22 May 2014
0 kritik

X-Men: Days of Future Past

"Sekuel pemersatu semua sekuel X-Men yang mengkombinasikan elemen-elemen terbaiknya dan merangkumnya dengan unsur time travel yang cerdas"

Pada adegan post-credit film X-Men terakhir, The Wolverine (2013), memperlihatkan bagaimana Professor X dan Magneto secara khusus meminta bantuan Wolverine yang baru pulang dari Jepang. Kini para mutan, baik maupun jahat, harus bersatu untuk menghadapi musuh yang sama yang jauh lebih kuat daripada mereka. Sebuah robot AI bio-organism yang mampu beradaptasi terhadap kekuatan mutan yang diciptakan oleh Dr. Bolivar Trask, Sentinel. Sebuah langkah putus asa dari para X-Men, mereka mengirim Wolverine ke masa lalu untuk menghentikan Dr. Trask menciptakan program Sentinel.

Sebuah cara marketing yang sangat apik dan efektif untuk meningkatkan hype dan ekspektasi terhadap Days of Future Past (DOFP). Ekspektasi tinggi itu pun terjawab puas dengan hasil yang ditampilkan oleh film ini. Sebuah film superheroes dengan jalan cerita yang rumit dengan unsur kuat mengenai time travel, dibungkus dengan drama mengenai pilihan hidup, dan disisipi oleh adegan-adegan aksi yang sangat menghibur mata dan telinga. Unsur time travel yang sangat dominan dalam film ini, sekaligus menggabungkan elemen-elemen terbaik dari seluruh franchise X-Men, membuat gue menegaskan bahwa DOFP adalah salah satu film superheroes terbaik di tahun ini.



Benar saja, menonton DOFP tanpa menonton X-Men (2000), X-Men 2 (2003), X-Men: The Last Stand (2006), dan terutama X-Men: First Class (2011) jelas akan sulit mengikuti jalan cerita yang ada dalam film ini. Belum lagi tambahan The Wolverine (2013) dengan adegan post-credit-nya itu. Terima kasih banyak untuk sutradara Bryan Singer dan penulis naskah Simon Kinberg, Jane Goldman, dan Matthew Vaughn yang sangat berhasil menyatukan seluruh cast senior dari trilogi awal X-Men dan cast muda yang ada pada First Class dalam satu film yang epik ini. Membayangkan James McAvoy-Michael Fassbender yang bersanding dengan Patrick Stewart-Ian McKellen bersanding bersama dalam satu film saja sudah too good to be true!

Film ini memang didesain untuk melanjutkan kisah First Class, yang tadinya diniatkan untuk menjadi proyek reboot dari franchise X-Men. Namun para pembuat film berpikir lebih jauh untuk merangkul semua sekuel X-Men yang ada, dan dibuatkan satu storyline baru untuk dapat melanjutkan franchise ini agar dapat menyaingi The Avengers. Sebuah langkah yang tampak sangat komersil, namun dieksekusi secara jenius lewat naskah yang brilian. 


Mungkin penilaian gue sangat subyektif, tapi gue selalu terpukau dan kagum oleh film-film yang menggunakan teori fisika kuantum dan perjalanan lintas waktu sebagai titik berat jalan cerita. Dengan dua teori besar tentang time travel yang hadir di berbagai film Hollywood (teori aliran sungai besar dimana mengubah waktu di masa lalu hanya menjadi riak air dan teori alternate universes), film ini mencoba bermain-main dengan dua kutub tersebut. Eksplorasinya jelas membuat otak gue cukup bekerja keras dalam memahami apa yang sedang terjadi di layar, sembari sesekali terkagum dengan banyak referensi terhadap film-film sekuel sebelumnya.

Menariknya, Bryan Singer tampak ingin fokus pada kedalaman karakter dan drama yang disajikan ketimbang deretan adegan aksi dengan pamer kekuatan mutan yang keren. Walaupun ada beberapa karakter baru dengan kekuatan yang unik, tapi Bryan Singer tidak tergoda untuk mengeksplorasi mereka lebih jauh. Konflik psikologis pada beberapa karakter utama seperti Mystique dan Professor X versi muda jelas menjadi titik gravitasi utama dalam film ini (sorak gembira bagi para fans Jennifer Lawrence!!). Eksplorasi ini yang menjadi porsi terbesar sepanjang film, dan jelas menjadi sangat menarik jika dikaitkan dengan apa yang terjadi pada First Class.


Bisa dibilang, DOFP adalah sekuel pemersatu dari semua sekuel X-Men, untuk mengarahkan pada sekuel selanjutnya yang tampaknya akan lebih dahsyat dengan cuplikan adegan di post-credit. DOFP adalah tipikal film yang akan membuat anda tergoda untuk menonton lagi semua sekuel awal dari X-Men. Dan tidak perlu capek-capek mengaitkan Quicksilver yang muncul pada film ini dengan yang muncul pada post-credit The Winter Soldier, karena masalah hak cipta maka kedua karakter tersebut akan memiliki universe yang berbeda - dan diperankan oleh pemeran yang berbeda pula.

Second viewing untuk film ini jelas sangat diperlukan untuk memahami lebih jauh mengenai pilihan tindakan yang diambil oleh beberapa karakter utama dalam film ini :D



USA | 2014 | Action / Superheroes | 131 min | Aspect Ratio 2.35 : 1

Rating?
9 dari 10

Wajib 3D? TIDAK (film ini di-shoot dengan kamera 3D, namun minim potensi adegan pop-out dan depth)

Wajib 4DX? TIDAK

Wajib IMAX? RELATIF (dengan bobot lebih berat ke arah drama, rasanya layar lebar dan kualitas tata suara tinggi menjadi urutan kedua)

- sobekan tiket bioskop tanggal 22 Mei 2014 -

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top