19 November 2011
0 kritik

FISFiC 6: Vol. 1

Fantastic Indonesian Short Film Festival (FISFiC) adalah kompetisi film pendek yang fokus pada genre horor, thriller, fiksi ilmah, dan fantasi. Diprakarsai oleh Joko Anwar, The Mo Brothers, Gareth Evans, Lala Timothy, Ekky Imanjaya, dan Rusli Eddy, kompetisi ini dimulai dengan workshop untuk 25 tim terpilih dengan sinopsis terbaik. Enam finalis telah dipilih dan masing-masing menerima dana sebesar 10 juta rupiah untuk memproduksi sebuah film pendek. Satu film pendek akan dipilih menjadi pemenang, tim yang menang pun akan memproduksi film pendek baru untuk omnibus film pendek fantastik yang akan disutradarai oleh Joko Anwar, Mo Brothers, dan Gareth Evans dan diproduseri oleh Likelike Pictures, untuk dirilis di bioskop pada tahun 2012. Berikut adalah ke-enam finalis film pendek karya anak bangsa yang disatukan dalam satu film omnibus.



Meal Time
Sutradara/Penulis: Ian Salim dan Elvira Kusno

Sekelompok sipir dan narapidana di sebuah rumah tahanan di daerah terpencil mencoba bertahan hidup di tengah serangan makhluk misterius. Makhluk sadis ini dicurigai menyamar menjadi salah satu dari mereka. Di tengah kegelapan malam, tanpa komunikasi, serta senjata seadanya, para sipir ini melakukan segala cara untuk dapat tetap hidup lebih lama lagi.


Dengan ide cerita yang cukup menarik, duet sutradara Ian Salim dan Elvira Kusno mengeksekusi film pendek horor/thriller ini dengan cukup rapi. Akting yang cukup meyakinkan dari setiap pemerannya membantu penonton dalam meresapi setiap misteri yang disuguhkan. Sayangnya, setiap lekuk misteri yang disimpan rapi sejak awal film harus terbuang percuma dengan kurang maksimalnya eksekusi adegan yang membuka misteri tersebut. Namun ending dari film ini akan membuat penonton terhentak dan mengais-ngais ingatan akan apa saja yang terjadi sejak awal film.


Rating: 7/10


Rengasdengklok
Sutradara: Dion Widhi Putra
Penulis: Yonathan Lim


Rengasdengklok, 1945. Seorang pemimpin besar sedang melakukan perjalanan untuk melakukan sebuah tugas yang akan menjadi tonggak sejarah sebuah bangsa. Tapi di tengah perjalanan, terjadi sebuah peristiwa mengerikan yang tidak pernah diceritakan oleh siapapun. Kaisar Jepang yang marah akan terebutnya wilayah kekuasaan dan pemboman Hiroshima dan Nagasaki pun diduga sebagai dalang dibalik peristiwa misterius tersebut.


Ide film ini sangat menarik, apalagi mencoba mengikut-sertakan sejarah bangsa Indonesia dengan "usulan" apa yang terjadi dalam perjalanan Bung Karno menuju Rengasdengklok. Peristiwa "misterius" yang terjadi pun dapat dibilang brilian. Namun sayang, akting dari semua pemeran dalam film ini benar-benar datar. Tampak grogi dan berusaha keras menghafal dialog, akting mereka ini cukup mengganggu dalam menikmati film. Film pendek ini pun kehilangan arahnya ketika mencoba memasukkan unsur komedi kedalamnya. Komedinya memang kena dan mampu membuat sebagian besar penonton meledak dalam tawa, namun sayang eksekusinya tidak maksimal dan kurang konsisten. Lagi-lagi, film pendek ini menyuguhkan twist-ending yang akan membuat penonton untuk berpikir sejenak, untuk kemudian mempasrahkan jawabannya kepada sutradara dan penulisnya. Akhir kata, hanya ada satu kata untuk menggambarkan keseluruhan film ini; gokil!


Rating: 7/10


The Reckoning
Sutradara: Zavero G. Idris
Penulis: Zavero G. Idris dan Katharina Vassar


Sepasang suami istri yang ingin beristirahat dari beratnya hari yang telah mereka lalui, dikejutkan oleh tamu-tamu yang tidak diundang. Sang suami yang sukses dan sang istri yang cantik harus bertekuk lutut di tangan kawanan penjahat yang tampak seperti perampok. Ketegangan pun meningkat ketika rahasia masa lalu mulai terungkap.


Cerita dalam film ini sebenarnya cukup sederhana. Namun eksekusi dari Zavero-lah yang membuat film ini menjadi menarik untuk dinikmati sampai habis. Warna hitam-putihnya selama film yang dipadu dengan misteri yang ada dalam cerita praktis menjadi salah dua faktor daya tarik dari film ini. Kekuatan utama dalam film ini adalah dialog, dan memang dibutuhkan konsentrasi yang cukup untuk mengikuti dialog antar-karakter. Praktis penonton dibuat asyik menebak-nebak apa yang sedang terjadi dan apa yang telah terjadi lewat dialog-dialog tersebut.


Rating: 6/10


Rumah Babi
Sutradara: Alim Sudio
Penulis: Harry Setiawan


Darto, seorang pembuat film yang ambisius berhasil mendokumentasikan insiden kerusuhan yang menimpa keluarga peternak babi yang beretnis Cina. Ketika harus kembali ke rumah keluarga tersebut untuk melakukan wawancara lanjutan, dia harus menghadapi teror yang tidak pernah dia duga sebelumnya. Film dokumenternya pun tampaknya akan menjadi film terakhir yang pernah dibuat oleh Darto.


Ide awal dari film ini benar-benar menarik dan cukup orisinil. Mengadaptasi kekerasan ekstrim yang pernah dialami oleh orang Indonesia keturunan Cina, Harry Setiawan membungkus premis ini dengan bumbu horor dan thriller. Sutradara Alim Sudio pun mengeksekusi cerita ini dengan cara yang brilian. Sinematografi yang asyik, score yang menambah ketegangan, serta akting meyakinkan dari sang pemeran utama sangat mendukung horor dan misteri yang tumpang tindih dalam film ini. Jalinan misteri yang tersimpan rapi, sampai pada akhirnya bulu kuduk penonton pun berdiri dengan ending yang diberikan.


Rating: 8/10


Effect
Sutradara: Adriano Rudiman
Penulis: Leila Safira dan Adriano Rudiman


Eva, seorang karyawan di kota urban telah menunggu sekian lama untuk promosi yang sangat dibutuhkannya, harus kecewa besar hanya karena ulah seenaknya dari bosnya. Karena rasa kesalnya yang teramat sangat, Eva pun memasukkan nama lengkap bosnya ke dalam sebuah website aneh yang menanyakan apakah ada seseorang yang sedang ingin disakitinya. Hari esok pun akan menjadi hari yang sangat aneh bagi Eva akibat perbuatan impulsifnya.


Sebenarnya ide dasar dari film ini menarik, dengan syarat harus disajikan dengan rapi, tepat, dan efisien. Sayangnya, Adriano Rudiman tampak terlalu berlama-lama dan membuat deretan kejadian menjadi sepanjang mungkin, sehingga adegan yang merupakan inti dari film ini memudarkan ketegangan yang ada. Tetapi salut untuk duet penulis Leila dan Adriano yang tampak benar-benar menguras otak untuk menyiapkan "adegan inti" tersebut.


Rating: 6/10


Taksi
Sutradara/Penulis: Arianjie AZ dan Nadia Yuliani


Dalam perjalanan pulang suatu malam, seorang wanita muda bernama Fina tidak punya pilihan selain menumpangi sebuah taksi di daerah sepi. Ternyata taksi tersebut cukup mencurigakan dan mengharuskan Fina mengalami serentetan kejadian mengerikan. Perjalanan pulang tersebut pun bagai mimpi buruk yang sulit dilupakan oleh Fina.


Cerita ini sebenarnya sangat sederhana, apalagi mengambil tema yang sangat dekat dengan kehidupan kota urban. Dengan banyaknya berita tentang kejahatan yang terjadi di dalam taksi yang kebanyakan korbannya adalah wanita, duet sutradara/penulis Arianjie dan Nadia pun mengadaptasi fenomena tersebut ke dalam film pendek dengan cara mereka sendiri. Betapa beruntungnya mereka ketika aktris berbakat Shareefa Daanish mewarnai layar dengan aktingnya yang nyaris tanpa cacat. Fenomena kota Jakarta dengan kejahatan dalam taksi dimana kebanyakan pelakunya adalah supir taksi itu sendiri, ditranslasikan dengan baik untuk kemudian diputar dan diaduk sedemikian rupa lewat arahan brilian dari duet sutradara/penulis ini. Nyaris keseluruhan dari film pendek ini berada di dalam taksi tidak membuat tim pembuat film kehabisan akal untuk mengambil gambar. Hasilnya, sinematografi yang asyik dan tidak membosankan, dialog-dialog yang dekat dengan keseharian orang Jakarta, dan adegan klimaks yang sangat memuaskan.


Rating: 9/10


Secara keseluruhan, film omnibus terbaru karya anak bangsa ini sangat menyegarkan industri perfilman Indonesia khususnya di genre horor. Maksud awal dari tim produser pun tercapai sudah, untuk mengembalikan kepercayaan publik yang dirusak oleh film-film horor dengan kualitas kancut. Yang jelas, film omnibus ini menambah daftar film omnibus karya Indonesia setelah TAKUT: Faces of Fear (2008). Adalah keberuntungan tersendiri bagi mereka yang berhasil menonton film ini di layar lebar dalam dua kali pemutaran dalam INAFFF 2011 kemarin, dimana tiket untuk kedua pemutaran tersebut terjual habis. Apalagi film ini tidak akan dirilis dalam jadwal tayang bioskop reguler. Bagi yang penasaran dengan film omnibus ini, dapat mencari DVD yang dirilis oleh Jive Entertainment.


 


Rating?
7 dari 10


-sobekan tiket bioskop tertanggal 19 November 2011 edisi Indonesia International Fantastic Film Festival-



BONUS:
Poster-poster alternatif dari keenam film pendek dalam omnibus ini


BONUS LAGI:
Berdasarkan penilaian dari tim produser (Joko Anwar, The Mo Brothers, Gareth Evans, Lala Timothy, Ekky Imanjaya, Rusli Eddy), pemenang dari kompetisi film pendek fantastik ini adalah _____Taksi_____ (blok tulisan ini untuk mengetahui pemenang)

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top