18 January 2016
0 kritik

The Forest

"Horror efektif dengan lokasi menarik di hutan tempat  orang bunuh diri"

Sara Price yang tinggal di AS, harus terbang ke Tokyo untuk menemukan adik kembarnya yang hilang. Hasil laporan polisi mengatakan bahwa mereka melihat Jess masuk ke hutan Aokigahara beberapa hari lalu, sebuah hutan yang dikenal sebagai hutan tempat banyak orang bunuh diri. Ditemani oleh seorang reporter Australia, mereka berdua mencari Jess hingga jauh masuk ke dalam hutan. Keadaan menjadi buruk ketika mereka mulai menghiraukan nasehat penduduk lokal; jangan keluar dari jalur dan jangan masuk hutan jika ada kesedihan dalam diri.

The Forest memiliki keunggulan dalam premis yang dimiliki. Horror fans mana yang tidak tertarik untuk melihat film dengan setting hutan tempat orang bunuh diri? Apalagi lokasi ini memang benar adanya, dan sampai saat ini masih ditemukan mayat-mayat yang meninggal karena gantung diri, overdosis obat, atau sengaja membuat diri tersasar hingga meninggal karena kelaparan dan kehausan. Ditambah lagi negeri Jepang memang memiliki atmosfer yang lebih dari cukup untuk menciptakan film horor yang menakutkan.


Sebagai film horor seru-seruan, The Forest menurut gue cukup memenuhi tujuannya. Setiap jump scare yang ada memang menyeramkan dan mengagetkan. Apalagi dengan tambahan menaruh si makhluk halus out of focus di belakang atau di ujung layar, yang seakan memberikan sensasi menarik pada penonton bahwa memang terkadang penampakan terjadi di sudut mata. Satu hal yang harus diapresiasi adalah konsistensi sutradara debutan Jason Zada dalam menggunakan efek praktikal ketimbang efek visual. Tidak seperti film horor terbitan Hollywood lainnya yang cenderung mengandalkan efek visual, The Forest lebih memilih menggunakan manusia beneran yang jelas meningkatkan level kengerian. Mungkin juga sebagai tribute kepada industri film horor Jepang yang selalu mengandalkan efek praktikal.


Diluar itu, The Forest masih jauh dari film yang mumpuni. Perkembangan karakternya sangat minim, terutama karakter Jess yang menjadi motivasi dasar untuk jalan cerita dalam film ini berkembang. Penonton seperti dipaksa untuk ikut dalam pencarian Sara, tanpa tahu seperti apa karakter Jess selain trauma masa kecilnya. Selain itu, hutannya sendiri pun tidak ada penekanan yang berarti. Tidak ada deskripsi gambar yang menambah kesan horor, maka hutan ini tampak seperti hutan tropis biasa.

Secara keseluruhan, The Forest tetap menjadi film horor yang menarik untuk ditonton. Semua fans horor jelas tahu bahwa lokasi film berperan cukup signifikan untuk menentukan level kengerian yang ada - dan film ini memiliki keunggulan tersendiri. Selain itu, jalan cerita yang dibawakan dalam film ini juga membuka banyak ruang interpretasi bagi penonton, untuk memilih versi mana yang benar.



USA | 2015 | Horror | 93 mins | Flat Aspect Ratio 1.85 : 1
Rating?
6 dari 10

- sobekan tiket bioskop tanggal 18 Januari 2016 -

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top