07 September 2017
2 kritik

Atypical - Review

11:59 AM

"Serial remaja autistik yang ingin punya pacar ini sangat sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari, serta penuh dengan karakter-karakter yang sangat mudah untuk dicintai"

Kapan terakhir kali anda menonton film layar lebar dengan pemeran utama yang berada dalam spektrum autisme? Yang paling baru jelas Power Rangers (2017) meski si karakter ini harus berbagi porsi dengan karakter-karakter lain. Kalau di tahun sebelumnya ada The Accountant (2016) dengan Ben Affleck yang menampilkan karakter autistik tetapi malah terkesan misterius seperti prekuel dari Batman versi Affleck. Tetapi dua film tersebut bergenre aksi dan menggunakan spektrum autisme sebagai gimmick saja. Kalau film yang benar-benar menceritakan tentang autisme dan pengaruhnya terhadap orang-orang di sekitarnya, yang terbaik yang bisa gue ingat adalah Rain Man (1988), meski favorit gue tetap pada Extremely Loud & Incredibly Close (2011) meski ceritanya harus disambungkan dengan tragedi 9/11.

Kalau film serial? Mungkin anda akan sebut Big Bang Theory, meski secara resmi mereka menyatakan bahwa Sheldon Cooper bukan pengidap autism walaupun karakter tersebut menampilkan karakteristik sindrom asperger. Sudah saatnya anda melirik Atypical produksi Netflix (ya, hanya bisa ditonton jika anda menjadi pelanggan Netflix) yang fokus pada kehidupan sehari-hari dan pengaruhnya terhadap orang-orang sekitar. Serial ini bergenre drama komedi yang sangat heartwarming dan menyentuh hati karena begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari.


Atypical berkisah tentang Sam, remaja 18 tahun yang berada dalam spektrum autisme, yang ingin punya pacar dan having sex. Yes, satu kalimat itu saja pasti sudah sangat representatif dengan banyak lelaki jomblo di luar sana. Menariknya, terkadang keinginan tersebut akan mendapat tantangan yang sama tanpa memandang apakah anda dalam spektrum autisme atau tidak. Sulit PDKT, ditolak, atau jadian akhirnya putus, deretan aktivitas ini pasti dialami semua orang meski dengan spektrum kesulitan yang berbeda-beda. Yang menarik dari usaha Sam adalah bagaimana menjalin hubungan dengan orang baru namun memiliki keterbatasan membaca emosi dari orang lain. Belum lagi bagaimana Sam selalu mengekspresikan ketertarikannya pada Antartika dan pinguin sebagai manifestasi dari obsesi pada satu hal, keterbatasan imajinasi, dan perilaku berulang.

Serial ini menjadi sangat menyentuh hati bukan hanya karena Sam saja, tetapi melihat reaksi dari orang-orang terdekat di sekitar Sam. Di dalam orang, orang tuanya Elsa dan Doug adalah tipikal ayah ibu kebanyakan yang sangat menyayangi anaknya. Seperti serial televisi kebanyakan, penonton pasti disuguhi karakter yang jauh dari sempurna seperti Elsa yang terkadang lelah dengan "tugasnya" sebagai ibu dan berjuang mengatasi hal tersebut dengan pelariannya ke hal lain. Hal ini bertolakbelakang dengan Doug yang justru ingin mendekatkan diri pada Sam setelah hal negatif yang dilakukannya pada masa lalu. Di titik ini, Doug jelas terlihat sangat lovable di mata gue, apalagi dengan karakternya yang sangat baik dengan cara bicaranya yang terkadang patah-patah. Oya, di sini gue harus memuji akting dari Jennifer Jason Leigh sebagai Elsa yang sangat meyakinkan - remember that scene from The Hateful Eight (2015).


Ada pula karakter adiknya, Casey, yang digambarkan berada dalam dilema besar antara menanggung malu terhadap perilaku kakaknya dan keharusan untuk selalu melindunginya. Dilema ini yang diangkat secara konsisten sampai episode terakhir ketika Casey mendapat kesempatan untuk pindah ke sekolah yang lebih baik tapi artinya harus pindah tempat tinggal. Side story antara Casey dengan pacarnya pun tidak kalah menggemaskan dengan karakter Evan yang kikuk. Sam juga punya teman baik di tempat kerjanya, Zahid yang sangat komikal dan selalu berhasil dalam menyeimbangkan suasana menjadi kocak.

Karakter Sam yang autistik bukan tidak bisa dibilang akurat secara psikologis - karena pasti kreator Robia Rashid telah melakukan riset mendalam - mungkin lebih ke arah dramatisasi demi menampilkan tontonan yang menarik. Beberapa hal bukan hanya dilebih-lebihkan, tetapi juga dikurang-kurangi seperti jarangnya Sam mengalami tantrum atau tidak ada orang lain yang berada dalam spektrum autisme (yang baru muncul di episode terakhir). Tapi ya semua itu masih dapat dimaklumi dan sangat tertutupi dengan berbagai hal positif lainnya yang ada dalam keseluruhan serial ini.


Kisah Sam dibawakan dalam sudut pandang Sam sendiri, dengan monolognya yang bernada datar dalam konteks dia sedang dalam sesi rutin bersama psikolognya. Bagaimana Sam bercerita pada Julia, seakan-akan menaruh penonton dalam sudut pandang Julia dalam mengikuti setiap kegiatan Sam yang baru. Mulai dari bagaimana Sam mengutarakan keinginannya untuk punya pacar dalam episode ke-1 "Antartica", mulai online dating dan bertemu teman wanita baru dalam episode ke-2 "A Human Female", hingga naksir dengan Julia sendiri *tepok jidat* dalam episode ke-3 "Julia Says".

Perjalanan "karir" Sam menjadi semakin menarik ketika (akhirnya) ada wanita yang menyukai Sam apa adanya. Yang menjadi lucu adalah bagaimana Sam membuat daftar positif dan negatif mengenai Paige, gadis yang sedang dekat dengannya, untuk menentukan apakah Paige bisa menjadi pacarnya atau tidak dalam episode ke-4 "A Nice Neutral Smell". Seperti hubungan pada umumnya yang penuh dengan pahit-manis, Sam menemukan ketidakcocokan dengan Paige dan bagaimana cara mengatasinya dalam episode ke-5 "That's My Sweatshirt".


Tontonan menjadi lebih intens ketika Sam diujung pintu menuju kasur bersama Paige dalam episode ke-6 "The D-Train to Bone Town" dan beragam nasehat Zahid yang sangat nyeleneh dan terlampau kocak. Namun intensitas drama pun juga meninggi ketika pelarian Elsa mencapai puncaknya dan ternyata mempengaruhi semua orang, terlebih pada Sam dan Casey dalam episode ke-7 "I Lost My Poor Meatball". Episode penutup musim pertama "The Silencing Properties of Snow" pun menjadi antiklimaks yang sangat menyentuh hati dengan beragam penyelesaian dari setiap konflik yang ada di masing-masing karakter. Tidak lupa, di akhir episode ini juga ada hook yang efektif memancing penasaran untuk musim kedua.

Bagi gue, binge-watching Atypical dalam satu hari sangat mudah dan menggoda. Bagaimana tidak, setiap episodenya hanya berdurasi 45-55 menit dan kontennya sangat ringan meski banyak mengandung side story. Apalagi kelanjutan cerita dari setiap karakternya sangat memancing rasa penasaran. Belum lagi segudang rasa menghangat hati ketika melihat bagaimana mereka berdamai setelah mengalami konflik. Menonton Atypical memang tentang memahami spektrum autisme dan pengaruhnya terhadap orang-orang di sekitarnya, tetapi jelas tidak dibutuhkan pengetahuan psikologi apalagi memahami isi buku Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders. Tontonan ini sangat ringan dan ramah pada awam yang tidak memahami tentang autisme. Untuk mereka yang familiar - apalagi memiliki kenalan atau bahkan saudara dengan spektrum autisme - pastinya akan menjadi tontonan yang sangat menarik mengingat bagaimana representatifnya setiap karakter yang ada.



Rating:

----------------------------------------------------------
  • review film atypical netflix
  • review atypical netflix
  • atypical netflix movie review
  • atypical netflix film review
  • resensi film atypical netflix
  • resensi atypical netflix
  • ulasan atypical netflix
  • ulasan film atypical netflix
  • sinopsis film atypical netflix
  • sinopsis atypical netflix
  • cerita atypical netflix
  • jalan cerita atypical netflix

2 kritik:

 
Toggle Footer
Top