01 May 2016
0 kritik

The Lobster

"Drama romantis yang penuh dengan alegori dalam menyindir hubungan romansa masyarakat modern"

Di masa depan dystopia, semua manusia harus berpasangan. Mereka yang tidak berpasangan - entah karena pasangan meninggal atau ditinggal pergi - akan dimasukkan ke dalam sebuah hotel. Termasuk David, karakter utama kita dalam film ini. Di hotel tersebut, semua tamu diberi waktu selama 45 hari untuk menemukan pasangan. Jika dalam 45 hari gagal mendapat pasangan, mereka akan ditransformasi menjadi seekor binatang. Salah satu kegiatan terapeutik agar terjustifikasi untuk mendapatkan pasangan adalah dengan berburu kelompok Loner di tengah hutan.

The Lobster jelas menjadi sebuah film komedi satir dengan kritikan yang sangat pedas terhadap hubungan romansa di masyarakat modern pada umumnya, dan kondisi masyarakat di negara Barat pada khususnya. Sutradara dan penulis naskah Yorgos Lanthimos banyak menggunakan alegori dalam menyampaikan sindirannya, yang berfungsi sekaligus sebagai humor. Dengan jalan cerita penuh dengan alegori, mungkin akan banyak penonton yang menilai betapa absurdnya film ini. Meski demikan, film ini terbilang sangat cerdas dalam menyampaikan pesannya. Apalagi dibungkus dalam atmosfer kelam dan penuh dengam ambiguitas sepanjang film.


Salah satu hal yang paling absurd dan sangat terlihat adalah betapa para karakter yang ada di layar begitu datar dalam menyampaikan setiap pikiran dan perasaannya. Seakan tanpa memiliki emosi, atau memang tidak memiliki kemampuan sosial yang sangat baik sehingga canggung dan pemilihan kata yang tidak tepat selalu terlontar. Hal ini bisa dibilang sebagai kiasan tentang betapa manusia yang digambarkan lewat The Lobster adalah spesies yang tidak lagi dapat merasakan cinta. Sehingga dalam mencari pasangan pun mereka harus bergantung pada kesamaan karakteristik yang terlihat oleh mata. Entah sama-sama rentan mimisan, rabun jauh, atau pandai bermain gitar.


Ya, sebegitu rentan manusia untuk dapat saling berpasangan kembali sehingga dibutuhkan satu institusi yang memandu para jomblo ini agar mendapat pasangan. Institusi berkedok hotel dengan berbagai fasilitas kelas wahid, yang dalam dunia nyata kita jelas akan sangat mudah untuk saling jatuh cinta dengan orang lain. Tetapi tidak pada dunia dystopia yang diciptakan oleh Yorgos Lanthimos, yang digambarkan begitu perlunya manusia untuk dipandu agar dapat saling jatuh cinta.

Ada yang sebegitu niatnya untuk menyamakan karakteristik dengan pasangan incaran, ada yang pasrah diubah menjadi binatang, ada pula yang menolak keduanya dengan hidup terisolasi dengan diri sendiri. Penggambaran hotel ini bisa juga dipandang sebagai sindiran keras terhadap bergesernya cara manusia modern dalam mencari pasangan hidup, dengan bergantung pada situs biro jodoh yang hanya mengandalkan penampilan fisik semata.


Mengapa manusia harus diubah menjadi binatang jika gagal mendapatkan pasangan hidup dalam jangka waktu 45 hari? Karena, menurut Yorgos, manusia yang tidak berniat untuk jatuh cinta pada manusia lain sama halnya seperti binatang; yang menghabiskan waktunya dengan berjalan-jalan di taman atau berhubungan seks tanpa perasaan apapun. Mengubah manusia tanpa rasa cinta menjadi binatang juga berkontribusi besar pada keberlangsungan beberapa spesies langka, bukan? Selain itu, turut mempercantik hutan kota dengan kehadiran unta, burung merak, burung flamingo, dan hewan eksotis lainnya.

Selain mengritik gaya hidup berpasangan, Yorgos juga mengarahkan kritikannya pada kelompok orang yang memilih untuk hidup sendiri. Hal ini direpresentasikan dengan sangat baik lewat kelompok Loner yang bertahan hidup di tengah hutan, yang satu kali dalam beberapa kesempatan menjadi objek buruan para tamu hotel. Couple dan Loner ini menjadi dua kutub ekstrim yang berbeda, yang paralel dengan teori perkembangan psikososial Erik Erikson. Kurang lebih dalam rentang umur 19 hingga 40 tahun, perkembangan psikosial dalam tahap ini berada dalam tahap Intimacy vs Isolation dengan pertanyaan besar "apakah saya akan mencintai atau hidup sendiri". Dengan cinta sebagai dasar pondasi, tahap ini akan menentukan apakah seseorang akan hidup sendiri atau berpasangan di masa depan.


Pada akhirnya, film yang menggunakan kiasan dan perumpamaan sebagai gaya bercerita ini jelas sangat menarik untuk dikupas lebih dalam. Beberapa detil alegori seperti pilihan hukuman jelas berfungsi sebagai black comedy. Tetapi beberapa detil alegori lain bisa saja menjadi tamparan keras bagi interaksi manusia modern saat ini yang semakin bergeser. Ada kelompok orang yang bergantung pada kesamaan karakteristik dalam mencari pasangan hidup, ada pula kelompok orang yang mendevosikan dirinya untuk hidup sendiri. Namun apakah memang itu cara yang terbaik untuk menghabiskan hidup?



Ireland / UK | 2015 | Drama / Romance | 118 mins | Flat Aspect Ratio 1.85 : 1

Rating?
9 dari 10

- sobekan tiket bioskop tanggal 1 Mei 2016 -

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top