20 November 2011
One kritik

The Raid

Ada berapa banyak film action asal Indonesia? Mungkin tidak banyak, dan yang jelas tidak sebanyak film horor-seks-komedi kelas "A" (Ancur) yang beredar di bioskop-bioskop tanah air dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir. Film action lokal yang memiliki kualitas bagus pun rasanya hanya bisa dihitung dengan jari tangan saja, seperti Kala (2007), Merah Putih (2009), Merantau (2009), Darah Garuda (2010). Namun kali ini, sebuah film aksi-laga terbaru (dan terbrutal) yang pernah dibuat di Indonesia akan memberikan warna baru dan mengguncang dunia perfilman Indonesia, The Raid (Serbuan Maut).

Jauh di dalam kawasan kumuh sebuah kota metropolitan, berdiri sebuah gedung apartemen lusuh yang menjadi tempat kediaman seorang gembong narkoba dan gangster yang paling berbahaya di seluruh penjuru kota. Sampai saat ini, apartemen tersebut dikenal tidak tersentuh, baik oleh satuan polisi ataupun rival gangster. Diselimuti oleh kegelapan dini hari, satuan polisi elite yang dipimpin oleh Sersan Jaka (Joe Taslim) bertugas untuk menyerbu apartemen tersebut untuk menangkap dan melumpuhkan gembong narkoba tersebut, Tama (Ray Sahetapy). Seorang polisi muda minim pengalaman, Rama (Iko Uwais), terlibat dalam penyerbuan tersebut dengan misi pribadinya. Namun ketika keberadaan mereka diketahui dan berita tentang penyerbuan mereka sampai ke telinga Tama, listrik dimatikan dan semua jalan keluar ditutup. Tama pun mengirim dua anak buah terbaiknya, Andi (Donny Alamsyah) dan Mad Dog (Yayan Ruhiyan) untuk menggagalkan penyerbuan tersebut dan membunuh semua polisi yang ditemuinya. Terjebak di lantai 6 dan tidak ada jalan keluar, Jaka dan kawan-kawan harus bertahan hidup dan terus bertarung untuk menyelesaikan misi mereka.

Ketika ending credit film ini bergulir, hiruk pikuk penonton yang bertepuk tangan dan memberikan apresiasi pun tak kuasa bergema di dalam Audi 1 Blitzmegaplex Grand Indonesia, bahkan sebagian kecil penonton memberikan standing ovation. Film yang baru pulang kampung setelah mendapat berbagai respon positif di dunia internasional ini memang baru diputar perdana di tanah air pada hari Minggu, 21 November 2011 kemarin. Rasanya, sutradara/penulis asal Wales Gareth Evans yang berada di balik layar film ini dapat bernafas lega ketika sekitar 500 penonton pertama di Indonesia pada malam pemutaran perdana tersebut memberikan apresiasi tertinggi untuk karya film panjang ketiganya. Bahkan sebelum pemutaran, festival director INAFFF 2011, Rusli Eddy, sempat berseloroh bahwa film pertama Evans (Footsteps, 2006) yang ditayangkan dalam INAFFF 2007 hanya dihadiri tidak lebih dari 20 orang. Namun kali ini, antusiasme pencinta film di tanah air membludak untuk mengantisipasi film ini, bahkan tiket penjualan langsung terjual habis kurang dari 10 menit ketika loket penjualan dibuka beberapa minggu lalu.


Antusiasme penonton dalam menanti film ini tidak lepas dari trailernya yang sangat menjanjikan. Apalagi setelah dipublikasikannya trailer versi lain dengan musik yang diaransemen oleh Mike Shinoda dan Joe Trapanese, yang mengiringi sederetan adegan aksi laga mulai dari tembak menembak sampai dengan berkelahi tangan kosong. Sebagian penonton mungkin akan merasa semakin penasaran dengan trailer yang 100% berisi adegan aksi yang kelewat brutal. Ada pula sebagian penonton yang merasa khawatir bahwa trailer tersebut telah memberikan keseluruhan plot cerita dan momen-momen terbaik dalam film. Namun rasanya bagi mereka yang telah menonton film ini sama-sama sepakat bahwa trailer dari film ini TIDAK membeberkan adegan-adegan terbaik dalam The Raid.

Gareth Evans yang memperkenalkan silat tradisional asal Minangkabau, Silat Harimau, dalam film sebelumnya (Merantau, 2009) membawa teknik beladiri silat pada level tertinggi dalam film terbarunya ini. Jika dalam Merantau, beladiri silat dibawakan sebagai instrumen untuk bertahan dan bukan untuk melukai orang lain, maka dalam The Raid beladiri silat sebagai cara terakhir untuk bertahan hidup dan membunuh lebih dulu sebelum dibunuh. Ketika amunisi senjata dan pistol telah habis, maka tangan kosong yang selanjutnya akan bertindak dengan memanfaatkan keadaan ruang di sekelilingnya. Dalam The Raid pula, Evans berhasil menggeser standardisasi "action movie" ke level baru, dengan menggabungkan elemen senjata dan berkelahi tangan kosong yang dibawakan dengan cara yang terbilang sadis dan unik. Lewat film ini, dijamin penonton tidak akan tahu sebelumnya bahwa membunuh orang lain bisa dilakukan lewat cara-cara yang disajikan dalam setiap adegan berkelahi dalam The Raid.

Tercatat, ada tiga praktisi beladiri yang datang dari latar belakang yang berbeda terlibat langsung, baik sebagai koreografer dan/atau pemain, dalam film ini. Iko Uwais dengan pencak silat-nya, Yayan Ruhian dengan Silat Harimaunya, dan Joe Taslim dengan beladiri judo-nya. Pujian tertinggi patut diberikan kepada Iko dan Yayan yang menjadi otak dibalik koreografi silat dalam film ini. Mereka mampu mengkombinasi gaya silat yang berbeda tersebut sehingga memberikan warna dan keunikan tersendiri. Apalagi dengan elemen silat yang mendominasi film membuat The Raid terasa "Indonesia sekali".


Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, koreografi silat dalam The Raid akan lebih mengarah kepada membunuh lawan-lawannya dengan cara seefisien dan seefektif mungkin. Dimensi ruang serta properti apa saja yang tersedia di sekitar karakter yang sedang bertarung digunakan dengan semaksimal mungkin untuk melumpuhkan serta membunuh lawannya untuk kemudian memberikan adegan pertarungan yang mengagumkan. Tidak hanya bertarung, Iko dan Yayan terbukti tampil jauh lebih baik dalam berakting dibandingkan Merantau. Iko tampil maksimal dengan kedalaman karakter yang berarti, serta mampu membuat penonton (wanita) menjerit ketika dia harus berdarah tergores golok besar. Sementara Yayan mampu menjawab kepercayaan Evans yang memberikan porsi lebih banyak dalam film ini. Fighting scene dari Yayan pun cukup banyak dan panjang, yang kemudian terlihat bagaimana kali ini Yayan sebagai koreografer tidak mau semudah itu dikalahkan oleh lawan-lawannya dalam film ini.

Jika Yayan membawa teror pada pasukan polisi yang menyerbu lewat karakter Mad Dog-nya, maka Ray Sahetapy memberikan teror lewat kekuatan karakternya. Aktor senior ini tampil nyaris tanpa cacat untuk menghidupkan karakter Tama yang dingin dan tidak segan membunuh siapa saja dengan alat apa saja yang ditemuinya. Apalagi perkembangan karakter Tama sangat signifikan sepanjang 101 menit film, yang walaupun sequence time setiap adegan hanya sedikit namun Oom Ray mampu tampil menonjol dan mencuri perhatian. Saking kuatnya karakter Tama seakan-akan mendominasi setiap karakter lain yang berada dalam satu layar dengan dia. Walaupun ketika Oom Ray harus beradu akting dengan sesama aktor senior, Pierre Gruno yang menjadi letnan pasukan polisi, perhatian penonton seakan masih terserap oleh kharisma dari Tama.

Tentunya koreografi perkelahian sebaik apapun tidak akan terlihat cantik jika tidak didukung oleh sinematografi yang baik. Mike Flannery yang bertanggung jawab akan sinematografi dalam film ini memberikan hasil yang luar biasa dengan arahan shot yang bisa menangkap setiap detil perkelahian yang ada. Shot-shot cantik yang ada seakan tidak peduli akan keterbatasan ruang di dalam lorong apartemen yang sempit ataupun di dalam ruang persembunyian yang sangat sempit. Tangkapan adegan dari sudut-sudut yang paling tidak mungkin ini ternyata efektif dalam menaikkan tensi ketegangan yang ada. Bahkan untuk beberapa adegan perkelahian tanpa iringan musik sekalipun, penonton dibuat menahan nafas beberapa kali. Untuk menjaga ritme ketegangan sepanjang film, Fajar Yuskemal dan Aria Prayogi melakukan tugasnya dengan sangat baik lewat aransemen score yang menemani setiap adegan. Musik instrumental yang bernada rock cukup efektif untuk menaikkan tensi ketegangan, yang sebenarnya sudah cukup menegangkan dengan bagaimana Iko Uwais dan kawan-kawan beraksi menghadapi lawan-lawannya.


Gareth Evans memang menyajikan paket aksi laga yang brutal dan berdarah-darah dalam film terbarunya, tetapi bukan berarti film ini hanya berisi adegan perkelahian saja. Sekitar 25% dari film ini dihabiskan untuk memberikan sisi drama dibalik desingan peluru dan adu jotos. Dimulai dari bagaimana latar belakang penyerangan kontroversial tersebut sampai pada misi pribadi Rama dalam memasuki gedung apartemen itu. Walaupun dengan proporsi drama yang kecil, terbukti penonton dapat menyerap perkembangan karakter yang ada. Sepertinya Evans memang memiliki formula pengembangan karakter yang mengkombinasikan dengan melihat bagaimana mereka berkelahi, untuk kemudian melihat cerita dibalik aksi tembak-pukul-tendang itu. Ya, 15 menit pertama dari film ini saja telah dihabiskan oleh bunyi senjata dan desingan peluru, untuk kemudian dilengkapi oleh drama yang ada di pertengahan film.

Dari segi teknis yang brilian, film ini terasa seakan bukan film Indonesia. Namun nyatanya, 99% dari pemeran dan kru adalah orang Indonesia. Rasa Indonesia ini tidak hanya terlihat lewat jurus silat yang mendominasi film ini, namun juga lewat nilai-nilai yang ditampilkan serta dinamika psikologis antar karakter yang disajikan. Rasa kekeluargaan, gotong royong, dan rasa memiliki dari hubungan tali persaudaraan muncul silih berganti mengiringi proporsi drama yang ada.

Namun salah satu kekurangan bagi naskah yang ditulis oleh seorang asing adalah bagaimana Evans kurang peka menempatkan beberapa dialog "kaku dan formal" yang sangat jarang untuk diucapkan dalam keseharian orang Indonesia. Selain itu, kondisi set apartemen kumuh yang ada dalam film ini juga rasanya tidak realistis kalau memang benar "universe" dalam film ini adalah kota Jakarta. Rasanya di Jakarta sulit untuk menemukan apartemen kumuh dengan elevator yang masih berfungsi dengan baik dan detil interior yang digambarkan dalam film ini.


Belum lagi bagaimana Gareth Evans menempatkan satu kelompok gang yang tampaknya berasal dari satu suku dari daerah Indonesia Timur yang terkenal dengan stereotipe "sangar dan menyeramkan". Penempatan stereotipe ini bagaikan pedang bermata dua bagi Evans. Di satu sisi, stereotipe ini memang sesuai dengan stereotipe yang ada di masyarakat terhadap suku tersebut. Namun di sisi lain dengan penggambaran karakter, dialog, serta senjata yang diberikan dikhawatirkan akan membawa citra yang kurang baik terhadap suku yang digambarkan. Hal tersebut dibuktikan dengan tawa penonton yang meledak pada pemutaran perdana kemarin ketika karakter yang bersangkutan mengucapkan setiap dialognya, walaupun dialog tersebut sangat-sangat absurd. Namun tampaknya detil ini tidak akan berlaku bagi penonton internasional yang tidak memahami stereotipe tersebut. Semua kekurangan ini hanyalah bersifat detail kecil yang bisa dengan mudah ditutupi oleh agung dan perkasanya sederetan adegan aksi yang memenuhi film ini.

Akhir kata, pecinta film di Indonesia layak berterima kasih kepada Gareth Evans dan kawan-kawan karena telah mengembalikan kepercayaan publik terhadap kualitas film lokal, khususnya film laga. Walaupun rasanya antusiasme tersebut terpengaruh secara signifikan oleh suksesnya film ini dalam dunia internasional seperti Toronto International Film Festival 2011 dengan memenangi penghargaan People's Choice Award. Belum lagi dengan berita terakhir, film ini akan meramaikan Sundance Festival 2012. Semua ini tidak lepas dari peran eksekutif produser Todd Brown yang membawa film ini ke kancah internasional, yang membuat film Indonesia ini akan tayang di sejumlah negara secara reguler karena hak distribusinya telah dibeli oleh distributor setempat (Sony - US, Alliance - Canada, Momentum - UK, Madman - Australia, SND - France, Koch - German, Kadokawa - Japan, HGC - China, Calinos - Turkey). Berita terakhir tentang kesuksesan film ini adalah bagaimana salah satu rumah produksi Hollywood, Screen Gems, membeli hak untuk membuat ulang (remake) film ini dengan memboyong Gareth Evans sebagai produser eksekutif serta Iko Uwais dan Yayan Ruhian sebagai koreografer (berita lengkap dapat dibaca disini).


Ide dasar dari film ini sebenarnya sangat sederhana, namun Evans yang sudah terlanjur jatuh cinta dengan pencak silat Indonesia menggunakan ide sederhana tersebut sebagai titik awal untuk memperkenalkan silat ke level yang lebih tinggi. Tujuan itu pun tercapai dengan baik melihat bagaimana film ini yang penuh dengan adegan baku tembak, tendang, pukul, banting, tusuk, bacok, dan berdarah-darah dengan arahan gaya yang elegan. Oh ya, The Raid memang menjadi penutup yang sempurna bagi penyelenggaraan Indonesia International Fantastic Film Festival tahun ini. Akhir kata, The Raid dapat mengobati kerinduan penonton Indonesia untuk menyaksikan film lokal yang berkualitas, khususnya film aksi. Sayangnya, bagi penonton Indonesia harus bersabar menunggu beredarnya film Indonesia yang "bergaya Hollywood" ini di bioskop-bioskop terdekat pada bulan April 2012.


Indonesia | 2012 | Action | 100 min. | Aspect Ratio 2.35 : 1

Won for People's Choice Award (Gareth Evans), Midnight Madness in Toronto International Film Festival, 2011. Official selection for out-of-competition section in Spotlight (Gareth Evans), Sundance Film Festival, 2012. 

Rating?
9 dari 10


1 kritik:

  1. Kalau review-nya sudah semantap ini gimana film aslinya? :)
    Penasaran dengan bagian tentang stereotipe satu suku di film ini.

    ReplyDelete

 
Toggle Footer
Top