03 May 2014
0 kritik

More Than Honey

"Dokumenter yang sangat deskriptif memperlihatkan populasi lebah yang berkurang drastis di dunia, sekaligus menggambarkan bagaimana cara manusia memperlakukan lebah"
If the bee disappeared off the surface of the globe then man would only have four years of life left. No more bees, no more pollination, no more plants, no more animals, no more man.
Begitu kata Albert Einstein tentang kepunahan lebah yang akan membawa dampak buruk terhadap keberlangsungan hidup manusia. Film dokumenter asal Swiss ini mencoba melihat lebih dekat mengenai populasi lebah yang ada di berbagai belahan dunia. Lewat peternakan lebih yang ada di Swiss, California, China, dan Australia, sutradara dan penulis naskah Markus Imhoof mencoba mencari jawaban apa yang menjadi penyebab dari matinya 1/3 populasi lebah di dunia, atau yang disebut dengan Colony Collapse Disorder.



Sebagai film dokumenter, film ini sangat menarik dengan keindangan sinematografisnya. Banyak shot-shot makro yang memperlihatkan gerak dan tingkah laku lebah, baik dalam melakukan penyerbukan atau dalam koloni mereka. Dokumenter ini sangat lengkap dalam menggambarkan perilaku lebah, mulai dari lahirnya lebah pekerja dan ratu lebah baru, hingga kematian mereka yang karena berbagai sebab. 

Dokumenter yang harus 4-5 kali berkeliling dunia ini ternyata tidak juga memberikan jawaban yang mudah. Awalnya dokumenter ini tampak berpihak pada kapitalisme yang tampak mengembang-biakkan lebah, ditambah dengan "memproduksi" ratu-ratu lebah agar dapat dengan mudah mengatur para lebah pekerja atau drones. Dengan melihat lebih dalam bagaimana cara manusia memperlakukan lebah, tanpa sadar penonton pun dapat menilai sendiri bagaimana etika hal tersebut. Lewat fakta-fakta yang diungkap, jelas sudah bahwa lebah sudah menjadi hewan domestik, yang lebih jauh lagi, dimanipulasi dengan sedemikian rupa untuk memenuhi berbagai industri. Mulai dari industri buah nektar, tanaman, hingga madu.


Ratu-ratu lebah yang "diciptakan" oleh manusia, lebah-lebah pekerja yang menjadi tidak berguna lagi setelah selesai melakukan penyerbukan di ladang pohon nektar, hingga pengiriman lebah-lebah ini dalam paket ke berbagai belahan dunia. Semua ini adalah fakta yang terjadi di dunia demi memenuhi persediaan beberapa botol madu di rumah anda. Jelas sebuah manipulasi parah terhadap spesies serangga yang memiliki konstruksi sosial yang nyaris sempurna.

Jika menjawab pertanyaan apa yang menjadi penyebab dari Colony Collapse Disorder, jawabannya pun bervariasi antara infeksi bakteri, insektisida, hingga stres. Kalau jawaban dari pribadi gue, penyebabnya adalah hal yang lebih besar yaitu cara hidup manusia yang dengan kemajuan teknologinya dan merasa dapat menguasai alam, namun tidak menyadari bahwa setiap hal ada konsekuensinya. Kebutuhan manusia akan buah nektar, dan lainnya, serta madu, ditambah dengan industri kapitalis yang hanya memikirkan uang. Mungkin sama seperti analogi Alice dan Red Queen yang berlari sekencang mungkin tapi tetap berada di bawah pohon yang sama. Yang berarti, semaju apapun teknologi yang kita capai, sebenarnya kita hanya jalan di tempat jika tanpa dibekali rasa hormat pada alam dan sekitarnya. Maka tidak heran jika ada kelompok vegetarian yang tidak mengonsumsi madu.


Sebenarnya, dokumenter ini hendak menyiratkan suatu hal. Markus Imhoof mengunjungi peternakan lebah yang sangat besar dan juga peternakan lebah sederhana. Kedua hal ini diperbandingkan, mana yang terkesan "rakus" dan mana yang merasa berkecukupan. Mana yang kehilangan banyak populasi lebah karena memperlakukan lebah layaknya budak, dan mana yang berhasil mengembang-biakkan lebah dengan baik dan etis. Sehingga kemudian penonton pun dapat menilai sendiri, untuk kemudian dapat menentukan dari peternakan lebah mana yang layak untuk didukung dan dikonsumsi hasil budidayanya.



Switzerland | 2012 | Documentary | 95 min | Aspect Ratio 1.85 : 1

Rating?
7 dari 10

- sobekan tiket bioskop versi Europe on Screen tanggal 3 Mei 2014 -


0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top