16 May 2014
0 kritik

Godzilla

"Remake terbaru dari monster kadal raksasa yang jauh lebih epik daripada film-film terdahulunya"

Para ilmuwan dari organisasi Monarch yang menangani para monster purba secara tidak sengaja membangkitkan monster yang dijuluki MUTO (Massive Unidentified Terrestrial Organism). Bangkitnya MUTO yang mencari makan berupa radiasi nuklir ini sangat destruktif bagi kota padat penduduk. Namun alam menyeimbangkan dirinya dengan hadirnya Godzilla yang terbangun dari tidurnya untuk menghabisi monster-monster terakhir yang ada di bumi.

Monster terkenal asal Jepang ini telah mondar-mandir dibuat versi remake oleh Hollywood. Tentunya masih segar di ingatan, remake terakhir di tahun 1998 yang ditangani sutradara Roland Emmerich, yang sukses menurunkan pamor Godzilla di mata internasional. Beruntung sutradara Gareth Edwards mengambil proyek ini dari tangan Guillermo del Toro. Berbekal film yang sama-sama menceritakan serbuan monster terhadap populasi padat penduduk, Monsters (2010), jelas rasanya Edwards seakan orang yang tepat untuk menahkodai film ini.



Godzilla versi 2014 ini jauh lebih menegangkan. Terinspirasi oleh film Jaws (1975), Edwards sangat sabar untuk tidak menampilkan keseluruhan bentuk dari Godzilla hingga menit-menit terakhir. Dari awal, penonton hanya diperlihatkan sedikit bagian dari Godzilla dan MUTO, yang seakan menempatkan penonton sebagai penduduk yang melihat monster raksasa sedang berjalan-jalan di depan mata mereka. Walaupun begitu, monster-monster ini tetap membawa rasa ngeri dan menegangkan walaupun mereka off-screen atau tidak berada di layar. Sebuah formula yang berhasil diterapkan pada Monsters, dan jelas sangat efektif untuk menggambarkan monster kadal raksasa terkenal ini.

Gaya penceritaan dalam film ini memang kurang fokus pada beberapa level. Mulai dari fokus pada para ilmuwan Monarch, menyempit ke area mikro penduduk sipil yang direpresentasikan oleh keluarga kecil Brody yang dibintangi si ganteng Aaron-Johnson, lalu melebar ke arah makro lewat representasi militer. Memang benang merahnya adalah fokus pada manusia, dengan menempatkan Godzila dkk hanya sebagai latar belakang yang mempersatukan mereka. Namun ketidak-fokusan ini yang cukup mengganggu, dengan hubungan antar-karakter yang terkesan terlalu dipaksakan a la Hollywood.


Jika disuruh memilih fokus mana yang menjadi favorit gue, maka jelas fokus militer adalah yang paling keren. Simpel, penerjunan HALO (High-Altitude, Low-Opening) adalah salah satu adegan yang sangat menegangkan, sekaligus sangat epik dalam menggambarkan betapa dashyatnya kehancuran yang telah dibuat oleh Godzila dkk. Cara pengambilan gambar first-person dari sudut pandang militer ini juga sangat meningkatkan pengalaman menonton yang sangat asyik, dengan hanya bisa mendengar raungan monster dan melihat sekelebat monster-monster ini diantara puing-puing berbagai gedung. Rasanya menonton di layar selebar IMAX pun akan sangat memuaskan.



USA | 2014 | Action / Sci-Fi | 123 min | Aspect Ratio 2.35 : 1

Rating?
8 dari 10

Wajib 3D? TIDAK (film ini tidak di-shoot dalam format 3D, dan sedikit sekali adegan-adegan yang berpotensi pop-out atau depth)

Wajib 4DX? RELATIF

Wajib IMAX? YA (banyak adegan-adegan dengan potensi suara dan gambar yang menakjubkan jika dinikmati dalam studio sekelas IMAX)

- sobekan tiket bioskop tanggal 16 Mei 2014 -

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top