01 February 2016
0 kritik

Siti

"Sederhana dan membumi, film ini berkata jujur tentang ketidakadilan yang dialami oleh wanita"

Film ini menceritakan dua hari dalam kehidupan Siti, seorang ibu rumah tangga yang bekerja keras untuk menghidupi ibu mertua, suami, dan anak satu-satunya. Suaminya lumpuh karena kecelakaan kapal setahun yang lalu, dan Siti harus bekerja siang dan malam untuk membayar uang pinjaman atas kapal yang hilang tersebut. Siti berjualan peyek jingking di Parangtritis pada siang hari, dan menjadi pemandu karaoke pada malam hari. Pekerjaan yang kedua ini membuat suaminya tidak mau berbicara pada Siti lagi. Sementara seorang polisi, Gatot, menyukai dan ingin menikahinya. Siti pun berada dalam dilema antara mengurusi keluarganya atau memilih kebahagiaan akan dirinya sendiri.

Kisah yang ditulis dan disutradarai oleh Eddie Cahyono ini memang sangat sederhana dan dekat dengan kehidupan orang Indonesia sehari-hari. Apa yang dialami oleh Siti bisa jadi dialami oleh ratusan ibu-ibu rumah tangga yang hidup di bawah garis kemiskinan di seluruh Indonesia. Tetapi karena keberanian dan kejujuran film ini, yang membuat film Siti menjadi spesial - kalau bukan, terbaik.



Visualnya pun sangat sederhana. Ditampilkan dalam warna hitam-putih, yang bisa dibilang simbolik monotonnya hidup Siti kalau tidak mau disebut sebagai alternatif menghemat budget yang demikian rendah. Tetapi film ini banyak menyajikan adegan long take, yang bukan saja menuntut staging yang apik dan tertata, tetapi juga menaikkan tensi yang sedang dialami oleh karakter Siti di layar. Banyak pula bahasa-bahasa gambar yang menyerahkan tabis interpretasi sepenuhnya pada penonton, ditambah dengan adegan-adegan mimpi yang penuh dengan makna simbolik. Arahan musik yang kelewat artistik, ternyata melebur pada adegan dan menambah kesulitan hidup yang dialami oleh Siti.

Lantas apa yang hendak disampaikan oleh Eddie Cahyono dalam film yang hanya berbudget 150 juta rupiah ini? Dengan tokoh utama seorang perempuan, mungkin saja film ini ingin memberikan gambaran mengenai ketidakadilan yang dialami oleh kaum perempuan. Suami sakit, anak sekolah, terlilit hutang, maka wajar jika Siti mengeluh dalam bahasa jawa khas Jogja, "aku kudu piye?". Tetapi dengan cermat, Eddie tidak ingin menghakimi satu pihak pun yang lantas harus bertanggung jawab atas apa yang dialami oleh Siti. Semuanya dalam area abu-abu, yang mungkin menjadi satu makna simbolik lagi dari warna hitam putih sepanjang film.


Gue suka penampilan adegan yang seakan membandingkan antara karakter Siti, karakter Bagas anaknya, dan bahkan karakter si suami. Masing-masing karakter digambarkan lebih memilih diam tak berbicara jika dikonfrontasi dengan pertanyaan menyudutkan - dalam situasi yang berbeda. Entah bagaimana Bagas yang tidak mau makan atau sekolah, atau Siti yang menghiraukan Gatot. Namun itu semua dipertegas dengan karakter Bagus si suami, yang memilih menyuarakan isi hatinya lewat puasa bicara ketika Siti bekerja sebagai pemandu karaoke dan harus melayani pria-pria mesum. Bedanya hanya Bagus tidak dapat lari atau kabur menghindar, tidak seperti Siti yang bisa kabur masuk toilet atau Bagas yang lari ke pantai.

Sebuah pilihan bertindak yang sangat biasa bagi masyarakat Indonesia, bahkan oleh seorang yang pernah menjabat sebagai presiden. Terkadang memilih diam memang cukup bijak agar tidak salah mengemukakan kata yang dapat memancing hal yang tidak diinginkan. Tetapi mengutarakan keinginan terdalam tetap menjadi satu-satunya komunikasi yang sangat efektif dan sempurna. Dengan menyampaikan apa yang dipikirkan dan dirasakan, sehingga si penerima pesan pun paham dengan jelas. Dengan begitu, si penerima pesan pun tidak perlu larut dalam setiap asumsi di pikiran, tanpa harus mengambil keputusan yang salah. Hal ini pun juga tergambar dengan sangat baik lewat penutup cerita yang diberikan.


Indonesia | 2014 | Arthouse / Drama | 88 mins | Aspect Ratio 1.33 : 1

Rating?
8 dari 10

Pemenang untuk Film Terbaik, Skenario Asli Terbaik, Penata Musik Terbaik, Unggulan untuk Sinematografi Terbaik, Sutradara Terbaik, Festival Film Indonesia, 2015.

Pemenang untuk Film Fiksi Panjang, Poster Film, Apresiasi Film Indonesia, 2015.

- ulasan / review sobekan tiket bioskop tanggal 1 Februari 2016 -

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top