23 January 2016
One kritik

Macbeth

"Adaptasi Shakespeare dengan akting yang berkelas dan visual yang menakjubkan"

Jenderal Macbeth suatu saat menerima sebuah ramalan dari tiga penyihir yang mengatakan bahwa suatu hari ia akan menjadi raja Skotlandia. Istrinya, Lady Macbeth, yang ambisius pun membantunya agar Macbeth mencapai ramalan tersebut dengan segala cara. Lady Macbeth merancang skema pembunuhan terhadap raja yang saat itu sedang berkuasa, agar Macbeth dapat naik menjadi raja. Namun ketika Macbeth memiliki mahkota raja pun tidak serta merta membuat dirinya tenang, karena ada ramalan lain dari tiga penyihir tersebut tentang bagaimana hidup Macbeth akan berakhir.

Ini adalah adaptasi dalam bentuk film yang kesekian dari naskah drama Shakespeare, yang konon terkenal dengan judul "The Scottish Play". Film ini tentuk menarik karena dua karakter utamanya diperankan oleh Michael Fassbender dan Marion Cotillard yang sama-sama unggul dalam teknik akting, dan memang memberikan penampilan terbaik mereka. Selain itu, film ini merupakan adaptasi yang terbilang cukup sadis karena memperlihatkan kekerasan yang cukup grafis. Meski dialog-dialognya yang sangat Shakespeare dan kelewat artistik, film ini sangat asyik untuk dinikmati dengan visual dan sinematografi yang sangat apik.



Harus diakui, ada 4-6 orang yang walk out ketika gue menonton film ini. Belum lagi, dua orang di sebelah kanan dan atas gue terus menerus berkomentar sinis dan bercanda yang jelas tidak menghargai film ini sama sekali. Gue memang sangat mengerti bahwa film ini sangat berjarak pada penontonnya, terutama yang tidak mengenal Shakespeare atau dunia drama panggung sebelumnya. Pilihan kata dalam setiap dialognya sangat tinggi seperti diatas awan, belum lagi semua karakter terkesan berbicara memutar-mutar dalam mengutarakan maksudnya. Tetapi justru diksi dalam setiap dialognya yang menjadi pesona utama karya sastra terpendek yang pernah dikarang oleh Shakespeare ini - sampai gue berandai-andai bahwa gue akan lebih menikmati film ini dengan subtitle bahasa Inggris.

Visualnya benar-benar luar biasa. Sinematografinya sangat artistik dan berkelas, seakan memaksimalkan imajinasi visual yang selama ini hanya terbatas pada dunia panggung. Adegan perang dengan teknik super slow-motion benar-benar meningkatkan tensi adegan sampai ke atap. Belum lagi blocking dan staging yang ada dalam adegan tertentu sangat teatrikal dan memanjakan mata. Film ini benar-benar menyuguhkan drama panggung yang dibawakan dalam media audio visual.


Secara keseluruhan, film ini jelas bukan film untuk semua orang. Drama dan konspirasi yang ada meski cukup seru dan menegangkan, tetapi rentetan dialog yang ada sangat berjarak bagi penonton Indonesia pada khususnya. Penampilan akting yang dibawakan oleh Fassbender dan Cotillard cukup menakjubkan, meski tidak membawa nominasi Oscar pada hasil kerja mereka. Dengan visual yang sangat artistik, cukup sayang untuk melewatkan film ini di layar lebar.



USA | 2015 | Drama / War | 113 mins | Scope Aspect Ratio 2.35 : 1

Rating?
8 dari 10

- sobekan tiket bioskop tanggal 23 Januari 2016 -

1 kritik:

  1. Definitely bukan untuk semua orang kok :D even, gw mungkin lebih nyaman nonton ini tanpa subtitle deh... soalnya, kayak gitu kan kalau kita nonton play-nya Shakespeare hehe
    Kunci dari konflik dan resolusinya itu ada di dialognya yg tricky, tapi kita ngga akan paham sampai semua itu lewat. Shakespeare emang jenius. Tapi Kurzel sama jeniusnya ketika mengadaptasi ini dengan indah hehe

    ReplyDelete

 
Toggle Footer
Top