14 February 2016
0 kritik

Room

"Drama dengan pesan yang kuat dan luas yang melampaui segala keterbatasan ruangan dalam kisahnya"

Seberapa besar (atau kecil) batasan lingkup dunia untuk membuat seseorang merasa bahagia? Seberapa banyak (atau sedikit) pengetahuan yang perlu di dapat untuk menyempurnakan kebahagiaan tersebut? Apa jadinya jika seseorang yang sejak lahir sampai berumur lima tahun hanya hidup dalam satu ruangan kecil, untuk kemudian keluar dan melihat bahwa ternyata dunia yang selama ini ia kenal tidak sekecil itu? Meski tidak merujuk pada satu kasus tertentu, rasanya memang penulis naskah dan novel Emma Donoghue terinspirasi dari berbagai kasus penculikan jangka panjang - yang ternyata ada yang dikurung selama 28 tahun (bisa dibaca disini).

Diceritakan dari sudut pandang si anak Jack, film ini mengeksplorasi perkembangan psikologis Jack yang dikurung dalam satu ruangan kecil dari lahir hingga beberapa hari setelah ulang tahunnya yang kelima. Meski kita semua paham betul bahwa pada akhirnya ibu - yang disebut dalam film ini sebagai "Ma" - dan Jack akan bebas dari masa penculikannya selama tujuh tahun, namun Room lebih fokus pada bagaimana Jack memandang dunianya dari dua pengalaman yang jauh berbeda. Mulai dari bagaimana Jack menjalani hidupnya di dalam ruangan kecil hanya dengan satu jendela yang menghadap ke langit, hingga masa-masa kebebasannya dan perkenalannya terhadap dunia "baru".


Room jelas adalah sebuah film yang sangat kuat dalam mempengaruhi emosi para penontonnya. Penampilan aktor kecil Jacob Tremblay jelas sangat memancing empati dengan kepolosan - dan juga kepintarannya. Apalagi sepanjang 118 menit kita seakan dibawa menikmati dua dunia yang berbeda dari kacamata Jack yang naif. Yang menarik adalah melihat bagaimana pengaruh penculikan jangka panjang tersebut terhadap kondisi psikologis Ma dan sang nenek dari mata Jack yang hanya bisa mengobservasi dari luar tanpa bisa mengambil asumsi apapun. Kondisi emosional Ma yang jelas sangat labil dengan pengalaman traumatis yang dialaminya, namun semua itu hanya ditelan sepenuh hati oleh Jack.


Dengan cerita yang sederhana dan setting yang terbatas ruang, Room membawa pesan yang lebih banyak dan jauh lebih luas ketimbang ruangan kecil tempat Ma dan Jack dikurung - atau bahkan lebih luas ketimbang rumah orang tua Ma. Yang paling jelas terlihat adalah bagaimana cara pengasuhan orang tua dapat mempengaruhi tumbuh-kembang anak. Meski terkesan too good to be true, Jack tumbuh menjadi anak berumur 5 tahun yang sangat bahagia terhadap hal-hal kecil, dan cerdas memilih hal mana yang baik bagi dirinya dan mana yang tidak. Bayangkan saja, ia harus dibesarkan dalam ruangan kecil dengan berbagai pemenuhan kebutuhan yang sangat terbatas - hanya mengandalkan kebutuhan dasar. Entah bagaimana cara Ma untuk membesarkan anaknya dengan segala rupa hal positif dalam hidup, meski ia sendiri harus berjuang untuk dapat tetap waras dalam masa penculikan dan pemerkosaan yang dialaminya.

Pada bagian kedua, kita melihat bagaimana mereka berdua mencoba beradaptasi pada dunia pasca-penculikan dengan masalah dan cara masing-masing. Jack yang seumur hidup belum pernah bertemu dengan orang lain selain ibunya, pada awalnya mengalami kesulitan untuk berbicara dengan orang lain. Tetapi anak umur lima tahun jelas memiliki kemampuan adaptif yang masih sangat bagus. Namun kita harus melihat perjuangan Ma dalam mengadapi pengalaman traumatisnya, dan ternyata kembali ke kehidupan normal tidak semudah yang dibayangkan.


Dilema moral pun muncul ketika isu fokus pada kehadiran Jack pada masa penculikan yang memang membuat hidup Ma menjadi lebih baik dalam menerima stress yang ada. Namun dalam sudut pandang etika, berarti pemikiran tersebut mendegradasi peran Jack yang sejatinya adalah sebuah manusia, menjadi sebuah alat atau objek untuk membuat hidup Ma menjadi lebih baik. Sampai pada poin ini, jelas mengapa aktris Brie Larson memenangi berbagai penghargaan pada kategori Best Actress.

Pada tataran yang lebih luas, Room hadir untuk memberikan gambaran bahwa kebahagiaan dalam hidup tidak ditentukan oleh besaran luas tempat kita menjalani hidup. Beberapa adegan jelas menggambarkan bagaimana Jack sama bahagianya dalam masa penculikannya dalam ruangan kecil, ataupun dalam rumah neneknya yang luas dan dengan lengkapnya berbagai fasilitas pendukung. Semua ini diuntai dengan sangat manis dan heart-wrenching dalam 118 menit yang jelas akan membekas cukup lama dalam memori gue.



USA | 2015 | Drama | 118 mins | Scope Aspect Ratio 2.35 : 1

Rating?
10 dari 10

Won, Best Lead Actress (Brie Larson), Nominated for Best Picture, Best Director, Best Adapted Screenplay, Academy Awards, 2016.

Won for Best Actress - Drama (Brie Larson), Nominated for Best Picture - Drama, Best Screenplay, Golden Globes, 2016.

Won for Best Lead Actress (Brie Larson), Nominated for Best Adapted Screenplay, BAFTA Awards, 2016.

- sobekan tiket bioskop tanggal 13 Februari 2016 -

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top