30 January 2016
One kritik

The Revenant

"Film yang sempurna untuk dinikmati di bioskop dengan layar lebar dan tata suara yang berkelas"

Hugh Glass, seorang pemandu dan pembuka jalan bagi tim ekspedisi perdagangan bulu, terluka parah setelah diserang beruang grizzly yang mematikan. Sulitnya medan ditambah dengan musim dingin yang datang, membuat timnya meninggalkan Glass bersama dengan beberapa orang dalam tim. Namun John Fitzgerald, salah seorang yang menjaga Glass, membuat keputusan yang sangat tidak bisa dimaafkan. Berpegang pada keinginan untuk hidup, dan motivasi untuk menjaga keluarganya, membuat Glass secara perlahan sembuh. Lewat pengalaman dan keterampilan bertahan hidup di tengah kondisi ekstrim, Glass menjelajah hutan demi mencari Fitzgerald untuk menagih apa yang sudah dilakukannya.

The Revenant adalah sebuah film yang dibuat khusus untuk pengalaman sinematik di bioskop, dengan layar lebar dan tata suara yang mumpuni. Visualnya sangat luar biasa, dengan sinematografi long take yang menjadi ciri khas sinematografer Emmanuel Lubezki. Efek suaranya juga sangat efektif menyeret penonton untuk ikut masuk ke dalam hutan, lewat detil suara angin, salju, hingga kayu yang terbakar. Belum lagi dengan scoring yang unik dan sangat efektif menambah intensitas mood adegan. Semua ini demi membungkus kisah yang terinspirasi dari kisah nyata bertahan hidup yang luar biasa dari seorang Hugh Glass, yang diperankan dengan sempurna oleh Leonardo DiCaprio.



Film ini jelas kuat di ranah teknis, dan yang menjadi primadona adalah cara gerak kamera atau sinematografi. Jika Birdman (2015) adalah semacam film eksperimental duet Inarritu dan Lubezki dalam menunjukkan bagaimana teknik long take dapat bercerita dari awal hingga akhir, maka The Revenant adalah versi populer yang memadukan teknik tersebut dengan proses editing yang wajar. Untuk adegan-adegan aksi yang menegangkan, ternyata teknik long take tanpa cut selama beberapa menit sangat berhasil membuat adegan tersebut jauh lebih intens. Khususnya adegan tim ekspedisi dikejar kaum Indian, lalu kamera yang menyorot pihak yang dikejar - dengan sabar - berputar perlahan untuk melihat kelompok yang mengejar. Teknik ini jelas efektif dalam membuat penonton seakan berada di karakter tersebut, yang mencoba lari bertahan hidup dari kejaran kaum Indian.

Melihat film ini jelas akan membuat anda bertanya-tanya, sesulit apa situasi dan kondisi pada saat syuting dilakukan. Hal ini dikonfirmasi oleh sang sutradara sendiri yang berujar bahwa ia tidak akan membuat film yang sejenis mengingat sangat sulitnya proses syuting yang dilakukan selama 80 hari secara kronologis. Apalagi niat keras Inarritu dan Lubezki yang ingin menggunakan cahaya natural - tanpa cahaya buatan - agar film tampak serealis mungkin. Hasil kerja keras mereka memang sangat luar biasa, apalagi dengan suhu dingin ruangan bioskop yang tambah membuat penonton semakin melebur pada karakter Glass yang bertahan hidup di musim dingin.


Sepertinya, The Revenant adalah film yang dibuat khusus oleh Leonardo DiCaprio sebagai kendaraannya untuk meraih piala Oscar pertama untuk karir aktingnya. Memang ini adalah film yang bertema survival yang sama dengan pesaing beratnya, Matt Damon dalam The Martian (2015). Dua-duanya sama-sama menampilkan penampilan yang signifikan dalam membawa mood dan atmosfer film dari awal hingga akhir. Tetapi jika pihak Academy memberikan apresiasi mengenai sulitnya situasi dan kondisi ekstrim yang harus dilalui oleh seorang aktor yang dapat tetap mempertahankan karakternya dengan sangat baik, maka rasanya piala Oscar tersebut akan menjadi milik Leo. Apalagi konon bagaimana Leo harus benar-benar memakan hati bison ketika ia adalah seorang vegetarian.

Secara keseluruhan, akan sangat disayangkan untuk melewatkan The Revenant di bioskop. Efek suaranya menakjubkan, keajaiban visual dan teknik kamera-nya sangat memanjakan mata dan mempengaruhi emosi cerita. Durasi 2 jam 26 menit memang terasa agak lama dan sedikit melelahkan untuk mengikuti proses bertahan hidup Hugh Glass. Apalagi dengan segala kekerasan grafis yang ditampilkan dengan sangat realistik, yang membuat gue meringis seperti anak kecil. Namun rasanya hal tersebut memang sengaja dibawakan agar penonton benar-benar merasakan apa yang dirasakan oleh seorang Hugh Glass - apalagi dengan adegan terakhir sebelum credit title merangkak naik. Bukan hanya karena 12 nominasi Oscar yang diraih film ini, tetapi pengalaman sinematik yang sempurna yang membuat gue bisa bilang bahwa ini adalah salah satu film terbaik di tahun ini.


USA | 2015 | Adventure / Drama | 156 mins | Scope Aspect Ratio 2.35 : 1

Rating?
10 dari 10

Won for Best Director, Best Cinematography, Best Lead Actor, Nominated for Best Motion Picture, Best Lead Actor, Best Editing, Best Production Design, Best Costume Design, Best Makeup and Hairstyling, Best Sound Mixing, Best Sound Editing, Best Visual Effects, Academy Awards, 2016.

Won for Best Motion Picture Drama, Best Actor Drama, Best Director, Nominator for Best Score, Golden Globes, 2016.

Nominated for Best Film, Best Lead Actor, Best Cinematography, Best Editing, Best Original Music, Best Makeup and Hair, Best Sound, BAFTA Awards, 2016.

- sobekan tiket bioskop tanggal 30 Januari 2016 -

1 kritik:

 
Toggle Footer
Top