12 January 2016
0 kritik

Ngenest

"Diangkat dari kisah nyata, bercerita tentang perjuangan Ernest Prakasa menjadi seorang Indonesia meski bermata sipit"

Diadaptasi dari trilogi buku berjudul sama, film ini menceritakan kisah nyata perjalanan hidup Ernest sebagai seorang keturunan Tionghoa yang hidup sebagai minoritas di Indonesia. Memiliki mata sipit dan berkulit putih membuat dia selalu di-bully sejak SD hingga kuliah. Ernest pun mengambil kesimpulan bahwa ia harus menjadi sama dengan orang pribumi agar tidak di-bully lagi. Bahkan ia ingin memiliki anak yang tidak bermata sipit, agar anaknya tidak merasakan apa yang ia rasakan. Perjalanan hidup Ernest mencari istri seorang pribumi pun tidak mudah kekhawatirannya untuk punya anak menjadi tembok besar.

Film ini dibungkus dengan sangat ceria dan kelewat kocak, padahal membawa isu yang cukup berat dan sensitif. Humor-humornya sangat efektif, meski beberapa cenderung off. Buat saya sih, adegan beli kondom itu yang jelas bikin ketawa ngakak. Produksinya dan kebanyakan pengambilan gambar memang terlihat semacam FTV, tapi yaaa masih bisa dimaklumi dan bisa dipinggirkan dengan karakter humor yang kental. Selain itu, Lala Karmela cakep! Walaupun ini adalah film kedua baginya, penampilannya sebagai pacar dan istri Ernest cukup meyakinkan. 



Ngenest menjadi sebuah film yang cukup spesial karena ia bercerita dengan sangat jujur dan apa adanya ketika membawakan cerita yang terbilang cukup sensitif di masyarakat Indonesia. Dibawakan dengan cara humor yang sangat efektif, diskriminasi ras terhadap keturunan Tionghoa di Indonesia ini menjadi sangat jelas dan menjadi cerminan yang kuat bagi kita semua. Sebutan-sebutan macam "cina" dan "tiko" sebagai panggilan berbau rasis menjadi hal yang biasa saja dalam ranah humor di film ini. Jelas saja, ketika kita menertawai karakter yang rasis di layar, bukti bahwa kita mengakui setidaknya sekali dalam hidup kita pernah memanggil orang-orang dengan sebutan rasis.

Kekhawatiran Ernest jelas merupakan representasi suara yang sangat signifikan dari banyak warga keturunan Tionghoa di Indonesia, yang selama ini selalu mengeluh dalam lingkaran diskriminasi tiada akhir - bahkan jauh setelah era Orde Baru runtuh dan hari raya Imlek dirayakan seluruh bangsa. Pencarian Ernest akan pacar pribumi, ditambah keinginannya memiliki anak yang tidak bermata sipit, sangatlah jujur dan menggelitik. Tetapi jika direnungkan, hal tersebut adalah hal yang sangat menyedihkan. 


Bayangkan hal tersebut terjadi pada diri anda sendiri; saking tidak sukanya anda pada diri sendiri karena perbedaan fisik, anda ingin agar anak anda tidak mirip dengan anda, lantas mencari calon ibu yang dapat memenuhi keinginan tersebut. Sebuah denial yang sangat besar terhadap diri sendiri, sehingga tidak mampu menghargai dan mengakui perbedaan yang ada pada diri. Kemudian rela untuk meninggalkan jati diri demi menyamakan perbedaan dengan produk mayoritas. Siapa yang harus bertanggung jawab? Jelas pribadi kita semua yang sesekali menyebut orang dengan sebutan ras, sesederhana "ooh yang cina itu ya?".

Sayang sekali Ngenest tidak berhasil menembus angka satu juta penonton di Indonesia, bahkan jauh dari angka 1,2 juta penonton yang diraih oleh Single sebagai film rekan kerjanya Raditya Dika. Kisah Single memang sangat ringan yang mengangkat kisah romansa dewasa muda yang lucu dan kocak, sebuah kisah yang memang sangat menjual dan disukai kebanyakan orang. Padahal Ngenest sendiri mengangkat tema yang cukup penting untuk refleksi bangsa, khususnya untuk semua keturunan asli Indonesia. Apalagi di era sekarang yang gembar-gembor cinta tanah air, entah lewat merchandise atau kampanye pariwisata yang sedang bergejolak.



Indonesia | 2015 | Comedy | 93 mins | Scope Aspect Ratio 2.35 : 1 

Rating?
7 dari 10

- sobekan tiket bioskop tanggal 12 Januari 2016 -

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top