12 November 2011
0 kritik

Bellflower

Kisah romansa antara pria dan wanita telah berulang kali difilmkan dengan berbagai cara dan berbagai gaya. Alih-alih film yang memakan biaya produksi besar dan berasal dari label ternama, rasanya malah film-film independen yang lebih banyak diingat oleh publik. Di tahun 2009, banyak yang dibuat takjub oleh (500) Days of Summer dengan gaya penceritaan yang tidak biasa dan cerita yang sangat akrab oleh para pria. Di tahun 2010, Michelle Williams dan Ryan Gosling menetapkan standar baru untuk berakting dalam film romance/break-up lewat Blue Valentine. Di tahun 2011 ini, genre romance keluaran label indie dengan budget rendah akan ketambahan satu film karya produser/sutradara/penulis naskah/aktor debutan Evan Glodell. Kisah romansa, flamethrower, muscle car, dan kiamat; semua ini ada dalam film Bellflower.

Dua sahabat karib menggunakan seluruh waktu bebas mereka untuk membuat barang-barang yang mereka anggap keren. Terinspirasi oleh film Mad Max, mereka membuat senjata pelontar api dan mobil keren untuk bersiap-siap jika kiamat global datang. Disaat menunggu dunia kiamat, salah satu dari mereka bertemu seorang gadis dan jatuh cinta. Terbuka dengan teman-teman dan orang-orang baru, mereka pun mulai menjalani hidup yang penuh dengan pengkhianatan, cinta, kebencian, dan ketidaksetiaan yang (ternyata) lebih menghancurkan ketimbang khayalan kiamat mereka.

Rasanya tidak ada sutradara film yang lebih nyentrik dan kacau daripada Evan Glodell. Evan menulis naskah cerita film ini sejak tahun 2003, dimana cerita tersebut terinspirasi dari kisah cinta pribadinya, lalu membuat dengan total budget sekitar 17 ribu USD, sambil menghindari kejaran polisi karena tindak perdata yang ia langgar. Banyak terpengaruh oleh film Mad Max 2 (1981), kekagumannya pada kiamat, serta obsesinya membuat pelontar api di masa kecil pun tidak tanggung-tanggung untuk dibawa serta untuk masuk ke dalam debut filmmya. Dihiasi oleh visual yang bergaya apocalyptic dan camera work yang stylish, film ini siap membuat penonton melakukan perjalanan panjang dengan mobil keren pelontar api yang melewati berbagai belokan yang tidak terduga.

gambar diambil dari sini
Sebuah film yang asyik untuk ditonton adalah film yang dapat menangkap ketertarikan penonton hanya dalam menit-menit pertamanya saja, dan film ini berhasil menjalankan tugas ini dengan sangat baik. Adegan perkenalan dengan kedua karakter kita yang nyeleneh ini sangat menarik dan orisinil. Bagaimana tidak, walaupun mereka terlihat sebagai dua orang penggangguran yang tidak bekerja, tetapi mereka memiliki determinasi yang tinggi untuk mewujudkan senjata pelontar api mereka. Selain itu, perkenalan salah satu karakter utama kita dengan love interest-nya tinggal menjustifikasi ketertarikan penonton untuk duduk manis dan menikmati film ini. Ketika setengah awal film ini berhasil menarik penonton ke dalam dunianya, maka apa yang akan terjadi selanjutnya di layar akan dengan mudah terserap ke dalam pikiran dan perasaan penonton.

Film ini sangat jujur dengan apa yang sedang terjadi di layar, entah itu dialog ngasal antara dua sahabat ini ataupun setiap adegan romantis yang ada. Tidak ada dialog-dialog klise dan cheesy, yang ada hanyalah dialog-dialog natural yang biasa kita dengar di luar bioskop. Sebagai contoh, adegan perkenalan antara salah satu karakter utama dengan love interest-nya dapat membuat kita tanpa sadar tersenyum geli. Selain itu, score dan pemilihan soundtrack yang digunakan mampu merepresentasikan formula yang tidak biasa; percintaan dan kiamat. Catat, Jonathan Keevil sebagai yang bertanggung jawab dengan original music yang ada dalam film ini. Dengan balutan melodi kelamnya, mampu menyeret penonton untuk pasrah begitu saja dengan emosi yang sedang dibangun di layar.
gambar diambil dari sini
Pujian tertinggi untuk Evan Glodell yang memvisualisasikan cerita cinta dalam film ini dengan bergaya kiamat. Tidak hanya dengan teknik shaky-camera, tetapi Evan juga menambahkan efek unfocused spot dalam beberapa shot untuk menegaskan titik gravitasi yang ada dalam adegan tersebut. Selain itu, Evan juga membuat lensa kamera terlihat kotor dengan bercak-bercak hitam disana-sini, menambah kesan bahwa adegan ini disyut di sebuah tempat yang porak poranda karena suatu kerusakan besar. Semua teknik ini dipadukan demi meningkatkan dan menjaga suasana film agar tampak seakan planet bumi sedang berada di ujung umurnya. Konsekuensinya, atmosfer yang terbangun pun menjadi cukup suram dan kelam. Untuk mudahnya, bayangkan kombinasi antara The Road (2009) dengan The Book of Eli (2010). Ya, sesuai dengan tagline-nya, ini adalah cerita cinta dengan aroma kiamat.

Kebanyakan karakter yang ada dalam film ini mungkin tidak seperti karakter-karakter normal di kebanyakan film lainnya. Alih-alih dibekali dengan berbagai kepribadian yang baik dan nyaris sempurna, karakter utama kita malah seorang yang impulsif dan insecure. Seperti layaknya anak-anak muda yang tidak bekerja dan hanya tahu untuk bersenang-senang, mereka mengendalikan jalan cerita film ini dengan setiap tindakan tidak terduga yang mereka lakukan - dan jelas tindakan tersebut bukanlah sebuah tindakan yang akan dilakukan oleh orang kebanyakan. Namun justru formula tersebut yang membuat film ini menjadi jauh lebih menarik, terbukti dengan bagaimana penonton menjadi sulit untuk menebak kemana arah jalan cerita ini. Ditambah dengan twist ending yang tidak terduga dan akan membuat mulut menganga, lalu melempar tanggung jawab interpretasi ending kepada penonton masing-masing. Ya ya ya, film seperti ini memang akan membagi penonton ke dalam kelompok love it atau hate it, dengan hanya sedikit yang bisa berada diantaranya. Dengan gaya bertutur-ceritanya yang tidak sesuai dengan pakem dunia perfilman, tidak heran jika film yang terpilih menjadi offical selection Sundance Film Festival 2011 ini menuai kritik yang beragam. Tetapi bagi penonton yang termasuk dalam kelompok "love it" pasti akan menunggu-nunggu Evan Glodell dan timnya dalam film-film selanjutnya.
gambar diambil dari sini
Secara keseluruhan, cerita romansa yang ada dalam film ini memang adalah sebuah kisah tragedi romansa yang selalu terulang sepanjang sejarah hidup manusia. Namun seorang Evan Glodell mampu membawakan kisah klasik ini dengan cara dan gayanya sendiri. Ya, drama romantis dalam balutan ledakan kiamat, dan dilengkapi oleh flamethrower dan muscle car. Film ini adalah kisah romantis-tragis Blue Valentine diatas mobil Mad Max yang melaju ugal-ugalan.

"A love story with apocalyptic stakes"



Rating?
9 dari 10

- sobekan tiket bioskop tertanggal 12 November edisi Indonesia International Fantastic Film Festival -

BONUS:
Cerita di balik layar pembuatan film ini dari sutradara Evan Glodell dapat dibaca disini

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top