17 February 2016
0 kritik

Friend Request

"Horor jump-scares yang bermain di ranah media sosial"

Sebagai orang populer di kampus, Laura memiliki akun media sosial yang cukup aktif dengan total teman nyaris menembus angka seribu. Namun Laura ketambahan satu teman yang akan menjadi titik balik popularitasnya. Ternyata satu teman ini, Marina, adalah seorang penyendiri dengan profil media sosial yang sangat aneh. Belum lagi perilaku Marina terhadap Laura yang terbilang obsesif, membuat Laura mengklik unfriend terhadap Marina. Tidak terima, Marina pun bunuh diri dengan merekam aksi bunuh dirinya lewat webcam pada laptop-nya. Semenjak itu, teman-teman baik di sekitar Laura pun meninggal satu persatu lewat serangkaian kejadian aneh.

Dihantui lewat media sosial jelas sangat mirip dengan premis dari Unfriended (2015) yang batal rilis di bioskop Indonesia tahun lalu. Namun Friend Request yang diproduksi oleh Jerman ini memperluas tidak hanya bersetting sepenuhnya pada video call, tetapi juga premisnya dengan menambahkan hal lain. Ya, penonton memang selalu menginginkan kejelasan apa yang bisa membuat arwah orang yang mati (bunuh diri) dapat bergentayangan di internet, dan pada media sosial khususnya. Friend Request memberikan kejelasan ini dengan cukup baik.



Sebagai film horor, Friend Request telah memenuhi tujuannya dengan cukup baik. Meski mengandalkan jump-scares semata, tetapi setiap adegannya memang cukup mengagetkan. Tidak terlalu menakutkan memang, karena mereka hanya menggunakan wajah yang di make-up seseram mungkin dan efek suara yang sekeras mungkin. Namun sayang, intensitas ketegangan itu tidak terbangun dengan baik karena tempo yang berantakan. Seringkali drama yang disajikan terlalu lamban dan panjang. Malah ketika tensi sudah naik dalam adegan menegangkan, tempo harus diturunkan dengan drama yang cukup distracting dari titik ketegangan tersebut. 

Seperti Unfriended (2015), film ini membangun nuansa horor diatas pondasi ketergantungan anak muda terhadap internet dan media sosial. Bahkan plot horor yang digunakan bermain-main di ranah media sosial. Dengan menggunakan mitologi fiksi "black mirror" yang seakan menyindir banyak orang yang di era modern ini selalu menatap layar laptop dan telepon genggam yang tampak seperti kaca berwarna hitam. Untuk yang satu ini memang perlu diacungi jempol, meski rasanya terlalu jauh untuk berharap bahwa banyak orang akan kapok pada teknologi komunikasi. Malahan, film ini cenderung menggiring banyak orang untuk berhati-hati pada seseorang yang suka menyendiri, selalu memakai baju hitam, dan muka pucat.


Germany | 2016 | Horror | 92 Mins | Scope Aspect Ratio 2.35 : 1
Rating?
6 dari 10

- sobekan tiket bioskop tanggal 18 Februari 2016 disponsori oleh IDFilmCritics dan BookMyShowID -

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top