23 January 2016
0 kritik

Surat Dari Praha

"Ramuan cantik antara cinta platonik, sejarah, dan politik di tengah atmosfir kota Praha yang magis"

Laras terpaksa memenuhi wasiat ibunya untuk mengantar sebuah kotak ke Jaya di Praha. Ternyata, pertemuan antara Laras dengan Jaya di negeri asing membuka kisah lama yang selama ini tertimbun waktu. Laras yang dibesarkan di keluarga yang tidak harmonis, harus menghadapi karakter Jaya yang sulit. Ternyata Jaya adalah seorang mantan mahasiswa ikatan dinas yang dikirim oleh pemerintahan Bung Karno, yang kehilangan kewarganegaraan Indonesia setelah menolak mengakui pemerintahan Order Baru. Pertemuan mereka membuat masing-masing Laras dan Jaya menemukan kembali arti kata cinta, dan maaf.

Surat dari Praha adalah sebuah film Indonesia yang dibuat dengan sangat baik dan rapi, melewati riset yang hati-hati dan menyeluruh, dan menghasilkan sebuah sajian hiburan yang kaya akan cerita. Bisa dibilang, film ini cukup cerdas untuk mengangkat tema sejarah dan politik yang dibalut dengan kisah cinta platonik tanpa mengenal batasan usia. Dibungkus dengan bahasa visual yang artistik, dan diiringi oleh lagu-lagu melankolis serta romantis dari Glenn Fredly.


Sutradara dan produser Angga Dwimas Sasongko memang memiliki niat utama yang jelas; mengangkat kisah MAHID (Mahasiswa Ikatan Dinas) yang tidak bisa pulang ke Indonesia lantaran kehilangan kewarganegaraan karena tidak mau mengakui pemerintahan Soeharto, dan harus tinggal selamanya di negeri orang lain. Mereka ini bukan dari ideologi kiri, seperti yang dituduhkan orang banyak. Mereka hanyalah kelompok malang yang berada di persimpangan jalan ketika pergulatan politik terjadi di Indonesia tahun 1965. Hasil riset Angga terhadap "kelompok Praha" banyak menghasilkan detil-detil cerita yang menyedihkan, yang kemudian diangkat dan disatukan dalam film Surat dari Praha.


Berbagai petikan kisah nasib dari pada mahasiswa nasionalis ini yang kemudian dirajut menjadi satu dalam karakter fiksi Jaya. Mulai dari bagaimana Jaya hanya menerima kabar meninggalnya ayah dan ibunya dalam dua kata saja, hingga bagaimana ia tidak dapat memenuhi janji untuk menikahi mantan tunangannya - sebagai konsekuensi penolakannya terhadap Orde Baru. Lalu kisah bagaimana Jaya bertemu dengan anak dari mantan tunangannya ini juga merupakan detil fakta yang ditemukan oleh Angga dan teman-temannya. Semua itu dibalut mejadi satu kisah cinta - sebagai bahasa yang lebih populer bagi penonton kebanyakan - dalam lirik dan melodi dari lagu-lagu ciptaan Glenn Fredly.

Selain itu, gue suka bagaimana naskah yang ditulis oleh Irfan Ramli ini mempertemukan dua karakter yang sama-sama mengalami keterasingan dan berada di persimpangan jalan hidup. Film dibuka oleh konflik saat ini yang dialami oleh Laras, bagaimana ia merasa terasing bahkan dari ibunnya sendiri, disaat ia sedang butuh bantuan dana untuk membiayai perceraiannya. Lalu Laras dipertemukan dengan Jaya yang memiliki konflik masa lalu, yang tidak dapat pulang ke Indonesia untuk menikahi tunangannya. Masing-masing karakter yang mengalami keretakan dalam psikis hidup ini pun menemukan bahwa mereka berdua dapat saling mengisi satu sama lain. Tanpa mengenal batasan usia, hubungan platonik pun terwujud demi masing-masing menemukan kembali jalan hidupnya.


Atmosfer film ini yang dibawakan dengan lamban dan cenderung sunyi, mungkin akan membuat sebagian besar penonton cepat merasa bosan. Apalagi konflik yang dilempar sejak awal film - dan bertahan dengan tensi yang sama hingga pertengahan film - adalah pendekatan yang unik dan dapat membuat penonton tetap duduk penasaran untuk mengetahui kelanjutan jalan ceritanya. Namun pendekatan visual yang dipilih oleh Angga dengan steadicam dan mengelilingi para karakter, sangat efektif menempatkan penonton sebagai penonton drama panggung yang sedang terjadi di layar. Terutama efek shaky yang ada ketika konflik psikologis sedang terjadi dalam adegan.

Secara keseluruhan, ini adalah salah satu film yang akan membuat anda mengubah paradigma bahwa film-film Indonesia saat ini kurang berkualitas. Dibuat dengan sangat rapi dan hati-hati. Sepanjang film gue dibuat takjub dengan tema warna yang sangat jernih dan syahdu - yang mungkin banyak dipengaruhi oleh suasana kota Praha yang magis. Selain itu, lirik dan lagu Glenn Fredly - dalam rangka 20 tahun karir bermusiknya - sangat efektif mempengaruhi mood film ini. Dengan visual yang brilian, staging dan blocking yang artistik, serta jalan cerita yang cukup eye-opening, rasanya sayang untuk melewatkan film ini di bioskop.



Indonesia | 2016 | Drama / History / Romance | 94 mins | Scope Aspect Ratio 2.35 : 1


Rating?
8 dari 10

  • Film Terbaik
  • Penyunting Gambar Terbaik (Ahsan Andrian)
  • Pengarah Sinematografi Terbaik (Ivan Anwal Pane)
  • Penata Musik Terbaik (Thoersi Argeswara)
  • Pemeran Utama Pria Terbaik (Tyo Pakusodewo)
  • Pemeran Pendukung Wanita Terbaik (Widyawati Sophiaan), Festival Film Indonesia 2016

- sobekan tiket bioskop tanggal 23 Januari 2016 -


0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top