02 November 2011
0 kritik

Real Steel

"I want you to fight for me!"

Kira-kira seperti itu dialog yang diucapkan oleh Max Kenton kepada ayahnya, Charlie dalam film ini. Sepenggal dialog itu tampaknya cukup menggambarkan keseluruhan cerita dari film terbaru besutan sutradara Shawn Levy. Oh ya, setelah puas menyutradarai film-film komedi (Big Fat Liar, Cheaper by the Dozen, Date Night, Night at the Museum), kali ini Mr. Levy mencoba genre baru; film action rasa keluarga, atau film keluarga rasa action? Seakan ingin menertawakan robot-robot di Transformers, Mr. Levy menempatkan robot-robot canggih di dalam ring tinju untuk bertarung satu sama lain dalam Real Steel.

Di tahun 2020 ketika pertandingan tinju manusia digantikan oleh robot, Charlie Kenton yang seorang mantan petinju mencoba bertahan hidup dengan menjadi promotor tinju. Terlilit hutang, Charlie mempelajari bahwa dia memiliki anak laki-laki berusia 11 tahun, Max. Situasi pun berkembang menjadi bagaimana Max yang memiliki kemauan keras, membantu ayahnya untuk mengikuti berbagai pertandingan dengan robot rongsokan.

Secara mengejutkan, film tentang robot ini ternyata mampu menangkap emosi dengan baik. Jalan ceritanya memang sederhana dan cenderung dapat ditebak kelanjutannya. Namun memang yang penting adalah bukan bagaimana film ini akan berakhir, melainkan bagaimana dinamika hubungan ayah dengan anak antara Charlie dengan Max. Memang ada sekian banyak film yang menggambarkan hubungan ayah-anak yang sulit dan mencoba untuk melakukan rekonsiliasi. Namun yang berbeda dalam film ini adalah karakter ayah dan anak itu sendiri serta perkembangannya, plus ditambah oleh efek motion-capture dari robot-robot petinju ini. Hasilnya adalah sebuah film keluarga dengan kedalaman emosional yang signifikan dan hiburan mata-telinga atas aksi robot-robot ini di atas ring tinju.

Ketika Hugh Jackman yang memerankan Charlie Kenton dipatok sebagai pemeran utama, rasanya attention-stealer dalam film ini ada pada karakter Max Kenton yang diperankan dengan baik oleh Dakota Goyo. Karakter Charlie Kenton mungkin seperti karakter ayah-yang-gagal-membesarkan-anak dalam film-film rekonsiliasi hubungan ayah-anak lainnya. Charlie yang arogan, keras kepala, cenderung bertindak sebelum berpikir, membuat hutang lain sebelum sanggup melunasi hutang sebelumnya, tidak memiliki rencana jangka panjang sama sekali, dan ingin membuang masa lalunya jauh-jauh. Semua itu berubah ketika ia bertemu dengan anaknya yang tidak pernah dibesarkannya, Max. Seperti saling melengkapi, Max yang masih tergolong naif mampu memberikan secercah harapan bagi ayahnya yang hampir putus asa karena terlilit hutang. Dengan antusias dan penuh harapan akan robot bekas yang dia temukan, Max mendorong ayahnya untuk menggunakan robot itu sebagai robot petinju di pertarungan berikutnya, untuk kemudian mereka berdua merasakan bagaimana rasanya perkembangan from nothing to something.
gambar diambil dari sini
Semua ini tidak lepas dari cemerlangnya akting dari Dakota Goyo. Aktor cilik 12 tahun yang pernah memerankan Thor kecil dalam Thor (2011) ini mampu memerankan karakter anak 11 tahun yang berkemauan keras dan terbilang kelewat dewasa untuk anak-anak seumurannya. Mungkin banyak orang yang memandang karakter Max Kenton dalam film ini too good to be true. Namun ketika banyak pria dewasa yang bertingkah laku seperti anak kecil, rasanya wajar saja jika ada anak kecil yang memiliki mental dan bertingkah laku seperti orang dewasa. Oh ya, dengan karakter positif yang diperankannya, Max dengan mudah merebut perhatian dan emosi penonton. Puncaknya adalah bagaimana penonton harus menahan air mata yang jatuh ketika melihat ekspresi Max di adegan klimaks yang dieksekusi secara brilian.

Tidak lupa, film ini juga menggambarkan hubungan romantis dari Bailey, love-interest dari Charlie. Evangeline Lilly yang memerankan Bailey dengan baik, berandil besar dalam menyeimbangkan film yang penuh dengan hormon testosteron ini dengan kecantikan dan kekuatan karakternya. Apalagi melihat bagaimana ekspresi dan reaksi Bailey dalam menonton pertandingan tinju robot dan mendukung Charlie, benar-benar membantu untuk meningkatkan ketegangan yang ada.
gambar diambil dari sini
Gue cukup sadar bagaimana ulasan gue lebih banyak membahas para karakter manusia yang ada ketimbang robot, karena memang itulah rasanya pesan yang ingin disampaikan dalam film yang naskahnya ditulis berdasarkan cerita pendek "Steel" ini. Efek CGI, praktikal, serta motion-capture para robot ini memang sangat meyakinkan. Setiap adegan pertarungannya pun mampu membuat penonton merasakan ketegangan layaknya menonton pertandingan tinju manusia. Apalagi petinju tenar Sugar Ray Leonard (The Fighter, 2010) diboyong khusus menjadi penasihat tinju sehingga membuat setiap pertandingan tinju dalam film ini benar-benar meyakinkan. Namun Mr. Levy membuat robot-robot ini se-down to earth mungkin dengan manusia, dengan tidak menghancurkan gedung-gedung, membunuhi manusia, bahkan mengarahkan penonton untuk percaya bahwa Atom, robot milik Max, memiliki perasaan. Dengan melihat perkembangan cerita, rasanya kehadiran Atom dan robot lawan-lawannya hanyalah side-story untuk membuat cerita drama keluarga ini menjadi jauh lebih menarik.

Mr. Levy juga dengan sengaja membuat pararel film ini dengan Rocky (1976) sebagai penghormatan kepada karakter Rocky yang "from zero to hero". Homage ini akan terlihat cukup jelas di final battle film arahan Mr. Levy ini. Sedangkan tinju antar-robot dalam film ini merupakan homage terhadap mainan live-action yang sempat populer di tahun 1970-an, yang kemudian dijadikan video game; Rock 'Em Sock 'Em Robots.
gambar diambil dari sini
Hadirnya film robot yang dekat dengan manusia ini, ditambah dengan perkembangan karakter manusia yang kuat serta kedalaman emosional yang signifikan, jelas merupakan sebuah sindiran untuk film-film robot jahat yang menyerbu bumi dan menghancurkan gedung-gedung. Shawn Levy jelas membuktikan bahwa tidak perlu robot besar super-canggih dan efek spesial milyaran dollar untuk menjadi hiburan mata-telinga untuk penonton. Cukup menghadirkan robot seadanya yang mampu bertarung satu sama lain, dan dengan proporsi drama yang pas, serta karakter yang kuat, sebuah film robot mampu membuat penonton jatuh cinta dan akan mengingat film tersebut cukup lama.

Sweet, memorable, and action-thrilling enough!


Rating?
8 dari 10

- sobekan tiket bioskop tertanggal 2 November 2011 -

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top