08 November 2011
0 kritik

The Girl

Banyak orang bilang, kedewasaan tidak bergantung dari umur. Ketika banyak dewasa yang berperilaku dan memiliki mental seperti anak belasan tahun, maka wajar jika ada seorang anak 12 tahun yang memiliki pemikiran seperti orang dewasa. Bagaimana dengan seorang gadis 9 tahun yang harus tinggal sendirian di rumah selama musim panas? Oh tidak, kali ini tidak akan ada dua perampok bodoh yang mati-matian mencoba untuk masuk ke dalam rumah. Ini hanya cerita seorang gadis 9 tahun yang tinggal di daerah pinggiran di Swedia dalam film The Girl (Judul asli: Flickan).

Pada musim panas tahun 1981, seorang gadis berumur 9 tahun harus tinggal bersama bibinya ketika orang tua dan kakak laki-lakinya pergi ke Afrika sebagai pekerja sosial. Bibinya yang dijemput oleh seorang laki-laki, meninggalkannya dengan janji akan kembali "dalam beberapa hari". Si Gadis pun tidak bilang pada siapa-siapa bahwa sekarang dia benar-benar sendirian di rumah. Selama musim panas, secara perlahan dia mematangkan kemandirian dan kedewasaannya dan menemukan dunia orang dewasa yang absurd dan terkadang kurang perhatian.

Film ini terbilang sangat jujur dan tenang dalam menceritakan kisah sederhana tentang bagaimana si Gadis menghabiskan musim panasnya sendirian di rumah. Dengan caranya sendiri, film ini hanya ingin "mendokumentasikan" hari demi hari yang dilewati oleh si Gadis dalam kesendiriannya di rumah. Memang dia sempat bergaul dengan dua anak tetangga yang lebih tua dan juga seorang bocah laki-laki yang seumuran. Namun pada akhirnya dia kembali dalam kesendiriannya, dan menemukan kebahagiaannya sendiri lewat orang asing yang dibantunya serta keindahan alam sekitar. Lalu film ini berakhir dengan adegan akhir yang memang sangat ditunggu-tunggu oleh semua penonton, namun adegan akhir itu justru semakin menguatkan perasaan empatik penonton kepada si Gadis ini. Benar saja, film ini "hanyalah" film yang memotret si Gadis secara dekat yang berkeliling mengeksplorasi segala yang ada di sekitar rumahnya di daerah pinggiran di Swedia, yang memberikannya pelajaran betapa absurdnya kehidupan orang-orang yang lebih tua daripadanya.

gambar diambil dari sini
Layaknya film-film art house lainnya, film ini dikemas dengan indah, cantik, dan artistik. Film ini banyak menggunakan tone warna cerah, sebagai penegas bahwa musim panas dimana semua orang bisa keluar rumah tanpa baju hangat telah tiba di Swedia. Banyaknya cahaya di latar belakang di berbagai adegan juga menyiratkan naif dan polosnya kehidupan seorang anak berusia 9 tahun yang menikmati alam sekitar. Penonton pun sangat nyaman mengikuti setiap langkah si Gadis lewat sinematografi yang indah. Sinematografi yang cerdik ini juga mampu membuat penonton merasa benar-benar memperhatikan ekspresi si Gadis berpikir atau bertingkah laku lewat shot-shot panjang dan berjarak dekat. Film ini juga tidak ingin terlalu menggurui penontonnya dengan memberikan penjelasan klise mengenai apa yang sedang terjadi lewat dialog. Sebaliknya, film ini ingin memotret liburan musim panas si Gadis apa adanya - tanpa narator, minim dialog. Sebagai konsekuensinya, penonton harus peka untuk memahami apa yang sedang terjadi di layar, dan untuk ini dibantu dengan tempo film yang bergerak lambat.

Mungkin terlalu berlebihan jika disebut one-man show, tetapi memang Blanca Engestrom yang menjadi primadona dan roda penggerak dalam film ini. Film ini telah ditunjang dengan sangat baik oleh faktor-faktor teknis, maka akting dari pemeran utamanya akan melengkapi tujuan film ini; untuk merasakan apa yang karakter utama rasakan. Benar saja, penonton serasa diajak secara tidak langsung oleh si Gadis untuk apa saja yang dia lakukan dan rasakan. Penonton akan merasa tenang dan damai ketika si Gadis menghabiskan waktu duduk di rerumputan memandang matahari, atau penonton akan ikut merasa kalut ketika si Gadis tidak berani melompat dari ketinggian dalam pelajaran berenangnya. Semua ini ditampilkan dengan sangat baik oleh Blanca, yang merupakan debut aktingnya di layar lebar. Walaupun kebanyakan berekspresi datar, Blanca mampu memancarkan kepada penonton apa yang sedang ia pikirkan dan rasakan walaupun tanpa dialog sekalipun, khususnya dalam shot-shot jarak dekat. Ketika ia mengutarakan perasaannya lewat kata-kata, barulah panah emosi akan menancap di hati para penonton yang simpatik.


Seusai film, penonton serasa dibiarkan kehabisan kata-kata atas apa yang baru disaksikannya selama 95 menit. Tepuk tangan yang bergaung di ruangan teater pun seakan tidak cukup untuk mendeskripsikan keindahan film ini. Namun mungkin film ini adalah salah satu film "sambil lalu" yang hanya memotret kehidupan sehari-hari seseorang. Setiap tindakan si Gadis yang tanpa intensi apapun dan mungkin tidak memikirkan konsekuensi yang berarti, dimana setiap jalinan cerita seperti deretan foto dalam sebuah scrapbook. Kemudian film ini pun dengan sopan menempatkan posisi penonton sebagai "observer" untuk memperhatikan dan memahami karakter utama kita. Film ini mungkin cocok bagi anda pencinta film-film karya Sofia Coppola.

Keseluruhan cerita dalam film ini sebenarnya bisa berlanjut menjadi diskusi keluarga. Ya, walaupun mengambil sudut pandang seorang anak 9 tahun tapi film ini bukan saja film milik anak-anak. Secara implisit, pembuat film mungkin ingin mengkritik kehidupan sosial masyarakat barat yang cenderung individualis. Bagaimana sebegitu tidak pedulinya mereka terhadap kehidupan orang lain, bahkan kehidupan tetangga atau anak kecil sekalipun. Film ini bisa menjadi film keluarga dan mengambil sisi positif serta membuang sisi negatif dari apa yang disampaikan oleh cerita dalam film ini.


Rating?
8 dari 10

- sobekan tiket bioskop tertanggal 8 November 2011 edisi Europe on Screen -

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top