29 January 2016
0 kritik

Aach... Aku Jatuh Cinta

"Kisah cinta remaja klasik dengan kemasan populer dari Garin Nugroho"

Yulia dan Rumi tumbuh bersama karena mereka bertetangga sejak kecil. Kenakalan Rumi selalu membuat Yulia menangis, dari kecil sampai SMA. Namun ternyata, kekacauan yang selalu ditimbulkan Rumi membekas di hati Yulia. Begitu juga dengan Rumi yang mencintai Yulia tetapi tidak pernah tahu bagaimana cara yang tepat untuk mengungkapkannya. Kisah cinta dan benci mereka terukir dalam pergantian era mulai dari tahun 70-an, 80-an, dan 90-an. Di tengah jaman yang berubah drastis dan konflik keluarga masing-masing, kisah cinta mereka tercatat dalam buku harian Yulia.

Dua puluh lima tahun semenjak Cinta dalam Sepotong Roti (1990), sutradara Garin Nugroho kembali mengangkat film romansa remaja. Meski menggunakan aktor dan aktris yang tengah naik daun saat ini, Garin mengangkat latar tahun 70-an hingga tahun 90-an yang memiliki ciri khas-nya masing-masing. Perubahan jaman dari era radio ke televisi dan tumbuhnya generasi bunga ternyata memberikan pengaruh tidak langsung terhadap kisah cinta Rumi dan Yuli. Dibawakan dengan bahasa gambar khas seorang Garin Nugroho, dialog-dialog puitis nan baku ala Indonesia tahun 70-an, serta penampilan brilian dari Chicco Jerikho dan Pevita Pearce, jelas menjadikan Aach... Aku Jatuh Cinta sebagai standar baru film romansa remaja.



Film ini jelas sebagai film yang paling populer dan komersial bagi sutradara dan penulis naskah sekelas Garin Nugroho. Jalan cerita yang dibawakan jelas jauh lebih ringan dan jauh lebih mudah dicerna ketimbang deretan film Garin lainnya. Apalagi formula kisah cinta klasik model Tom and Jerry yang imbang antara saling suka dan saling benci terhadap satu dengan yang lain. Ditambah dengan aktor dan akrtis yang sudah sangat familiar bagi banyak mata orang Indonesia. Semua itu dibungkus dengan lakon komedi yang memang kocak, tidak berlebihan, dan efektif.

Namun tidak semudah itu Garin tunduk pada selera pasar kebanyakan saat ini. Ciri khas-nya tetap kental, meski dibungkus gaya populer. Banyak bahasa-bahasa gambar yang berbicara lewat keindahan visual dan sinematografi. Banyak pula deretan dialog kelewat puitis yang menyimpan berbagai makna lewat setiap kata. Memahami rumitnya romansa antara Yulia dan Rumi pun memang harus sedikit merangkai dari dialog dan bahasa gambar yang disajikan selama 85 menit. Sulitnya memahami Rumi layaknya memahami karakter Eleanor yang bersikap dingin dalam The Disappearance of Eleanor Rigby (2014). Ya, film ini memang diceritakan murni dari sudut pandang sang wanita saja, yang membuat penonton dapat memijak bagaimana rasanya berada di posisi Yulia.


Secara keseluruhan, Aach... Aku Jatuh Cinta seakan menjadi standar baru dalam film romansa remaja, khususnya kisah cinta yang klasik. Kisah yang sangat manis, dan dengan dialog yang memang wajar diucapkan di Indonesia pada jaman tersebut - meski pada saat ini terkesan kaku dan cheesy. Ditambah dengan bonus untuk mengintip bagaimana situasi Indonesia di era 70-an, dengan gaya berbusana serta kesulitan ekonomi yang meradang pada saat itu.


Indonesia | 2015 | Drama / Romance | 85 mins | Scope Aspect Ratio 2.35 : 1

Rating?
7 dari 10

- sobekan tiket bioskop tanggal 29 Januari 2016 -

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top