27 February 2016
0 kritik

Crouching Tiger, Hidden Dragon: Sword of Destiny

"Hadir khusus dalam format IMAX, cukup sayang untuk melewatkan sekuel dari film klasik ini di layar lebar - meski ekspektasi harus diturunkan"

Delapan belas tahun sejak kematian Li Mu Bai, Shu Lien kembali harus menjaga pedang pusaka giok hijau agar tidak jatuh ke tangan orang jahat. Setelah terpengaruh oleh peramal misterius, Hades Dai ingin mendapatkan pedang pusaka tersebut agar menjadi orang yang paling kuat di dunia bela diri. Perebutan pedang pusaka tersebut pun terjadi di tengah tumbuhnya para ksatria muda yang berbakat. 

Menonton Sword of Destiny, malah membuat gue semakin memuja prekuelnya, Crouching Tiger, Hidden Dragon (2000) yang disutradarai oleh Ang Lee. Layaknya formula sekuel yang terpisah lebih dari lima tahun dari prekuelnya, Sword of Destiny tampak sebagai copy-and-paste dari CTHD dengan plot cerita yang mirip - ditambah dengan karakter dari generasi baru. Perbutan pedang pusaka di tengah-tengah masa lalu yang kelam, dan bagaimana setiap karakter harus menghadapi dirinya sendiri sebelum bertempur dengan lawannya.


Masih dengan ciri khas CTHD, Sword of Destiny masih menyajikan adegan-adegan panoramik yang sangat indah dan memukau. Lanskap New Zealand dan China memang sangat menghibur mata, meski porsinya yang kelewat sedikit dalam keseluruhan durasi. Meski efek visual di beberapa adegan panoramik kurang rapi, tapi rasanya masih dapat dimaklumi. Jualan utama film ini memang koreografi bela diri yang cukup artistik dan sangat menghibur. Sampai titik ini, Sword of Destiny memang memenuhi tujuannya sebagai film hiburan dalam genre martial art.


Namun membawa nama besar Crouching Tiger, Hidden Dragon yang terlanjur masuk dalam ranah klasik, Sword of Destiny jelas semakin tenggelam. Kembalinya Michelle Yeoh untuk memerankan Shu Lien, ditambah dengan master Donnie Yen yang tenar lewat trilogi Ip Man rasanya tidak mampu mengangkat film ini meski dengan ilmu meringankan tubuh sekalipun. Ceritanya kelewat sederhana, dan cenderung dangkal jika dibandingkan dengan prekuelnya yang cukup filosofis. Layakny Rey dan Finn, dua karakter baru dan muda memang diangkat untuk menjembatani generasi baru saat ini yang mungkin belum mengenal CTHD yang dirilis 16 tahun yang lalu. Namun hal ini pun belum mampu mengangkat Sword of Destiny hingga ke level yang sama dengan prekuelnya. 

Film ini memang diproduksi oleh Netflix, dan hanya tayang di media online streaming tersebut. Namun IMAX mendapat kesempatan emas untuk menayangkan film ini khusus pada layar lebar mereka. Bagi anda yang memang fans dari CTHD yang klasik, rasanya akan sayang untuk melewatkan sekuelnya ini pada format layar besar sekelas IMAX - meski ekspektasinya harus diturunkan sedemikan rupa. Adegan panoramik dan perkelahian bela diri sangat nikmat untuk ditonton di layar yang selebar pandangan mata anda. Apalagi munculnya kembali scoring klasik yang menyayat hati itu, hadir dalam tata suara yang sophisticated. Namun bagi anda yang belum mengenal prekuelnya dan hanya penasaran, rasanya ditonton lewat Netflix pun akan cukup.


China | 2016 | Action / Adventure / Drama | 96 mins | Scope Aspect Ratio 2.35 : 1

Rating?
7 dari 10

- sobekan tiket bioskop tanggal 27 Februari 2015 disponsori oleh IDFilmCritics -

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top