19 January 2016
0 kritik

The 33

"Rekonstruksi kejadian runtuhnya tambang dan mengubur 33 penambang selama 69 hari yang menarik dan inspiratif"

Berdasarkan kisah nyata tentang bencana terkuburnya 33 penambang di tambang emas dan tembaga San Jose, Chile selama 69 hari. Pada waktu itu, kondisi tambang memang menyalahi beberapa aturan keselamatan, serta kondisi tanah yang sedang labil. Beberapa penambang sempat menyelamatkan diri ketika tambang runtuh, dan menyisakan 33 orang yang pada waktu itu sedang berada di level yang paling bawah, sekitar 700 meter dari permukaan tanah. Makanan darurat yang ada hanya cukup untuk bertahan selama 3 hari. Namun dengan sistem jatah, mereka dapat bertahan kurang lebih dua minggu, tepat beberapa hari sebelum lokasi mereka ditemukan oleh bor dari tim penyelamat. Kemudian, misi penyelamatan ini pun menjadi konsumsi warga internasional, sebagai simbol nyata dari harapan tanpa henti.

Gue ingat mengikuti berita ini sejak tambang San Jose runtuh pada tanggal 5 Agustus 2010, dan kemudian 33 penambang tersebut diselamatkan pada tanggal 13 Oktober 2010. Waktu itu gue sudah bisa menebak, tinggal menunggu ada film yang mengadaptasi kisah inspiratif ini. Betapa senangnya gue ketika melihat poster The 33 muncul di salah satu bioskop, namun ternyata memang gue harus menahan ekspektasi gue.



Film ini praktis tampil hanya sebagai deskripsi audio visual tentang peristiwa tersebut. Diadaptasi dari buku Deep Down Dark karya Hector Tobar, film ini memang menampilkan momen-momen penting dan signifikan yang benar terjadi. Mulai dari runtuhnya tambang, ditemukannya 33 penambang yang terkubur, hingga detil bahwa dua bor penyelamatan rusak di tengah jalan. Deskripsi audio visual ini memang dibuat jauh lebih dramatis ketimbang dokumenternya, tetapi setidaknya film ini mampu menjaring penonton yang lebih luas. Khususnya mereka yang menyukai Antonio Banderas. 

Diluar deskripsinya yang cukup membuka mata dan inspiratif, The 33 memiliki banyak kekurangan yang menjadikannya jauh dari film yang baik. Yang paling mengganggu gue adalah soundtrack yang dipakai hanya itu-itu saja untuk menggambarkan situasi diatas permukaan tanah. Paham sih, bahwa sutradara Patricia Riggen mungkin mau menyeimbangkan atmosfer film dengan situasi depresif di dalam tanah dengan situasi yang lebih hidup di atas tanah. Tapi ya mungkin tidak dengan satu lagu yang sama kemudian diulang di beberapa adegan yang berbeda. 


Selain itu ya tipikal penyakit film-film biografi pada umumnya; menumpuk berbagai drama tanpa penggalian yang lebih dalam terhadap masing-masing bit. Hasilnya adalah seperti kumpulan cerita pendek - yang dibuat se-melodramatis mungkin - namun dengan titik fokus yang pendek dan kedalaman yang tidak sedalam para penambang ini terkubur di dalam tambang mereka sendiri. Namun dengan tensi yang terasa patah-patah, ending film ini dimana penambang pertama sampai ke permukaan tanah, mampu membuat mata gue basah.

Secara keseluruhan, film ini cukup asyik untuk dinikmati bagi anda penggemar kisah-kisah nyata yang inspiratif. Beberapa drama tampak berlebihan layaknya telenovela Meksiko, tapi tahanlah mata dan hati anda demi Rodrigo Santoro yang tampil semaksimal mungkin untuk menyegarkan mata-mata kaum Hawa. Belum lagi mengetahui beberapa fakta, salah satunya bahwa ternyata para penambang ini tidak mendapat kompensasi atas kecelakaan kerja yang mereka alami. Atau bagaimana mereka membagi rata royalti terhadap penerbitan buku Deep Down Dark. Dijamin, seusai anda menonton pasti kunjungan ke laman wikipedia tentang kisah nyata ini akan mampir di history browser anda.



USA / Chile | 2015 | Drama / Biography | 127 mins | Scope Aspect Ratio 2.35 : 1

Rating?
6 dari 10

- sobekan tiket bioskop tanggal 19 Januari 2015 -

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top