24 February 2016
0 kritik

A War

"Setengah perang dan setengah courtroom drama, film ini lugas dalam menyampaikan dilema moral menyangkut nyawa manusia"

Komandan Michael Pedersen memimpin pasukannya untuk menjaga perdamaian di sebuah desa di Afghanistan. Sementara istri beserta tiga anaknya harus menjalani hidup keseharian tanpa kehadiran sang ayah di Denmark. Dalam sebuah tugas patroli rutin, Komandan Pedersen beserta pasukannya terlibat dalam baku tembak hebat dengan kelompok Taliban. Ia pun harus mengambil keputusan sulit demi menyelamatkan pasukannya - dan juga demi keluarganya. Sebuah keputusan yang akan menghantuinya bahkan seusai masa tugasnya.

Film asal Denmark yang masuk nominasi Oscar dalam kategori Best Foreign Film ini tidak semata-mata mengisahkan masa tugas tentara dalam daerah konflik saja. Layaknya film-film perang modern, A War, atau Krigen dalam bahasa Denmark, juga mengangkat tema konsekuensi perang di era modern ini - khususnya dalam kehidupan keseharian di tempat tinggal masing-masing pihak. Dibawakan dalam genre drama yang penuh tensi, dengan gaya shaky cam yang menggambarkan ketidakstabilan situasi dan kondisi yang ditampilkan di layar.



Dengan banyak bahasa gambar, dan tanpa penjelasan apapun terhadap apa yang sedang terjadi di layar, membuat film ini bukan untuk semua orang. Banyak adegan-adegan yang tampak tidak saling berhubungan antara satu dengan yang lain, seakan sebuah diary atau scrapbook dengan benang merah yang cukup laten. Hal ini memang memancing penonton untuk menemukan benang merah tersebut, untuk kemudian menggali lebih dalam dan merangsang pikiran untuk turut menyumbangkan pendapat terhadap apa yang sedang dialami oleh karakter kita.

Bisa dibilang, A War dibagi dalam tiga bagian besar. Bagian pertama adalah keseharian Komandan Pedersen dalam menjalani tugas di Afghanistan, yang penuh tensi meski hanya menjaga perdamaian. Terutama ketika nyawa menjadi taruhan di tempat yang asing, dengan penduduk setempat yang tidak menginginkan kehadiran mereka. Bagian kedua adalah keseharian istri dan ketiga anaknya di Denmark yang hidup nyaman dan tanpa resiko kehilangan nyawa, mereka berjuang untuk hidup tanpa kehadiran seorang ayah dan suami. Sulitnya, mereka semua menghadapi hal tersebut dengan caranya masing-masing, meski terkadang dengan cara yang tidak menyenangkan. Bagian ketiga adalah drama pengadilan penuh tensi yang dengan lantang mempertanyakan dilema moral, yang jelas akan membuat batasan baik-buruk pada diri anda menjadi kabur.


Bagian pertama dan kedua dibangun dengan sangat rapi dan deskriptif, seakan mempersiapkan kita dengan segala macam motivasi dan tujuan dari setiap karakter dengan begitu dalam. Ketika sudah benar-benar paham dengan situasi beserta latar belakang karakter, kita pun dihadapkan pada konflik utama - yang kemudian membawa kita kepada bagian ketiga. Courtroom drama pun menjadi representasi simbolis yang sangat lugas dalam memberikan sistematika logis terhadap konflik tersebut. Dua sudut pandang logis pun ditabrakkan, yang jelas akan memecah penonton menjadi dua kutub yang berbeda.

Secara keseluruhan, A War jelas menjadi sebuah film yang perlu dimasukkan dalam daftar tontonan dengan kategori drama perang. Film ini memberikan sudut pandang baru dalam konsekuensi tidak langsung dari aktivitas kontak senjata di era modern ini. Sudut pandang dilema moral yang benar-benar rumit tanpa adanya batasan yang jelas, terutama menyangkut nyawa manusia. Sebuah tontonan yang apik, meski tanpa memberikan jawaban yang jelas - hanya menambah rentetan pertanyaan yang harus kita jawab sendiri.



Denmark | 2015 | Drama / War | 115 mins | Flat Aspect Ratio 1.85 : 1


Rating?
8 dari 10

Nominated for Best Foreign Film, Academy Awards, 2015.

- sobekan tiket bioskop tanggal 24 Februari 2015 disponsori oleh IDFilmCritics dan BookMyShowID -

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top