03 February 2016
0 kritik

A Copy of My Mind

"Drama romansa yang menyentuh hati tentang bagaimana rakyat jelata terpengaruh oleh situasi politik yang ada"

Sari adalah seorang terapis muka yang bekerja di salon murah, yang setiap pulang kerja selalu membeli DVD bajakan dan menontonnya di kamar kos. Salah satu DVD yang ia beli tidak memiliki subtitle bahasa Indonesia yang bagus, lalu Sari pun mengembalikannya. Ternyata hal tersebut mempertemukan Sari dengan Alex, seorang pria yang bekerja menerjemahkan semua DVD bajakan hanya dengan Google Translate. Kisah cinta mereka pun tumbuh, kemudian diuji di tengah hiruk pikuk Pemilihan Presiden tahun 2014 yang walau jauh tetapi mempengaruhi rakyat jelata macam Sari dan Alex.

Siap-siap untuk menerima hal baru dari seorang Joko Anwar dalam film panjang kelimanya ini. Lupakan sejenak komedi sederhana dan ringan dari Janji Joni (2005). Tinggalkan pula nuansa thriller dan noir dari Kala (2007), Pintu Terlarang (2009), dan Modus Anomali (2012). Mari masuk dalam eksplorasi baru dari bang Joko terhadap isu yang lebih realistis di Indonesia, mulai dari isu sosial hingga politik. A Copy of My Mind bergerak dalam ranah bagaiman situasi politik yang sedang terjadi dapat mempengaruhi orang kecil yang tidak ada sangkut pautnya dengan pergerakan politik tersebut - terlepas seberapa pedulinya orang tersebut terhadap dunia politik dan sosial secara makro.



Bang Joko sangat sabar dalam menggambarkan karakter Sari dalam filmnya. Lensa kameranya menangkap kehidupan Sari, dan dengan tempo selamban dan sesunyi mungkin tanpa dialog, jelas menuntut penonton untuk memahami perspektif dan cara pandang seorang Sari. Banyak sekali adegan-adegan seperti yang bang Joko sarankan dalam film Melancholy is a Movement (2014); "kamera sorot karakter, sama-sama diem, biar penonton kira ada makna yang tersirat, deep deep gimana gitu". Harus gue akui, eksplorasi bang Joko dalam film yang jatuh dalam ranah arthouse ini terbilang berhasil dan efektif.

Kalau boleh ditambah, jalan ceritanya pun tergolong cerdas dan rapi. Kita semua tahu bagaimana kualitas naskah yang sudah pernah digarap oleh bang Joko seperti Arisan! (2003), Jakarta Undercover (2007), Quickie Express (2007), dan Fiksi (2008). Jika masih ada ciri khas yang tersisa dalam A Copy of My Mind, maka dari naskah dengan subplot dan pilihan lelucon yang memang kocak serta bernada sinis terhadap situasi sosial yang nyata terjadi. Cenderung inside jokes sih, dalam artian rasanya hanya orang Indonesia yang mengerti. Seperti contohnya bagaimana ada adegan demonstran bayaran, keinginan Sari memperoleh DVD bajakan kualitas orisinil, film monster campuran buaya dan ikan, bahkan sampai kasus korupsi Angelina Sondakh. 


Tara Basro jelas tampil maksimal dalam film ini, dan memang sebuah penampilan dari penghargaan Aktris Terbaik dalam Festival Film Indonesia 2015. Dia benar-benar melebur dalam karakter Sari yang digambarkan begitu polos dan tergolong masih hijau bagi seseorang yang bekerja dan bertahan hidup di Jakarta. Pilihan tindakannya selalu satu langkah di belakang dan cenderung membawanya kepada masalah baru. Pertemuannya dengan Alek seperti melengkapi segala kekurangan tersebut, yang diperankan dengan baik - kalau tidak mau disebut formulatif dari seorang Chiccho Jerikho yang masih nyaman bermain di zona nyamannya. Adegan intim mereka harus diacungi jempol sebagai akting yang berani, berhasil lulus sensor, dan masih dalam ranah artistik.

Secara keseluruhan, film ini jelas menjadi udara segar baru dunia perfilman Indonesia, dan filmography Joko Anwar pada khususnya. Unsur arthouse dengan tempo lambat dan sunyi-nya mungkin bersaing dengan Siti (2014), meski di 3/4 film ini atmosfer yang tadinya nyaman berubah drastis menjadi menegangkan. Meski hal tersebut dapat diimbangi dengan baik dan tempo film kembali ke jalur semula hingga akhir film. Mungkin memang film ini bukan untuk semua orang dan agak sulit untuk meraup jumlah tiket yang banyak. Tetapi semoga dengan tenarnya nama Joko Anwar sendiri membuat banyak orang mau menonton film ini sebagai tambahan referensi mereka bagi film-film berkualitas.



Indonesia / South Korea | 2015 | Arthouse / Drama / Romance | 116 mins | Scope Aspect Ratio 2.35 : 1

Rating?
8 dari 10

Pemenang dalam Sutradara Terbaik, Pemeran Utama Wanita Terbaik, Penata Suara Terbaik, Unggulan dalam Pemeran Pendukung Pria Terbaik, Pengarah Sinematografi Terbaik, Penata Musik Terbaik, Film Terbaik, Festival Film Indonesia, 2015.

- sobekan tiket bioskop tanggal 3 Februari 2016 -

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top