07 October 2016
0 kritik

Sunya

"Penuturan budaya perklenikan Jawa yang apa adanya dengan cara artistik"

Bejo, umur 5 tahun, mulai mengalami kejadian-kejadian aneh setelah sang ibu meninggalkannya dan membuat dirinya dibesarkan oleh nenek. Peri-peri yang menari untuknya, gadis kecil yang selalu muncul di hutan, hingga sahabat gaibnya Rohman yang selalu ada untuk melindunginya. Tiga puluh tahun kemudian, neneknya sekarat namun para dokter tidak dapat menemukan sakitnya. Kesembuhan neneknya adalah hal yang tak dapat ditawar sebagai pengabdian kepada orang tua. Upaya terakhir yang dia jalani, ternyata menjadi konsekuensi dan berhubungan dengan hal-hal misterius selama masa kecilnya.

Sunya adalah film drama arthouse yang mendedikasikan cara penyampaiannya pada seni semata. Sutradara dan penulis naskah Harry Suharyadi jelas tidak mematok komersialisme, demi fokus pada idealisme seni semaksimal mungkin. Hasilnya adalah sebuah film yang cenderung sulit untuk ditonton, dengan menimbulkan banyak pertanyaan ketimbang jawaban sepanjang jalan ceritanya. Meski begitu, Sunya adalah film yang indah dengan caranya sendiri, terutama dengan usahanya untuk memasukkan unsur budaya Jawa yang sangat kental ke dalam ceritanya.


Gue sendiri cukup maklum dengan hasil visual Sunya yang jauh dari sempurna, mulai dari color grading yang tidak rapi hingga beberapa gambar yang tidak fokus. Tetapi menonton Sunya mengingatkan gue akan asal-usul gue sebagai orang yang dibesarkan dengan budaya Jawa. Kebiasaan orang-orang Jawa yang mengandalkan perklenikan dalam hidup, direpresentasikan dengan sangat jelas dan apa adanya dalam film ini. Begitu pula dengan konsekuensi yang harus diterima dalam hidup, yang kebanyakan tidak berakhir bahagia.


Cara bertuturnya sendiri cenderung indah dan kelewat artistik. Dipenuhi dengan bahasa-bahasa gambar dan minim dialog, membuat penonton harus memberi impresi sendiri terhadap apa yang sedang terjadi di layar. Yang menarik dan luar biasa adalah peleburan unsur wayang orang dan tari adat Jawa ke dalam jalinan cerita film. Gue yakin sekali, mereka yang memiliki pemahaman lebih terhadap makna dari kisah wayang atau tarian Jawa akan lebih dapat menikmati film ini ketimbang orang awam.

Di luar kulit visualnya yang tidak rapi, Sunya menjadi film yang unik dan menarik untuk ditonton. Apalagi dengan unsur budaya Jawa yang kental dengan klenik, menjadikan kisah film ini lebih gelap dibandingkan film horor sekalipun. Cara bertuturnya yang artistik memang menyulitkan sebagian besar penonton, tetapi jelas Sunya menjadi dokumentasi penting bagi perfilman Indonesia.



Indonesia | 2016 | Arthouse / Drama | 80 menit | Flat Aspect Ratio 1.85 : 1

Rating?
7 dari 10












- sobekan tiket bioskop tanggal 7 Oktober 2016 -

----------------------------------------------------------
Search  Keywords:

  • review film sunya
  • review sunya
  • sunya review
  • resensi film sunya
  • resensi sunya
  • ulasan sunya
  • ulasan film sunya
  • sinopsis film sunya
  • sinopsis sunya
  • cerita sunya
  • jalan cerita sunya

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top