20 November 2011
0 kritik

Livid

Film horor dengan setting rumah tua yang berhantu memang menjadi langganan para pembuat film horor. Terlalu banyak film horor yang menggunakan rumah tua berhantu menjadi panggung utama dengan plot yang berbeda-beda. Namun kali ini, duet penulis asal Perancis, Alexandre Bustillo - Julien Maury yang pernah menelurkan film slasher realistis, Inside (2007), menawarkan film horor fantasi terbaru mereka dengan Livid (Livide).

Ini adalah hari pertama bagi Lucy, caregiver muda yang melakukan kunjungan ke rumah-rumah orang tua yang membutuhkan perawatan khusus. Bersama mentornya, Lucy mengunjungi rumah terakhir pada pelatihan hari itu - rumah tua dan besar milik Mrs. Jessel. Mengetahui bahwa Mrs. Jessel memiliki harta karun tersembunyi di suatu tempat di dalam rumah besarnya, Lucy dan kawan-kawan memutuskan untuk memasuki rumah itu di malam hari dengan harapan untuk menjadi kaya. Namun pencarian harta karun mereka dalam rumah Mrs. Jessel malah membuat mereka mengalami berbagai pengalaman supranatural yang aneh dan mengerikan, dan akan membuat hidup Lucy berubah untuk selamanya.

Diantara film-film horor yang sudah lebih dulu mengambil setting haunted-house, Bustillo-Maury ternyata mengemas film panjang kedua mereka dengan cara mereka sendiri dan memiliki rasa Perancis yang nikmat. Tidak hanya sederetan adegan seram yang mengejutkan penonton, Bustillo-Maury juga memberikan unsur drama yang kental dan signifikan dalam jalan cerita. Ditambah lagi, dimasukkannya unsur fantasi dan supranatural di setengah akhir dari film yang membuat film ini menjadi menonjol diantara film-film sejenis. Semua itu dikemas dengan visual dan sinematografi yang cantik menawan, yang serta merta membawa pengalaman sinematik yang memuaskan.


Film ini membangun tensinya dengan baik, bersamaan dengan lipatan-lipatan misteri yang tergulung satu sama lain sepanjang setengah awal dari film. Praktis penonton dibuat tidak sempat untuk bermain tebak-tebakan apa yang sebenarnya terjadi ketika Bustillo-Maury menyuguhkan berbagai adegan kejut dan berdarah-darah. Revelasi dari misteri yang tumpang tindih pun sama memuaskannya dengan rasa penasaran di awal film ketika penonton mulai mengaitkan untaian benang merah yang ada dari awal sampai akhir. Praktis semua adegan, bahkan untuk adegan pendek yang tampak tidak berhubungan dengan jalan cerita sekalipun, memiliki kontribusi signifikan untuk melengkapi gambar besar misteri yang ada dalam rumah Mrs. Jessel.

Orisinalitas plot cerita dalam film ini akan membuat para fans horor berdecak kagum. Cerita latar belakang yang kuat, serta itikad baik yang dipegang teguh oleh Lucy sepanjang film menjadi suatu hal yang sangat unik dan akan menempel di ingatan dalam waktu beberapa lama. Kengerian rumah besar dan tua milik Mrs. Jessel memang bukan hal baru, namun ada hal-hal mistis lain yang membuat kengerian penonton menjadi terasa berbeda. Adegan-adegan kejut di awal film cukup menaikkan bulu kuduk dengan objek-objek yang absurd dan aneh. Namun sayang, kemudian Bustillo-Maury terjebak dalam adegan kejut murahan yang berusaha keras untuk mengagetkan penonton. Selain itu, seperempat akhir dari film ini - terutama endingnya - membuat film ini menjadi seakan kehilangan arah. Hal ini mungkin akan memuaskan para pencinta film-film arthouse, namun justru akan menurunkan kenikmatan para pencinta film horror/slasher/thriller.
Terlepas dari kelemahannya, film ini tetap menjadi film horor yang unik dan mengerikan asal Perancis. Apalagi dengan adegan-adegan slasher-nya yang cukup grafis, film horor rasa Perancis ini menjadi pengalaman menonton yang menarik.



Rating?
8 dari 10

-sobekan tiket bioskop tertanggal 20 November 2011 edisi Indonesia International Fantastic Film Festival-

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top