10 February 2016
3 kritik

About A Woman

"Drama sederhana dan kelewat jujur dalam menabrakkan norma agama dengan seksualitas"

Seorang janda berumur 65 tahun terpaksa tinggal sendirian di rumahnya, setelah kepergian asisten rumah tangganya yang setia selama ini. Menantunya mengirim kemenakannya yang baru lulus SMA, Abi, untuk membantu di rumah tersebut. Janda yang mempertanyakan kecantikannya yang memudar dan Abi yang meluap-luap karena pubertas mulai mengubah cara pandang terhadap satu dengan yang lain. Dari canggung dan kaku, menjadi saling tertarik.

About A Woman adalah bagian dari Trilogi Keintiman karya sutradara dan penulis naskah Teddy Soeriaatmadja. Agama, seksualitas, dan transformasi masih menjadi hal utama yang diangkat seperti dua film lainnya; Lovely Man dan Something in the Way. Konflik yang dihadirkan cukup paralel, dengan menabrakkan norma agama dan seksualitas yang terbilang masih tabu bagi kacamata orang Indonesia yang berbudaya Timur. Hasil dari niatnya - entah kesengajaan atau tidak - sangat berhasil ketika bagaimana penonton tertawa risih atau jijik pada adegan-adegan intin dan privat macam masturbasi. Menonton film ini di bioskop jelas memberikan pengalaman yang sempurna dengan melihat bagaimana reaksi penonton, yang sangat signifkan mendukung gambaran yang disajikan Teddy dalam filmnya.



Dengan tempo lamban dan cenderung sunyi tanpa scoring atau soundtrack sekalipun, film ini jelas bukan film untuk semua orang. Film ini begitu sabar untuk memperlihatkan kepada penonton bagaimana rutinitas harian si Janda - yang bahkan penonton tidak begitu peduli lagi akan siapa namanya, karena saking sudah memahami benar setiap sisi dari karakternya. Banyak simbol-simbol yang cenderung mudah ditangkap untuk menggambarkan transformasi dari si Janda, seperti bagaimana kebiasaannya untuk memanggil asisten rumah tangganya - namun tidak nampak ketika Abi tiba.

Kisahnya sangat sederhana; seorang janda yang tinggal sendirian dan seringkali tidak mengakui bahwa dirinya kesepian. Ego dan pengalaman hidup menjadi tembok besar untuk mengakui rasa sepi tersebut, yang pada akhirnya membuat jurang deviasi antara ideal self dan real self semakin lebar. Belum lagi dengan fakta bahwa kecantikannya memudar, yang masih belum dapat ia terima. Ketika karakter Abi masuk dalam cerita dengan berbagai karakteristik yang berbanding terbalik - termasuk umur - seperti mengisi celah jurang yang ternganga lebar itu. Akhirnya ada seseorang yang masih dapat menghargai penampilan fisiknya, terlepas dari jurang umur yang mengaga lebar diantara mereka.


Film ini jelas membawa pesan yang kuat bagi penonton, khususnya dalam konteks Indonesia. Tergantung dari mana sudut pandangnya, film ini dapat dibahas dari berbagai segi. Mulai dari segi feminisme hingga dari segi psikologi, yang jelas darimana pun dapat memberikan pemahaman lebih baik pada karakter dalam film ini yang sangat manusia dan dekat dengan dunia nyata. Keberanian Teddy dalam menampilkan karakter manusianya dengan sejujur mungkin, terkadang akan menimbulkan konsekuensi negatif dari LSF Indonesia - salah satu alasan mengapa Teddy ogah mendistribusikan film ini ke bioskop atau bahkan ke keping digital. Jelas Teddy ingin menyampaikan pesan seutuh mungkin, meski harus berkeliling dari satu festival ke festival film lainnya demi menyebarkan pesannya.



Indonesia | 2014 | Drama / Arthouse | 76 menit | Flat Aspect Ratio 1.85 : 1

Rating?
8 dari 10

- sobekan tiket bioskop tanggal 10 Februari 2016 -

3 kritik:

  1. Hi Tim,

    Gimana caranya penggemar film awam seperti saya ini bisa menonton film2 macam begini? Bisa diakses di mana?
    Saya juga belum berkesempatan nonton "What they talk about when they talk about love" karya Mouly Surya.
    Ada saran?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo! Film ini saya tonton di Plaza Indonesia Film Festival di Jakarta. Film-film begini memang bisa ditonton di berbagai film festival. Buka mata buka telinga aja kalau ada film festival yang akan atau sedang tayang di kota kamu!

      Delete
    2. Hai Hen Sam,
      di jakarta sekarang ada ruang nonton alternatif namanya Kinosaurus. Waktu itu pernah puter ini juga..

      Delete

 
Toggle Footer
Top