimental dalam musik mereka.

Dokumenter perjalanan konser The Fab Four ini jelas menjadi nostalgia yang nyaris sempurna bagi para penggemar. Di tangan sutradara Ron Howard, nostalgia ini dibawakan dengan emosional lewat deretan footage klasik mulai dari yang hitam-putih hingga berwarna. Adegan konser mulai dari perjalanan, belakang panggung, hingga di atas panggung tersebut ditemani oleh wawancara dari mereka sendiri hingga tokoh-tokoh terkenal yang menjadi fans mereka. Menyenangkan untuk melihat testimonial dari Whoopi Goldberg, Sigourney Weaver, hingga Elvis Costello!

Selain nostalgia, dokumenter ini juga berperan penting sebagai jembatan terhadap generasi baru. Ya, mungkin termasuk gue yang belum lahir ketika tahun-tahun produktif mereka. Beruntungnya, keluarga dan orang-orang di sekitar gue masih menjadi pengaruh signifikan dalam mengenal dan turut menjadi fans mereka. Tetapi generasi baru di bawah gue jelas akan sangat terbantu untuk mengenal lebih dalam, khususnya tentang apa yang membuat The Beatles menjadi sungguh fenomenal. Apa yang membuat para gadis berteriak histeris - bahkan sampai pingsan - ketika melihat John, Paul, George, dan Ringo secara langsung.


Harus diakui, gue menemui sedikit kebosanan di tengah film ketika yang ditampilkan cukup repetitif antara perjalanan konser dan rekaman wawancara yang berbicara seputar topik yang sama. Mungkin sama seperti empat orang tersebut yang mengalami kejenuhan di tengah-tengah tur mereka. Tetapi ketika cerita bergerak ke arah yang berbeda, maka kebosanan itu pun perlahan luntur. Ketika rekaman konser terakhir mereka di rooftop di London 30 Januari 1969 dibuka dengan nyanyian John Lennon "Don't Let Me Down", gue merinding!

Memang satu tujuan dibuatnya film tentang The Beatles ini; untuk mengingat kembali betapa dunia berterima kasih atas warisan yang ditinggalkannya. Kita bisa melihat bahwa The Beatles lebih dari sebuah boyband dengan alat musik dan hanya mengandalkan wajah, tetapi memang mereka adalah para jenius musik. Mulai dari kualitas lirik dan melodi yang mereka ciptakan, produktifitas ratusan lagu yang telah direkam, hingga penampilan di atas panggung yang sangat solid dan kompak di tengah suara jeritan ribuan gadis. Jangan pulang dulu ketika ending credits mulai bergulir, karena ada adegan post-credit yang mengalahkan film Marvel manapun; digitally remastered kualitas 4K konser mereka di Shea Stadium tahun 1965 selama 30 menit!



USA / UK | Documentary / Musical | 107 mins + 30 mins | Flat Aspect Ratio 1.85 : 1

Rating?
8 dari 10

Scene after credits? YES!

- sobekan tiket bioskop tanggal 14 Oktober 2016 -

----------------------------------------------------------
Search  Keywords:

  • review film the beatles eight days a week
  • review the beatles eight days a week
  • the beatles eight days a week review
  • resensi film the beatles eight days a week
  • resensi the beatles eight days a week
  • ulasan the beatles eight days a week
  • ulasan film the beatles eight days a week
  • sinopsis film the beatles eight days a week
  • sinopsis the beatles eight days a week
  • cerita the beatles eight days a week
  • jalan cerita the beatles eight days a week

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top