03 May 2016
0 kritik

A Royal Night Out

"Drama komedi romantis yang unik dan kocak tentang dua putri kerajaan Inggris yang turun dan melebur dengan rakyat"

Seluruh Eropa merayakan kemenangan atas Jerman dan sekutunya pada tahun 1945, termasuk kota London dan penduduknya. Pada malam Victory in Europe (V.E. Night), kedua putri dari Raja George dan Ratu Elizabeth I meminta ijin untuk keluar dari istana sebagai sebuah kesempatan langka dalam hidup kerajaan mereka. Malam tersebut pun menjadi salah satu malam yang paling berkesan bagi para putri, ketika bahaya, penghiburan, dan romansa bertumpuk menjadi satu.

Terinspirasi dari kisah nyata, Putri Elizabeth dan adiknya Putri Margareth memang benar diijinkan keluar dari istana pada saat malam selebrasi berakhirnya Perang Dunia II. Tetapi detil-detil aktivitas mereka selama malam tersebut jelas digambarkan fiksi dalam film ini. Dengan ide dasar yang unik dan menarik, A Royal Night Out mampu menghibur penonton dengan deretan kejadian yang menggemaskan serta kelewat kocak. Film ini tidak hanya menghadirkan situasi langka dimana keluarga kerajaan berbaur dengan rakyat biasa dengan mode incognito, tetapi juga sebuah interaksi menarik di antara dua kelompok manusia dengan perbedaan kelas yang jauh tersebut.

Entah bagaimana dengan karakter aslinya, tetapi karakter Putri Margareth yang dibawakan oleh Bel Powley jelas menjadi karakter yang sangat menghibur dengan tingkat polahnya yang komikal. Kehadiran karakter ini juga seakan mengimbangi karakter Putri Elizabeth yang digambarkan lebih "berdarah biru" dan lebih dewasa dalam menghadapi setiap situasi yang ada. 


Detil menarik yang perlu diperhatikan adalah, karakter keluarga kerajaan yang ada dalam film adalah karakter yang sama yang sudah pernah anda tonton dalam King's Speech (2010). Ya, termasuk Raja George yang gagap ketika beliau gugup atau emosional, dan membuat para pendengar pidatonya menjadi cukup tegang menunggu kelanjutan setiap kata. Tetapi pada nyatanya Putri Margareth dan Putri Elizabeth berusia 14 dan 19 tahun pada waktu itu, yang rasanya dalam film ini sengaja digambarkan lebih dewasa demi adegan komikal di salah satu perhentian aktivitas luar istana mereka.

Fiksi yang dibentangkan dari secuil kisah nyata yang terjadi dalam malam selebrasi tersebut jelas menarik untuk dikupas. Meski pada kenyataannya, Raja George benar-benar meminta Putri Elizabeth untuk mencari tahu langsung tentang pandangan rakyat terhadap pidato dan citra diri keluarga kerajaan. Menariknya, penulis naskah Trevor de Silva dan Kevin Hood turut menambahkan pula detil-detil pandangan rakyat terhadap keluarga istana dengan lengkap dalam dua sudut pandang sekaligus. Bagi penonton Indonesia yang kurang memahami peran istana dalam kehidupan bernegara, tentu hal tersebut dapat menjadi pelajaran yang berarti bahwa keluarga kerajaan hidup sebagai simbol tumpuan dan harapan bagi rakyatnya.


UK | 2015 | Comedy / Drama / Romance | 97 mins | Scope Aspect Ratio 2.35 : 1

Rating?
7 dari 10

- sobekan tiket bioskop tanggal 3 Mei 2016 -

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top