Film yang berdasarkan kisah nyata ini bercerita tentang pasien yang terkenal di Rumah Sakit Jiwa Kellokoski di Finlandia, Anna Lappalainen. Di tahun 1933, Anna yang baru masuk di rumah sakit jiwa tersebut menolak dipanggil dengan namanya sendiri dan mendeklarasikan dirinya sebagai seorang "princess". Didiagnosa mengalami manic-depressive dan memiliki gejala schizophrenia, kedatangannya menjadi awal dari perselisihan panjang antara sang princess dengan staf rumah sakit atas identitas dan haknya untuk menentukan kepribadiannya sendiri. Pada akhirnya, Rumah Sakit Jiwa Kellokoski menjadi istana sang putri, dimana Anna membawa kebahagiaan - dan kesembuhan - bagi teman-teman sesama pasien.
Film yang ringan ini sangat menghibur, tentu saja dengan melihat uniknya tingkah laku dari sang putri. Senyum dan tawa pun tidak dapat dihindari melihat bagaimana sang putri mencoba mempertahankan gelar kebangsawanannya di rumah sakit jiwa tersebut. Segala macam label dan diagnosa istilah-istilah kesehatan terhadap apa yang diderita oleh Anna pun seakan dikesampingkan, untuk sekedar melihat dinamika perkembangan dan interaksi antara sang putri dengan orang-orang di sekitarnya.
![]() |
| gambar diambil dari sini |
Bagi gue sendiri, sobekan tiket ini adalah sobekan tiket pertama dari film asal Finlandia. Menjadi pengalaman tersendiri untuk melihat bagaimana wujud rupa dari salah satu negara Skandinavia itu, sekaligus mendengar bahasa Finnish yang terucap sepanjang 100 menit. Tidak hanya Finlandia, penonton juga akan disuguhi sekilas kota Stockholm di Swedia ketika sang putri melakukan perjalanan kesana bersama "ajudannya".
![]() |
| gambar diambil dari sini |
Cerita dalam film ini juga secara jelas ingin membawa penontonnya pada diskusi tentang metode psikologis apa yang paling tepat untuk merawat para pasien yang mengalami kelainan jiwa. Penelitian secara biologis dan kimiawi mungkin membuktikan bahwa metode obat-obatan dan operasi membawa perubahan yang signifikan terhadap tingkah laku pasien. Namun untuk seberapa lama dan perubahan yang bagaimana? Dengan lobotomy, mungkin seorang pasien yang hiperaktif bisa menjadi mudah dikontrol. Tetapi apalah artinya dengan "mudah dikontrol" jika pasien tersebut malah kehilangan "kemanusiaannya", dengan tidak memiliki emosi lagi dalam diri (otak)-nya.
![]() |
| gambar diambil dari sini |
Bagi sebagian orang, Anna Lappalainen bisa disebut oleh orang awam sebagai "orang gila". Tapi dia bahagia dengan dirinya sendiri, dan dia membagikan kebahagiaan tersebut kepada orang lain. Apa pendapat anda?
Rating?
7 dari 10
- sobekan tiket bioskop tertanggal 9 November 2011 edisi Europe on Screen -
BONUS:
Baca kisah hidup Anna Lappalainen yang asli disini





No comments