18 November 2011
0 kritik

Love

Sudah menjadi hal yang biasa bagi para musisi untuk membuat album yang berkonsep. Mungkin masih jelas di ingatan ketika Coldplay membuat concept album Viva la Vida or Death and All His Friends dengan berkonsep revolusi. Concept album ini terlihat dari cover album, kostum anggota band selama konser, dan tentu saja terdengar dari setiap track yang ada. Sejatinya, sebuah concept album bermula dari satu ide cerita yang ada. Nah bagaimana jika ide cerita ini diekstensi dan ditransformasikan menjadi sebuah film? Rasanya baru band Angels & Airwaves saja yang bisa dan berani melakukan hal tersebut dengan film yang diproduksinya; Love.

Film ini fokus pada dua cerita yang terjadi dengan rentang waktu beberapa abad namun saling pararel secara filosofis satu dengan yang lain. Cerita seorang pejuang yang dikirim ke daerah barat untuk menemukan suatu hal yang luar biasa di jaman Perang Saudara AS. Sementara beberapa abad kemudian, seorang astronot yang hidup dan bekerja sendiri di International Space Station tiba-tiba kehilangan kontak dengan bumi. Harus menghabiskan sisa waktu hanya seorang diri, astronot tersebut mulai menemukan hal baru mengenai pesawatnya, mengenai dirinya sendiri, dan juga eksistensi manusia.

Premis isolasi ekstrim bagi seorang manusia, baik di bumi atau di luar angkasa, mungkin bukan suatu hal yang baru di dunia perfilman. Lapis pertama bagi film-film semacam ini tentunya adalah efek psikologis dari si karakter dalam menghadapi kesendiriannya. Namun sutradara/penulis naskah William Eubank yang memulai debutnya lewat film ini menambahkan lapisan baru menurut sudut pandangnya. Berhubung film ini adalah transformasi dari concept album dari AvA, maka Eubank menambahkan pentingnya interaksi antar-manusia dan cinta, yang disadari lewat isolasi ekstrim tersebut. Kemudian pada lapisan terbawah dan terdalam, Eubank menambahkan hal betapa rapuhnya eksistensi manusia secara fisik, kemudian mengusulkan bahwa betapa pentingnya cerita dan memori dari manusia sebagai harta warisan manusia. Semua ide ini dirangkum dan divisualisasikan dengan sangat cantik, dan pastinya diiringi oleh scoring dari album AvA, Love (2010) secara instrumental.

Cara bercerita Eubank lewat film ini memang tidak biasa. Selain tidak naratif, film ini juga non-linear dalam menuturkan jalan cerita. Hampir setengah film dihabiskan untuk "halusinasi" dan proyeksi acak dari keadaan psikologis sang astronot pada waktu tertentu. Ya, bisa dibilang cara bertutur cerita dalam film ini mirip dengan cara Terrence Malick menuturkan cerita Tree of Life (2011) yang memiliki setting seperti dalam film Moon (2010). Dengan cara bertutur yang tidak biasa serta pesan filosofis yang dibawa, film ini jelas bukan untuk konsumsi semua orang. Jelas film ini bukan untuk para fans berat AvA, dimana satu-satunya penghiburan bagi mereka adalah mendengarkan scoring dalam film ini. Jika anda sangat menikmati dan cocok dengan Tree of Life, Moon, atau bahkan 2001: A Space Odyssey (1968), maka anda akan menyukai konsep yang ditawarkan oleh film ini.

Belum lagi, film ini menambah satu referensi baru bagi gue untuk perkara eksistensi manusia di alam semesta. Eubank sendiri mengakui bahwa film ini terinspirasi secara signifikan oleh  foto tenar Pale Blue Dot. Ini adalah foto dari planet bumi yang diambil oleh pesawat luar angkasa Voyager 1 pada tahun 1990. Misi Voyager 1 adalah menjelajah luar angkasa sampai keluar dari tata surya kita. Ketika misinya telah berakhir sukses, astronom Carl Sagan meminta NASA untuk menggunakan Voyager 1 untuk memfoto bumi dari tempat dimana pesawat luar angkasa itu berada, 6 milyar kilometer dari bumi. Hasilnya adalah foto spektakuler planet bumi yang hanya berupa titik kecil berwarna biru keputih-putihan, diantara kegelapan dari kedalaman luar angkasa. Dengan jarak yang telah ditempuh oleh Voyager 1 dan maha-luasnya luar angkasa, foto ini menunjukkan betapa kecil dan rapuhnya eksistensi manusia sebagai makhluk hidup utama di planet bumi.
Hal yang memukau dalam film ini adalah visualisasi dari animasi dan efek visual yang ada. Mungkin sulit bagi sebagian besar penonton untuk mengimbangi tempo lambat yang dibawa oleh film ini, namun hal tersebut akan terbayar oleh kepuasan tersendiri dengan indahnya sinematografi di sepanjang film. Ultra slow-motion dari adegan perang saudara yang ada, halusinasi dan proyeksi acak dari keadaan psikologis sang astronot divisualisasikan dengan sangat indah, memukau, dan memanjakan mata. Setidaknya adegan-adegan ini akan bertahan lama di kepala gue dalam jangka waktu yang lama. Jika telah melihat hasilnya, jangan kaget jika William Eubank hanya menghabiskan 500 ribu USD saja untuk total budget pembuatan filmnya. Plus setting ISS yang mendominasi film hanyalah dari set sederhana yang dibangun dari berbagai materi daur ulang dan bertempat di halaman belakang rumahnya.

Harus gue akui, gue cukup risih dengan beberapa goof penting yang ada dalam film ini walaupun gue mengerti masalah utamanya ada di dana. Keadaan gravitasi dan jumlah kru ISS adalah salah duanya. Setidaknya Eubank bisa menambahkan beberapa dialog atau apapun itu untuk menutupi lubang tersebut.

Terlepas dari plot holes yang ada, film ini tetap menarik untuk menambah referensi terhadap film-film bertema serupa. Adalah tantangan tersendiri untuk menemukan keterkaitan antara cerita perang saudara dengan cerita sang astronot yang terisolasi di atas sana. Memang membutuhkan tingkat konsentrasi yang tinggi untuk dapat mengikuti film ini 100%, namun semua itu terbayar dengan temuan filosofis dan visual yang memanjakan mata, serta scoring asik yang memanjakan telinga.



Rating?
7 dari 10

- sobekan tiket bioskop tertanggal 18 November edisi Indonesia International Fantastic Film Festival -


BONUS:
Baca artikel wikipedia tentang Pale Blue Dot disini

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top