02 May 2016
0 kritik

Abi Means Papa

"Dokumenter yang menghangatkan hati tentang pencarian seorang ayah biologis di Indonesia"

Armin Tobler, pria berumur 27 tahun yang besar dan tinggal di Swiss, baru mengetahui bahwa dirinya diadopsi dari ayah dan ibu asal Indonesia. Ternyata di umur lima tahun, dirinya diadopsi oleh keluarga asal Swiss dan dibesarkan di negara tersebut. Setelah menemukan ibu biologisnya dua tahun sebelumnya, kini Armin kembali ke Indonesia untuk mencari ayah biologisnya - yang ternyata sudah hidup berpisah dari ibu biologisnya. Tetapi pencarian tersebut tidak mudah, dan kunci untuk menemukan ayah biologisnya ada pada ibu biologisnya yang tampak enggan dan menutup-nutupi masa lalu.

Abi Means Papa jelas menjadi film dokumenter yang sangat menarik. Sebuah dokumenter yang dibawakan oleh seseorang berkebangsaan Swiss, tetapi berdarah Indonesia. Apalagi secara fisik, Armin sangat ke-Indonesia-an sekali namun tidak bisa berbahasa Indonesia. Cerita dibawakan oleh Armin sendiri, sebagai sutradara dan penulis naskah bersama dengan temannya sesama siswa kuliah film, Simon Gutknecht. Jadi pertemuannya dengan orang-orang Indonesia dan berbagai tingkah laku dan kebiasaan tentunya dari sudut pandang seseorang yang berasal dari Swiss.



Jalan ceritanya sendiri sangat menarik. Brilian memang keputusan mereka berdua untuk merekam selalu perjalanan dan perjuangan Armin dan teman-temannya dalam mencari orang tua biologisnya. Perjuangan tersebut jelas membawa dua hasil positif, rekonsiliasi Armin dengan orang tua dan produk film dokumenter yang sangat menarik dan menghangatkan hati. Setidaknya untuk segmen pasar penonton Indonesia yang dapat dengan mudah merelasikan diri sendiri terhadap sudut pandang Armin sebagai "pendatang".

Film dokumenter sepanjang 78 menit yang tidak membosankan, penuh ketegangan, serta tawa di sana-sini jelas merupakan hasil jerih payah dari editing yang mengagumkan. Bisa dibayangkan sulitnya memilih, kemudian menjahit dari puluhan jam raw footage untuk mendapatkan hasil yang dapat memikat hati dan emosi penonton. Tidak hanya geram dan penasaran karena sulitnya Armin melacak keberadaan ayah biologisnya, tetapi juga mampu menghadirkan karakter komikal yang meringankan suasana seperti adik tirinya. 


Bagi penonton Indonesia, film ini tidak hanya berhasil dalam menggambarkan sulitnya perjuangan Armin, tetapi juga menjadi sindiran keras bagi cara hidup dan kebiasaan orang Indonesia di mata warga negara Barat. Proses untuk melakukan berbagai hal harus dijalankan dengan sabar dan "pelan-pelan" adalah salah satu gegar budaya yang dialami oleh Armin dan teman-temannya. Belum lagi setiap obrolan yang berputar-putar dan tidak to the point yang harus mereka jalani setiap bertemu dengan orang baru. Yang menarik jelas adalah bagaimana melihat reaksi mereka terhadap budaya Indonesia ini, yang terdokumentasi dengan sangat jelas dan emosional dari Armin yang berbicara langsung pada kamera dengan model vlog sebagai catatan harian. 

Switzerland | 2014 | Documentary | 78 mins | Flat Aspect Ratio 1.85 : 1

Rating?
8 dari 10

- sobekan tiket bioskop tanggal 2 Mei 2016 -

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top