04 May 2014
0 kritik

Philomena

"Film drama biografi yang tidak hanya ringan dan menghibur, tetapi mengajak anda untuk menilai ulang apa itu arti dari memaafkan"

Martin Sixsmith, seorang jurnalis baru saja kehilangan pekerjaannya dengan dipecat secara tidak hormat. Berniat menulis buku mengenai sejarah Russia, ia dihampiri oleh seorang wanita yang menceritakan soal ibunya, Philomena, yang anak laki-lakinya diambil paksa darinya semasa remaja dulu di biara Katolik yang ketat. Wawancara untuk menggali kisah Philomena pun berujung pada pencarian anaknya, hingga ke Amerika. Sepanjang perjalanan, fakta-faktar baru mengenai anaknya yang diadopsi paksa pun mulai terkuak, bersamaan dengan saling mengenal karakteristik masing-masing. Lebih jauh lagi, kepercayaan dan prinsip dasar hidup Martin dan Philomena pun diuji kembali.

Philomena adalah sebuah drama biografi yang sangat heart-warming. Terhitung ada tiga adegan yang mampu membuat dada gue berasa "nyess", dan salah satunya membuat mata gue basah. Diangkat dari kisah nyata, kisah Philomena Lee memang seakan one in a million. Kepahitan-kepahitan hidupnya membuat geleng kepala, sedangkan ketegarannya lebih dari luar biasa. Kisahnya juga mampu membagi penonton menjadi dua kelompok besar, yang diwakilkan oleh karakter Martin Sixsmith dan Philomena Lee yang memiliki pandangan yang bertolak belakang terhadap masalah yang dialami oleh Philomena.



Kekuatan karakter tersebut jelas menjadi kontribusi yang sangat signifikan dari seorang Judi Dench. Dengan humor santai, Dame Judi Dench berhasil membawakan karakter Philomena Lee yang tegar walau menyimpan rahasia hidup selama 50 tahun, disaat yang bersamaan cukup polos terhadap dunia sekitar, bahkan tidak sadar bisa mendapatkan minuman gratis di pesawat. Philomena yang hidupnya sangat sederhana, seakan bahwa ia tidak memiliki pengalaman banyak terhadap dunia, tetapi setiap pernyataan dan sikapnya jelas menunjukkan bahwa ia sadar terhadap dunia namun memilih untuk tidak terlibat dan menyikapinya lebih lanjut. Sebuah karakter yang sangat sederhana dan sangat nyata, tetapi memiliki kharisma yang kuat dan sangat memberi dampak emosional pada penonton. Tipikal karakter yang, entah anda ingin spontan memeluknya ketika ia sedih, atau menjerit unyu ketika ia berceletuk spontan dan polos.

Persoalan yang dibawa oleh film Philomena ini sebenarnya sederhana, namun memiliki jawaban yang kompleks dan praktis berada di area abu-abu. Antara dosa dan kontrol diri, antara penitensi dan hak asasi. Rasanya hal-hal yang saling bertolak belakang itu yang coba dieksplorasi secara santai dalam film ini. Mudahnya, karakter Martin dan Philomena telah merepresentasikan dua hal tersebut, dan penonton tinggal menyaksikan perdebatan diantara interaksi diantara mereka berdua. Namun sutradara Stephen Frears (The Queen, Tamara Drewe) tidak terlena dalam perdebatan tersebut dan tetap membungkus film ini dengan aura santai dan humoris.


Akhir kata, ini adalah sebuah film yang dengan kesederhanaannya, kekuatan karakternya, dan bungkusan scoring karya Alexandre Desplat yang sangat eargasm, tidak hanya akan menghibur anda dengan humor celetukan cerdas ala film-film asal Inggris. Tetapi juga dengan kedalaman makna yang dibawa akan membuat anda dapat menghargai lebih jauh nilai dari memaafkan.


UK | 2013 | Drama / Biography | 98 min | Aspect Ratio 1.85 : 1

Rating?
9 dari 10

Nominated for Best Picture, Best Actress (Judi Dench), Best Score (Alexandre Desplat), Best Adapted Screenplay (Steve Coogan, Jeff Pope), Academy Awards, 2014

Nominated for Best Picture - Drama, Best Actress, Best Screenplay, Golden Globes, 2014

Won, Best Adapted Screenplay; Nominated, Best Film, Best Leading Actress, BAFTA Awards, 2014

Nominated, Outstanding Performance by a Female Actor in a Leading Role, Screen Actor Guild Awards, 2014



- sobekan tiket bioskop versi Europe on Screen tanggal 4 Mei 2014 -

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top