30 May 2014
One kritik

Edge of Tomorrow

"Jalan cerita yang cerdas, efek visual yang luar biasa, menjadikan film ini lepas dari tipikal film aksi biasa"

Alien menyerbu bumi dan menguasai Eropa. Seluruh angkatan bersenjata dari puluhan negara pun bersatu untuk mencegah alien menguasai bumi. Dalam sebuah serangan besar, Mayor William Cage secara tidak hormat diturunkan di garis depan. Terbunuh dalam hitungan menit oleh alien, kini Cage terjebak dalam putaran waktu yang berulang, mulai dari ia terbangun di markas operasi garis depan hingga ia mati di medan perang. Namun putaran waktu tersebut dimanfaatkannya untuk meningkatkan kemampuannya dalam berperang, dan menghindari setiap serangan yang ada. Bersama Rita Vrataski, mereka berdua semakin hari semakin dekat dengan cara untuk mengalahkan musuh yang ternyata memiliki kekuatan yang jauh dari mereka bayangkan.

Diangkat dari novel Jepang tahun 2004 karya Hiroshi Sakurazaka, All You Need Is Kill, film ini adalah sebuah film aksi sains-fiksi yang memiliki tingkat eye-and-ear-candy yang cukup tinggi. Efek visual yang luar biasa dan didukung oleh suara-suara dentuman ledakan yang efektif meningkatkan ketegangan. Ternyata film ini tidak hanya menawarkan adegan-adegan aksi ala Tom Cruise biasa, tetapi juga memberikan jalan cerita yang jelas akan menguji kapabilitas berpikir penonton. Lewat jalan cerita yang memainkan time travel yang cukup kompleks, menjadikan film ini lebih dari sekedar film aksi biasa.



Film ini jelas keluar dari zona nyaman film-film aksi tipikal yang hanya mengandalkan dar-der-dor dan pameran efek visual. Dengan jalan cerita yang cerdas, aspek perjalanan menembus ruang dan waktu benar-benar di eksplorasi. Walaupun dengan jalan cerita yang berulang di hari yang sama, sutradara Doug Liman berhasil mengeksekusinya dengan menarik dan tidak membosankan. Sejenak mungkin penonton akan teringan akan Source Code (2011) atau Run Lola Run (1998) dengan konsep mengulang hari dengan hal yang sama, namun Edge of Tomorrow tampil berbeda dengan ketegangan yang berarti lewat kehadiran alien-alien ganas.

Menariknya, kemunculan alien-alien jelek dan menyeramkan ini memang menjadi penentu kematian Cage sehingga akan mengulangi hari kembali. Dengan kemampuan memutar kembali waktu ini seakan membuat penonton menjadi merasa nyaman dan tak perlu khawatir dengan keselamatan jagoan utama mereka. Namun di akhir film, tanpa bermaksud spoiler, kekhawatiran itu muncul berkali-kali lipat sehingga sangat efektif dalam meningkatkan ketegangan yang ada. Namun sayang, pilihan ending yang digunakan jelas untuk mempertahankan formula happy-ending ala Hollywood. Andaikata ada pilihan ending yang lebih realistis, mungkin gue akan memberikan skor lebih tinggi terhadap film ini. 


Jelas Edge of Tomorrow adalah film yang sangat menarik. Dengan jalan cerita yang cukup segar dan sulit untuk diprediksi, membuat gue cukup mudah larut dan masuk dalam dunia yang ada di balik layar selama 113 menit. Unsur humor yang ada pun cukup menyenangkan dan menghibur. Dengar-dengar, versi 3D-nya wajib untuk ditonton dengan banyak adegan pop-out dan depth yang signifikan. 


USA | 2014 | Action / Sci-Fi | 113 min | Aspect Ratio 2.35 : 1

Rating?
7 dari 10

Wajib 3D? YA

Wajib IMAX? RELATIF

Wajib 4DX? RELATIF

Scene During Credits? TIDAK

Scene After Credtis? TIDAK

 sobekan tiket bioskop tanggal 30 Mei 2014 -

1 kritik:

 
Toggle Footer
Top