09 November 2011
0 kritik

Princess

Apa tolok ukur dari kebahagiaan? Apa pula tolok ukur dari normal? Bagaimana jika seseorang menemukan kebahagiaan sendiri, tapi dia tidak termasuk "normal" bagi orang lain dan masyarakat?  Meskipun tidak sedikit orang yang "normal" tetapi tidak bahagia. Film biopic asal Finlandia yang diproduksi tahun 2010 mencoba menggambarkan kaburnya batas-batas antara "kebahagiaan" dengan "normal" itu; Princess (Judul asli: Prinsessa).

Film yang berdasarkan kisah nyata ini bercerita tentang pasien yang terkenal di Rumah Sakit Jiwa Kellokoski di Finlandia, Anna Lappalainen. Di tahun 1933, Anna yang baru masuk di rumah sakit jiwa tersebut menolak dipanggil dengan namanya sendiri dan mendeklarasikan dirinya sebagai seorang "princess". Didiagnosa mengalami manic-depressive dan memiliki gejala schizophrenia, kedatangannya menjadi awal dari perselisihan panjang antara sang princess dengan staf rumah sakit atas identitas dan haknya untuk menentukan kepribadiannya sendiri. Pada akhirnya, Rumah Sakit Jiwa Kellokoski menjadi istana sang putri, dimana Anna membawa kebahagiaan - dan kesembuhan - bagi teman-teman sesama pasien.

Film yang ringan ini sangat menghibur, tentu saja dengan melihat uniknya tingkah laku dari sang putri. Senyum dan tawa pun tidak dapat dihindari melihat bagaimana sang putri mencoba mempertahankan gelar kebangsawanannya di rumah sakit jiwa tersebut. Segala macam label dan diagnosa istilah-istilah kesehatan terhadap apa yang diderita oleh Anna pun seakan dikesampingkan, untuk sekedar melihat dinamika perkembangan dan interaksi antara sang putri dengan orang-orang di sekitarnya.

gambar diambil dari sini
Film ini juga memperlihatkan bagaimana metode ilmu psikologi dan kesehatan yang sedang berkembang dan mencari jati dirinya menjadi musuh utama dari gerak-gerik sang putri dalam rumah sakit jiwa. Tidak jarang, Anna menjadi "subjek" terapi electric-shock dan beragam jenis metode terapi lainnya. Dilema pun muncul ketika metode lobotomy ditemukan dan sempat populer pada masa itu, walaupun dengan hasil yang kontroversial. Dengan delusinya yang bisa dikategorikan "akut" oleh para dokter, Anna pun sempat menjadi subjek operasi lobotomy. Para dokter pun sempat mengalami perbedaan pendapat, dimana seorang dokter mengusulkan untuk mengikuti dan menjalani peran delusional dari Anna. Oh ya, film ini memang seakan menjadi versi ringan dan bahagia dari Shutter Island (2010).

Bagi gue sendiri, sobekan tiket ini adalah sobekan tiket pertama dari film asal Finlandia. Menjadi pengalaman tersendiri untuk melihat bagaimana wujud rupa dari salah satu negara Skandinavia itu, sekaligus mendengar bahasa Finnish yang terucap sepanjang 100 menit. Tidak hanya Finlandia, penonton juga akan disuguhi sekilas kota Stockholm di Swedia ketika sang putri melakukan perjalanan kesana bersama "ajudannya".
gambar diambil dari sini
Film dengan setting rumah sakit jiwa selalu menarik untuk ditonton. Minimal, penonton akan tersenyum melihat tingkah laku para pasien kelainan jiwa ini, dimana deskripsi kita terhadap perilaku mereka adalah "kocak". Memang agak miris mengingat fakta bahwa tingkah laku "tidak normal" mereka malah menjadi bahan tertawaan bagi orang lain. Tapi rasanya, perasaan positif seperti tawa lah menjadi reaksi yang paling baik daripada perasaan negatif seperti sedih atau mengasihani. Hal ini dibuktikan dengan bagaimana para suster yang dengan senang berinteraksi dengan para pasiennya jauh lebih bahagia menjalani kesehariannya di institusi rumah sakit jiwa dibanding dengan para suster yang mengeluh saja.

Cerita dalam film ini juga secara jelas ingin membawa penontonnya pada diskusi tentang metode psikologis apa yang paling tepat untuk merawat para pasien yang mengalami kelainan jiwa. Penelitian secara biologis dan kimiawi mungkin membuktikan bahwa metode obat-obatan dan operasi membawa perubahan yang signifikan terhadap tingkah laku pasien. Namun untuk seberapa lama dan perubahan yang bagaimana? Dengan lobotomy, mungkin seorang pasien yang hiperaktif bisa menjadi mudah dikontrol. Tetapi apalah artinya dengan "mudah dikontrol" jika pasien tersebut malah kehilangan "kemanusiaannya", dengan tidak memiliki emosi lagi dalam diri (otak)-nya.
gambar diambil dari sini
Lebih jauh lagi, kelainan jiwa seperti apa sih yang harus disembuhkan? Kelainan jiwa yang destruktif pastinya dengan segera harus ditangani. Tapi bagaimana dengan kelainan jiwa yang konstruktif - dalam artian membantu dirinya dan orang lain ke arah yang lebih baik? Meng-klaim dirinya sendiri sebagai seorang putri kerajaan bagi kebanyakan orang mungkin tidak baik karena dia hidup dalam suatu ilusinya sendiri dan turut serta menyeret orang lain untuk masuk dalam dunia ciptaannya. Di lain pihak, ilusi positif tersebut ternyata membawa aura kebahagiaan - bahkan dia lebih bahagia daripada semua staff rumah sakit - dan juga kesembuhan bagi beberapa pasien.

Bagi sebagian orang, Anna Lappalainen bisa disebut oleh orang awam sebagai "orang gila". Tapi dia bahagia dengan dirinya sendiri, dan dia membagikan kebahagiaan tersebut kepada orang lain. Apa pendapat anda?


Rating?
7 dari 10

- sobekan tiket bioskop tertanggal 9 November 2011 edisi Europe on Screen -


BONUS:
Baca kisah hidup Anna Lappalainen yang asli disini

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top