12 October 2016
0 kritik

Blair Witch

"Sebuah penghormatan yang baik bagi The Blair Witch Project (1999) di tangan yang tepat, meski masih tidak dapat menyamainya"

Dua puluh tahun telah berlalu sejak hilangnya Heather di hutan Burkitsville, adiknya James ingin mencari kakaknya di hutan tersebut. James dibantu oleh seorang teman yang sedang menyusun film dokumenter untuk tugas kuliah dan dua orang temannya yang pernah ikut tim pencarian Heather. Mereka berempat dibantu oleh dua warga lokal yang mempercayai mitos penyihir Blair, nama kota lama sebelum diganti menjadi Burkitsville. Akankah mereka berempat menemukan Heather, atau setidaknya rumah tua yang ada dalam rekaman terakhir Heather?

Sebagai fans originalnya, The Blair Witch Project (1999) yang menjadi film klasik dan inspirasi bagi banyak film horor mockumentary hingga sekarang, sulit bagi gue untuk melewatkan film ini. Kalau Book of Shadows: Blair Witch 2 (2000) memang mudah untuk dilewatkan, semudah pembuat film ini tidak menganggap dan tidak memasukkan plot tersebut dalam versi 2016. Apalagi Blair Witch (2016) disutradarai oleh Adam Wingard, orang dibalik You're Next (2011) dan V/H/S (2012). Hasilnya adalah sekuel yang sangat menghormati film orisinilnya dengan tingkat kengerian yang nyaris sama.


Film ini masih mengusung formula yang sama, ditambah dengan beberapa gimmick modern berupa kamera dari drone dan kamera ear-piece. Kamera kecil yang dipasang di telinga ini memberikan efek POV dan berasa sangat efektif untuk meningkatkan ketegangan. Bayangkan saja ketika para karakter melihat sekeliling dengan ketakutan, mencari asal suara aneh di tengah hutan, sambil menyorotkan senter ke kiri dan ke kanan. Beberapa kali secara tidak sadar, gue ingin sekali menghentikan gerak kepala James atau Lisa yang begitu antusias mengeksplorasi hutan yang gelap itu. Beberapa sinematografinya perlu gue acungi jempol, dengan penempatan karakter dan latar belakang yang jenius dan efektif menambah kengerian. Apalagi ada kamera DV dengan kualitas rendah yang dibawa Lane, yang jelas memberikan rasa nostalgia yang kental.


Gue masih ingat persis beberapa adegan yang mengerikan yang membuat gue tidak bisa tidur setelah menonton film pertamanya, dan gue mengunjungi pengalaman itu sekali lagi yang disajikan oleh duo sutradara - penulis naskah, Adam Wingard dan Simon Barrett. Yes, semua stimulus horornya jelas masih sama, kali ini dengan rasa modern dan aktor muda baru. Kalau disambungkan dengan mitosnya, tentu saja buat apa si penyihir Blair meng-upgrade caranya untuk memancing para korbannya? Tetapi setiap jump-scares nya dieksekusi dengan efektif dan brilian, lengkap dengan efek suara yang mengerikan. Rasanya memang bukan penyihir, tetapi departemen sound-mixing yang berperan banyak untuk membuat penontonnya ketakutan.

Di antara banyak orang yang mengecam dibuatnya sekuel dari sebuah film klasik yang sangat fenomenal, menurut gue Blair Witch (2016) ini masih dapat dimaafkan. Dari jalan cerita yang ditawarkan yang sangat pararel dengan film pertamanya, jelas intensinya untuk memberikan penghormatan terbaik. Generasi baru akan mencari dan menonton film yang pertama, sementara para fans setidaknya akan menonton ulang. Beruntung memang sekuel ini berada di tangan yang tepat, sehingga kualitasnya setidaknya masih dapat mendekati - meski tidak dapat sekalipun menyamai The Blair Witch Project (1999) yang penuh dengan orisinalitas itu.



USA | 2016 | Horror / Mockumentary | 89 mins | Flat Aspect Ratio 1.85 : 1

Rating?
7 dari 10

- sobekan tiket bioskop tanggal 12 Oktober 2016 -

----------------------------------------------------------
Search  Keywords:

  • review film blair witch
  • review blair witch
  • blair witch review
  • resensi film blair witch
  • resensi blair witch
  • ulasan blair witch
  • ulasan film blair witch
  • sinopsis film blair witch
  • sinopsis blair witch
  • cerita blair witch
  • jalan cerita blair witch

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top