Film ini bercerita seputar dinamika dan perkembangan dari John McGill, seorang anak dari keluarga dengan kelas sosial ekonomi menengah ke bawah. Sejak kecil, John selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik di kelas dan di sekolahnya. Apalagi dengan beban dari kepala sekolahnya yang menuntut John untuk tidak mengikuti jejak kakaknya yang telah menjadi seorang berandalan. Selain di sekolah, John dan adik perempuannya pun berusaha bertahan di dalam rumahnya sendiri ketika ayahnya yang selalu pulang dalam keadaan mabuk setiap malam. Suatu hari, John dipalak oleh geng lokal yang malah membuat ia bergabung dengan geng tersebut. Titik balik ini pun membuat John tidak saja tertarik untuk menjadi yang terbaik di sekolahnya, tapi juga menjadi yang terbaik di dalam gengnya dan juga di area tempat tinggalnya.
Bagi gue, menonton film ini bagaikan melihat visualisasi dari cerita-cerita orang lokal tentang bagaimana keadaan kota Glasgow dulu. Apalagi di area tempat gue tinggal ternyata terkenal sebagai salah satu area yang paling "berbahaya" karena banyak drug dealers yang tinggal dan beroperasi disini, ditambah seringnya tawuran antar-geng yang terjadi. Beruntung ketika gue datang disini, keadaan telah jauh berubah menjadi lebih baik. Namun di salah satu tempat kerja gue yang menyediakan tempat tinggal bagi anak-anak muda tunawisma, gue menjadi memiliki pengalaman secara langsung berinteraksi dengan para anak muda yang terkadang ditempeli label NEDS ini. Jujur, dalam setiap interaksi gue dengan mereka, jarang sekali gue menanyakan bagaimana keadaan keluarga mereka atau masa lalu mereka karena gue tahu topik itu cukup sensitif, walaupun rasa penasaran gue selalu ada. Namun film ini kurang lebih bisa menjawab rasa penasaran gue tentang bagaimana seorang anak yang pada dasarnya baik, namun bisa menjadi kecanduan alkohol dan ganja, tukang palak, tukang berantem, dan sebagainya.
Walaupun cerita dalam film ini adalah fiksi, namun gue percaya Peter Mullan menulis cerita ini berdasarkan pengalaman masa mudanya dulu saat dia tinggal di kota Glasgow. Kota ini adalah salah satu kota termiskin di Eropa. Ketika gue menyebut miskin, tampaknya gue harus menyamakan definisi "miskin" dulu. Kemiskinan di negara maju memang ada, tapi dalam bentuk yang berbeda dengan kemiskinan di negara berkembang. Kalau di negara berkembang (berdasarkan pengalaman dan pengamatan gue selama tinggal di Jakarta), kemiskinan bisa dilihat dengan bagaimana masih banyak orang-orang yang tidur di pinggir jalan atau di bawah jembatan, makan seadanya dan jarang sekali bisa makan tiga kali sehari, serta pakaian yang juga seadanya.
![]() |
| gambar diambil dari sini |
Sayangnya hilangnya motivasi ini juga ternyata turun kepada anak-anak mereka, bersanding dengan fakta bahwa pendidikan di Skotlandia ditanggung penuh oleh pemerintah. Maka tidak heran jika banyak anak-anak sekolah yang kurang menghargai pendidikan, apalagi dengan sistem pendidikan pada jaman dulu yang masih kaku; hukuman fisik dan sistem kelas A berisi anak-anak pintar sampai kelas F berisi anak-anak jauh dibawah pintar dan perilaku buruk (bahkan hal ini pun sempat gue alami ketika SMP dulu). Di usia perkembangan yang masih mencari jati diri serta sistem sekolah yang malah memojokkan dan cenderung tidak mendukung pencarian jati diri tersebut, anak-anak ini pun mencari hal-hal lain yang lebih menarik bagi mereka; rokok, ganja, alkohol, pisau, bergabung dengan satu geng, vandalisme, dan tawuran antar-geng. Bagi mereka, bergabung dengan suatu geng dapat "meningkatkan" tingkat aktualisasi diri dan penerimaan mereka di kalangan teman-teman mereka. Mereka bisa nongkrong dan jalan petantang-petenteng di jalanan, seenaknya malak dan gangguin orang. Malah gue pernah dengar dari orang lokal, ada budaya "menusuk orang asing" jika mereka mau bergabung atau membuktikan loyalitas mereka terhadap suatu geng.
![]() |
| gambar diambil dari sini |
Lebih jauh lagi, cerita ini menggambarkan bagaimana konsekuensi langsung maupun tidak langsung ketika John telah menjadi seorang anak paling berandal di daerahnya. Yang gue suka, bagaimana Peter Mullan memberikan karakter adik perempuan dari John. Karakter adik perempuan ini seperti ingin menyeimbangkan kacaunya keluarga John, sekaligus merepresentasikan seorang anak kecil lugu yang menjadi korban tidak langsung dari kekerasan rumah tangga. Ada satu adegan dimana dia benar-benar tidak bisa berkutik atas apa yang sedang terjadi di rumahnya, dia hanya menutup mata dan telinga lalu bernyanyi dengan syair yang miris.
![]() |
| gambar diambil dari sini |
Kalau Inggris punya This Is England (2006) yang menggambarkan bagaimana keadaan Inggris yang bergejolak karena krisis ekonomi di tahun 1983 lewat kacamata anak muda, sekarang Skotlandia punya film ini yang menggambarkan hal yang kurang lebih sama namun lebih fokus pada kota Glasgow. Akhir kata, menurut gue film ini sangat transparan dan berani dalam menggambarkan kondisi masyarakat kelas pekerja di tanah Skotlandia. Sebuah media yang terbilang baik untuk memahami kondisi kemiskinan di salah satu negara maju. Menurut Peter Mullan dalam salah satu wawancaranya; jika saja film ini bisa menyadarkan dan mengubah hidup satu anak muda, baru ia akan menganggap film ini sukses.
Rating?
8 dari 10





No comments