10 November 2011
0 kritik

Children of Glory

Kemerdekaan adalah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas bumi harus dihapuskan. Orang Indonesia mana sih yang tidak ingat sepotong kalimat dari Preambule UUD 1945 itu? Rasanya memang potongan kalimat ini dapat diekstensi ke ruang dan waktu yang berbeda. Mari kita terbang ke Eropa tengah, ke satu negara yang tidak memiliki laut dan berbatasan dengan 7 negara di segala sisinya; Hongaria. Pada tanggal 23 Oktober 1956, sebuah revolusi untuk mengusir Uni Soviet dan paham komunisnya dari tanah Hongaria meletus di ibu kota Budapest. Bersamaan dengan revolusi tersebut, tim polo air Hongaria yang merupakan juara bertahan Olimpiade, merepresentasikan perjuangan revolusi di Budapest dengan bertanding untuk merebut medali emas Olimpiade di Melbourne. Semua itu digambarkan dalam film keluaran tahun 2006, Children of Glory (Judul asli: Szabadsag, Szerelem - Freedom, Love).

Kisah nyata revolusi Hongaria tahun 1956 ini dibawakan lewat sudut pandang dua orang karakter fiktif; Szabo dan Viki. Szabo adalah atlet timnas polo air sekaligus tulang punggung tim, sedangkan Viki adalah aktivis mahasiswa yang berjuang keras mengusir Uni Soviet dan paham komunis lewat berbagai demonstrasi di Budapest. Mereka berdua bertemu dalam salah satu orasi di sebuah universitas yang berujung pada demonstrasi besar yang berpusat di patung Jozef Bem (pahlawan nasional Hongaria dan Polandia). Percintaan Szabo dan Viki pun pelan-pelan tumbuh di tengah pergolakan revolusi yang diwarnai oleh peluru dan darah. Saat puncak pun tiba ketika mereka berdua harus berjuang dengan perjuangannya masing-masing; Viki yang melawan polisi rahasia Hongaria serta tank-tank Uni Soviet, dan Szabo beserta teman-teman timnas melawan timnas Uni Soviet di semi-final Olimpiade Melbourne 1956. Terekam dalam sejarah, pertandingan semi-final Olimpiade Melbourne itu dikenal sebagai "Blood in the Water Match".

Ketidaktahuan akan sejarah dan pengetahuan umum seputar negara Hongaria, ternyata tidak mengecilkan kenikmatan untuk menyaksikan film perjuangan ini. Sabar dan perhatian pada setiap dialog serta peka terhadap detil adegan di layar, akan membuat penonton secara perlahan mengenal lebih dekat negara Hongaria. Modal pengetahuan akan era Perang Dingin di tahun 1950-an rasanya sudah cukup untuk memahami situasi yang ada. Jika selama ini kita (pihak Non-Blok) hanya melihat Perang Dingin sebagai perseteruan antara dua negara adidaya Amerika Serikat dengan Uni Soviet, maka dalam film ini sedikit menggambarkan pengaruhnya pada negara-negara Eropa Tengah (dan juga Eropa Timur), khususnya negara-negara yang dijajah oleh Uni Soviet. Ya benar, menonton film ini seakan mempelajari sejarah Revolusi 1956 Hongaria, Blood in the Water Match, dan sisi lain dari Perang Dingin hanya dalam waktu 123 menit.

gambar diambil dari sini
Diproduksinya film ini adalah sebagai peringatan 50 tahun Revolusi 1956 dan dirilis tepat tanggal 23 Oktober  2006 kemarin di Hongaria. Hadirnya film ini di Indonesia lewat Festival Film Eropa tentu saja merupakan sebuah hal yang cukup langka, mengingat betapa jarang kita mendengar suatu hal yang berhubungan dengan "Hongaria". Gaya bercerita dalam film ini praktis cukup mudah untuk diikuti, dan memang rasanya film ini dibuat untuk dapat diakses tidak hanya untuk orang-orang Hongaria, tapi juga untuk semua kalangan. Titik gravitasi sekaligus benang merah film ini memang terletak pada hubungan romantis Szabo dengan Viki. Kemudian lewat kedua karakter mereka, penonton diperlihatkan perjuangan para Freedom Fighters untuk mengusir tank-tank Uni Soviet dari Budapest serta dinamika timnas polo air yang memiliki dilema untuk terus maju dalam olimpiade mengingat kondisi negara mereka. Dua sisi perjuangan ini memang sekilas terlalu penuh untuk dihadirkan dalam film yang berdurasi kurang lebih dua jam. Salah satunya terlihat dari bagaimana terburu-burunya perubahan motivasi dan semangat dari beberapa karakter yang normalnya terjadi dalam sebuah film. Tapi memang tidak ada cara lain untuk dapat merangkum berbagai fakta sejarah ke dalam media film, selain disederhanakan dalam berbagai kalimat-kalimat motivatif dan nasionalis.

Di Hongaria, mungkin film ini dipandang sebagai film yang cukup penting untuk menghormati dan mengingat salah satu momen sejarah bangsa mereka. Keseriusan dalam penggarapan film ini terlihat dari tidak ragu-ragunya para pembuat film menggunakan tank-tank, adegan tembak-menembak, kehancuran berbagai gedung dari ledakan, serta darah yang mengucur dari para demonstran yang ditembaki oleh AVH (polisi rahasia Hongaria yang loyal terhadap pemerintahan komunis). Film ini juga dengan setia menggambarkan setiap detil momen revolusi yang terjadi dari 23 Oktober - 4 November 1956 tersebut. Mulai dari bagaimana demonstran yang ingin menduduki radio nasional, penembakan demonstran dan rakyat sipil, sampai pada usaha AVH untuk menyelundupkan senjata dengan mobil ambulan. Tidak lupa detil pertandingan semi-final polo air di Olimpiade Melbourne dimana seorang pemain Uni Soviet memukul seorang pemain Hongaria sehingga sebagian kolam renang menjadi berwarna merah karena darah yang mengucur dari pemain Hongaria tersebut.
gambar diambil dari sini
Ketidaktahuan publik akan cerita yang tidak pernah diungkap selama 30 tahun era Uni Soviet di Eropa ini digunakan dengan baik untuk membuat penonton menjadi penasaran akan adegan selanjutnya. Penggambaran dalam film ini pun dengan jelas membuat penonton berpihak pada sisi Hongaria, dan sekaligus menaruh kebencian terhadap rezim komunis dan Uni Soviet. Rasa simpati dibangun dan diwakili oleh karakter utama Szabo dan Viki, sementara kebencian dibangun lewat penembakan keji tentara Uni Soviet serta pemain-pemain timnas polo air Uni Soviet yang angkuh dan tidak sportif. Keberpihakan yang mutlak menggiring penonton ke satu sisi ini memang tidak dapat dihindari, apalagi menyangkut sejarah hitam yang berlandaskan perasaan sakit hati rakyat Hongaria terhadap rezim komunis yang menimpa negaranya.

Secara keseluruhan, demonstrasi di Budapest dan pertandingan polo air di Melbourne adalah hal yang menarik dan menjual film ini. Dua kejadian ini menjadi dua kejadian yang tidak dipisahkan dan saling melengkapi satu sama lain. Drama yang dibangun dari awal film pun mencapai klimaks lewat ending yang dieksekusi dengan baik di penghujung film. Pada akhirnya, film ini menjadi justifikasi tersendiri bahwa perjuangan kemerdekaan tidak hanya lewat demonstrasi dan peluru, tetapi juga dengan menjaga kehormatan bangsa pada bidang lain; seperti olahraga polo air. Ketika peluru dan darah belum bisa merebut kemerdekaan, setidaknya bola polo air bisa menjaga kehormatan bangsa di mata dunia.


Rating?
7 dari 10

- sobekan tiket bioskop tertanggal 10 November 2011 edisi Europe on Screen -


BONUS:
Baca artikel tentang pertandingan semi-final Hongaria vs Uni Soviet di Olimpiade Melbourne 1956 disini
Baca artikel tentang Revolusi Hongaria 1956 disini

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top