16 January 2016
2 kritik

The Hateful Eight

"Drama koboy yang penuh misteri dan asyik melibatkan penonton ke dalamnya"

Dalam sebuah badai salju, seorang pemburu bayaran beserta tangkapannya menerima tumpangan dari dua orang asing; seorang mayor kulit hitam sebagai pahlawan perang pada Perang Saudara, dan seorang sherrif. Di tengah jalan menuju kota Red Rock sebagai perhentian terakhir, mereka menginap di sebuah kabin dan bergabung dengan empat orang asing lainnya. Dengan badai salju, mereka harus menginap di kabin tersebut selama 2-3 hari sampai badai reda. Setelah beberapa lama menghabiskan waktu bersama dengan keadaan yang sulit untuk mempercayai satu dengan yang lain, tampaknya kabin tersebut akan menjadi perhentian terakhir mereka.

Bagi para fans Tarantino yang sudah menonton semua filmnya, maka The Hateful Eight jelas adalah sebuah versi Western dan versi termutakhir dari Reservoir Dogs (1992). Premisnya paralel; beberapa orang asing berkumpul dalam satu ruangan, tanpa tahu kebenaran kisah latar belakang setiap karakter, dan masing-masing orang memiliki senjata api. Hasilnya adalah sebuah film yang lebih mirip drama panggung dengan deretan dialog yang sangat banyak - selama dua jam empat puluh tujug menit. Jangan berharap akan ada banyak adegan tembak-menembak, karena adegan tersebut hanya ada di klimaks film dengan tingkat gore yang diatas batas.



Secara gamblang, film ini memang akan terlihat sangat membosankan. Bagaimana tidak, selama kurang lebih tiga jam penonton akan disuguhi berbagai dialog yang mungkin kurang penting hingga penting. Tetapi sebenarnya deretan dialog tersebut yang menjadi permainan sebenarnya bagi penonton. Layaknya membaca novel Agatha Christie, dialog-dialog dengan balutan humor tersebut yang akan menentukan dan membantu kita semua dalam menebak siapakah tokoh antagonis dalam film ini. Benar saja, gue sendiri tidak merasa bosan sedetikpun, dan selalu merasa penasaran untuk mengulik latar belakang dari setiap karakter. Bahkan kadang gue merasa bodoh khususnya ketika tebakan gue salah dan tidak dapat melihat ketika seseorang sedang berbohong.

Seperti biasanya dalam film-film Tarantino sebelumnya, camera work dalam film ini luar biasa. Meski sepanjang film kebanyakan menghabiskan waktu dalam kabin, namun dengan teknik sinematografi yang unik dan artistik membuat seakan kabin tersebut lebih luas daripada kelihatannya. Setiap sudut kabin benar-benar ditelusuri dengan baik, terutama lewat blocking para karakter yang benar-benar memanfaatkan setiap cm dalam kabin tersebut. Selain itu, gue suka banget dengan teknik split-focus yang banyak digunakan Tarantino; entah fokus antara dua karakter, atau fokus antara karakter dengan objek yang signifikan. Sepertinya memang teknik ini untuk memanfaatkan anamorphic lens 70mm yang sengaja digunakan Tarantino dalam film ini.


Diantara berbagai kelebihannya, film ini juga sedikit menumbuhkan kekecewaan khususnya bagi mereka yang sudah tahu ciri khas Quentin Tarantino. Tidak ada trunk scene - yang memang tidak mungkin karena belum ada mobil di era koboy itu. Selain itu tidak ada juga circular-pan scene yang biasanya menangkap semua karakter yang sedang berdialog dengan gerakan melingkar. Namun film ini masih saja dibawakan dengan pemenggalan kisah dengan bab dan judulnya yang mendeskripsikan kisah dalam bab.

Secara keseluruhan, memang The Hateful Eight adalah sebuah film bukan untuk semua orang. Film dengan 80% berisi dialog dan monolog yang panjang, cukup sulit untuk mempertahankan konsentrasi pada film ini. Namun bagi yang sangat tertarik dengan kisah misteri, atau terbiasa untuk menebak siapa pelaku antagonis dalam sebuah cerita, mungkin saja akan menyukai film ini dengan mudah. Apalagi bagi mereka yang ingin melatih diri untuk menebak cara berbicara dan gerak tubuh orang-orang yang berbohong, maka mereka akan sangat dimanjakan oleh film ini. Dengan aspek ratio lebih lebar ketimbang biasanya, film ini memang sangat cocok untuk ditonton di super-wide screen.



USA | 2015 | Action / Drama / Western | 167 mins | Scope Aspect Ratio 2.76 : 1

Won, for Best Original Score, Nominated, Best Supporting Actress (Jennifer Jason Leigh), Best Cinematography, Academy Awards, 2016.

Won, Best Original Score, Nominated, Best Supporting Actress (Jennifer Jason Leigh), Best Screenplay, Golden Globes, 2016.

Nominated, Best Supporting Actress (Jennifer Jason Leigh), Best Screenplay, Best Original Score, BAFTA Awards, 2016.

Rating?
9 dari 10

- sobekan tiket bioskop tanggal 16 Januari 2015 -

2 kritik:

  1. walaupun bikin puyeng.. gue puas eksekusi endingnya..
    review the revenant donggg

    ReplyDelete
    Replies
    1. yoi endingnya emang pol!
      The Revenant baru tayang di bioskop bulan depan. Sabar yak :D

      Delete

 
Toggle Footer
Top