19 November 2011
0 kritik

Rabies

Homo homini lupus. Relevansi frase Latin ini tampaknya tidak lekang oleh waktu dan tempat. Kebanyakan film horror/thriller/slasher pun cukup menggambarkan frase tua ini dengan tokoh antagonis yang telah diplot sejak awal. Namun sinema Israel yang sedang bangkit mencoba mengekstensi frase ini dengan lebih ekstrim lewat film thriller/slasher pertama dari negara tersebut, Rabies (Kalevet).

Kakak beradik yang sedang melarikan diri dari rumah, terjebak di sebuah hutan ketika sang adik terperangkap oleh jebakan seorang pembunuh psikopat. Sang kakak pun berlomba dengan waktu untuk menyelamatkan sang adik. Usaha penyelamatan sang adik pun secara tidak sengaja melibatkan hidup dari sekelompok pemain tenis, penjaga hutan dan anjingnya, serta satu tim polisi.

Cerdas. Setidaknya satu kata itu yang ada dalam kepala gue ketika ending credit mulai berguling dan lampu auditorium dinyalakan. Ini adalah pengalaman kedua gue dalam menonton film asal Israel, dan film ini masih tetap menjaga citra baik sinema Israel di mata gue. Boleh jadi ini adalah film horror/thriller/slasher pertama dari negara tersebut, tetapi duet sutradara/penulis Aharon Keshales dan Navot Papushado telah memberikan yang terbaik. Dengan plot yang cerdas, thriller yang konsisten memberikan ketegangan, serta humor satire yang mewarnai, film ini berhasil membuat sebuah film horror/thriller/slasher dengan rasa baru dan unik.

Thriller/slasher yang dipertontonkan benar-benar sukses mengejutkan penonton. Deretan kejadian "shit happens" yang sambung-menyambung dan tumpah tindih dalam film ini bagaikan robohnya rumah kartu yang disusun panjang dan bercabang. Pendulum horor yang bergerak tak tentu arah ini memang adalah keunggulan dari film ini. Disajikan dalam lingkup keseharian yang tampak normal, serta menggunakan alat-alat apa saja di sekitar si karakter untuk menghabisi lawannya; senapan, pistol, kapak, ranjau, bahkan batu. Yang lebih sinting lagi, semua ini terjadi di siang hari di bawah sinar matahari! Semua ini seakan menjadi simbolisasi bahwa perilaku "manusia adalah serigala bagi manusia lain" dapat terjadi kapan saja dan dimana saja.

Setiap kejutan mampu mengagetkan penonton, bahkan untuk mereka yang telah bersiap-siap untuk menghadapi adegan paling sadis sekalipun. Dengan jalan cerita yang unik dan terbilang orisinil, penonton film bergenre sejenis yang paling berpengalaman sekalipun rasanya masih tidak dapat menebak apa adegan selanjutnya dan kemana arah jalan ceritanya. Namun sayang, formulasi cerita yang ditampilkan tidak memiliki klimaks yang signifikan, sehingga sepanjang film terlihat datar saja - walaupun dengan deretan adegan slasher yang konsisten disajikan sampai akhir.
Selain itu, Keshales dan Papushado tampak masih sangat terpengaruh oleh ciri khas film horror/thriller khas Hollywood. Menempatkan wanita pirang yang cantik sebagai karakter bodoh dan berbakat untuk menjadi korban, polisi yang kurang membantu, serta berbagai tindakan kurang cerdas dari beberapa karakter dalam menghadapi situasi tertentu. Tetapi setidaknya, penonton kaum adam film ini disadarkan bahwa betapa cantiknya wanita-wanita Israel itu. Belum lagi, segala kelemahan tersebut dibayar dengan adegan akhir yang cerdas dan kental berbau satir, yang setidaknya membuat gue berpikir pesan apa yang hendak disampaikan oleh Keshales dan Papushado.



Rating?
8 dari 10

-sobekan tiket bioskop tertanggal 19 November edisi Indonesia International Fantastic Film Festival-

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top