24 January 2011
0 kritik

NEDS

2:19 AM
Sobekan tiket bioskop tertanggal 22 Januari 2011 adalah NEDS. Ada beberapa hal spesial yang membuat gue menunggu-nunggu film ini. Film ini akan memberikan secuil potret kemiskinan pada tahun 1973 di kota yang sekarang gue tinggali, Glasgow. Selain itu, cerita dalam film ini yang ditulis dan disutradarai oleh Peter Mullan, akan fokus pada anak-anak muda yang kebetulan gue bekerja untuk mereka di salah satu tempat kerja dalam program kerja sosial gue. Di awal kedatangan di kota ini pun, gue sudah pernah dengar tentang julukan NEDS ini, Non-Educated Delinquents, yang merujuk pada anak-anak sekolah dari kelas pekerja yang kelewat nakal dan hobi tawuran antar-geng (baca artikel wikipedia disini). Walaupun akhir-akhir ini stereotipe tersebut telah meruncing pada anak-anak muda yang tidak sekolah, tidak punya rumah, dan (sayangnya) juga melekat secara fashion; mereka yang menggunakan jumper dan celana training satu warna.

Film ini bercerita seputar dinamika dan perkembangan dari John McGill, seorang anak dari keluarga dengan kelas sosial ekonomi menengah ke bawah. Sejak kecil, John selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik di kelas dan di sekolahnya. Apalagi dengan beban dari kepala sekolahnya yang menuntut John untuk tidak mengikuti jejak kakaknya yang telah menjadi seorang berandalan. Selain di sekolah, John dan adik perempuannya pun berusaha bertahan di dalam rumahnya sendiri ketika ayahnya yang selalu pulang dalam keadaan mabuk setiap malam. Suatu hari, John dipalak oleh geng lokal yang malah membuat ia bergabung dengan geng tersebut. Titik balik ini pun membuat John tidak saja tertarik untuk menjadi yang terbaik di sekolahnya, tapi juga menjadi yang terbaik di dalam gengnya dan juga di area tempat tinggalnya.

Bagi gue, menonton film ini bagaikan melihat visualisasi dari cerita-cerita orang lokal tentang bagaimana keadaan kota Glasgow dulu. Apalagi di area tempat gue tinggal ternyata terkenal sebagai salah satu area yang paling "berbahaya" karena banyak drug dealers yang tinggal dan beroperasi disini, ditambah seringnya tawuran antar-geng yang terjadi. Beruntung ketika gue datang disini, keadaan telah jauh berubah menjadi lebih baik. Namun di salah satu tempat kerja gue yang menyediakan tempat tinggal bagi anak-anak muda tunawisma, gue menjadi memiliki pengalaman secara langsung berinteraksi dengan para anak muda yang terkadang ditempeli label NEDS ini. Jujur, dalam setiap interaksi gue dengan mereka, jarang sekali gue menanyakan bagaimana keadaan keluarga mereka atau masa lalu mereka karena gue tahu topik itu cukup sensitif, walaupun rasa penasaran gue selalu ada. Namun film ini kurang lebih bisa menjawab rasa penasaran gue tentang bagaimana seorang anak yang pada dasarnya baik, namun bisa menjadi kecanduan alkohol dan ganja, tukang palak, tukang berantem, dan sebagainya.

Walaupun cerita dalam film ini adalah fiksi, namun gue percaya Peter Mullan menulis cerita ini berdasarkan pengalaman masa mudanya dulu saat dia tinggal di kota Glasgow. Kota ini adalah salah satu kota termiskin di Eropa. Ketika gue menyebut miskin, tampaknya gue harus menyamakan definisi "miskin" dulu. Kemiskinan di negara maju memang ada, tapi dalam bentuk yang berbeda dengan kemiskinan di negara berkembang. Kalau di negara berkembang (berdasarkan pengalaman dan pengamatan gue selama tinggal di Jakarta), kemiskinan bisa dilihat dengan bagaimana masih banyak orang-orang yang tidur di pinggir jalan atau di bawah jembatan, makan seadanya dan jarang sekali bisa makan tiga kali sehari, serta pakaian yang juga seadanya.
gambar diambil dari sini
Namun kemiskinan di negara maju - berdasarkan pengalaman dan pengalaman prematur gue selama empat bulan disini - (ternyata) berupa miskin dalam relasi, hubungan sosial, dan spiritual. Orang-orang dengan kondisi sosial ekonomi menengah ke bawah dapat memenuhi kebutuhan primer pangan, sandang, dan papan dengan baik karena dibantu dengan kucuran dana langsung dari pemerintah setempat. Namanya juga negara maju yah, jadi masih bisa untuk membantu rakyatnya untuk setidaknya tidak tidur di pinggir jalan dan makan seadanya. Namun justru karena bantuan langsung ini yang terkadang mengubah mental orang-orang yang menerimanya. Sejauh pengalaman gue bekerja di tempat kerja gue yang lain (drop-in centre untuk homeless people), mereka-mereka ini malah menjadi pasif - dalam arti hanya menerima kucuran dana saja dan merasa cukup sehingga tidak memiliki motivasi untuk bekerja. Tidak bekerja, tidak ada kegiatan lain, maka mudah sekali bagi orang-orang ini untuk terjerat pada adiksi akan alkohol - bahkan obat-obatan terlarang. Adiksi akut pada alkohol dan obat-obatan terlarang lebih jauh lagi mengakibatkan turunnya kualitas hubungan sosial, sehingga tidak jarang ada orang yang diusir dari rumah dan tidak diterima lagi oleh keluarga dan teman-teman karena adiksi mereka.

Sayangnya hilangnya motivasi ini juga ternyata turun kepada anak-anak mereka, bersanding dengan fakta bahwa pendidikan di Skotlandia ditanggung penuh oleh pemerintah. Maka tidak heran jika banyak anak-anak sekolah yang kurang menghargai pendidikan, apalagi dengan sistem pendidikan pada jaman dulu yang masih kaku; hukuman fisik dan sistem kelas A berisi anak-anak pintar sampai kelas F berisi anak-anak jauh dibawah pintar dan perilaku buruk (bahkan hal ini pun sempat gue alami ketika SMP dulu). Di usia perkembangan yang masih mencari jati diri serta sistem sekolah yang malah memojokkan dan cenderung tidak mendukung pencarian jati diri tersebut, anak-anak ini pun mencari hal-hal lain yang lebih menarik bagi mereka; rokok, ganja, alkohol, pisau, bergabung dengan satu geng, vandalisme, dan tawuran antar-geng. Bagi mereka, bergabung dengan suatu geng dapat "meningkatkan" tingkat aktualisasi diri dan penerimaan mereka di kalangan teman-teman mereka. Mereka bisa nongkrong dan jalan petantang-petenteng di jalanan, seenaknya malak dan gangguin orang. Malah gue pernah dengar dari orang lokal, ada budaya "menusuk orang asing" jika mereka mau bergabung atau membuktikan loyalitas mereka terhadap suatu geng.
gambar diambil dari sini
Semua hal ini digambarkan dengan baik dalam film ketiga karya Peter Mullan ini. Fokus pada karakter utama kita, John McGill, yang memulai sekolah dengan predikat yang sangat bagus dan membawa beban untuk tidak menjadi seperti kakaknya yang telah menjadi berandal yang cukup dikenal di area tempat tinggal mereka. Namun ternyata cukup sulit untuk tidak terjerumus dalam lingkaran setan kenakalan remaja, dengan banyaknya anak-anak berandal yang tinggal di komplek mereka serta keadaan ayah John yang seorang pemabuk.

Lebih jauh lagi, cerita ini menggambarkan bagaimana konsekuensi langsung maupun tidak langsung ketika John telah menjadi seorang anak paling berandal di daerahnya. Yang gue suka, bagaimana Peter Mullan memberikan karakter adik perempuan dari John. Karakter adik perempuan ini seperti ingin menyeimbangkan kacaunya keluarga John, sekaligus merepresentasikan seorang anak kecil lugu yang menjadi korban tidak langsung dari kekerasan rumah tangga. Ada satu adegan dimana dia benar-benar tidak bisa berkutik atas apa yang sedang terjadi di rumahnya, dia hanya menutup mata dan telinga lalu bernyanyi dengan syair yang miris.
gambar diambil dari sini
Film ini menjadi lebih hidup dan terkesan riil ketika para pemerannya adalah memang orang-orang lokal asal Glasgow. Dengan aksen Scottish yang kelewat kental (yang kalau di tempat kerja aja gue masih roaming), gaya bicara "NEDS" yang selalu menggunakan F-word di setiap tiga-empat kata (hal yang sama yang gue temukan dengan anak-anak muda di tempat kerja gue), dan gaya berpakaian mereka. Jangan berharap banyak akan kekuatan akting dari mereka karena rata-rata film ini adalah kali pertama mereka berakting di depan kamera. Namun untuk standar pendatang baru, akting anak-anak muda ini menurut gue cukup hidup dan riil, mengingat gue juga berinteraksi dengan anak-anak tipikal mereka. Apalagi Connor McCarron yang berperan sebagai John menunjukkan talenta yang menjanjikan sebagai aktor muda berbakat. Selain itu penonton diberi suguhan dan pengalaman menarik ketika Peter Mullan sendiri memerankan ayah dari John secara brilian. Ternyata memang Peter Mullan memulai karir di dunia perfilman sebagai seorang aktor yang menerima berbagai penghargaan.

Kalau Inggris punya This Is England (2006) yang menggambarkan bagaimana keadaan Inggris yang bergejolak karena krisis ekonomi di tahun 1983 lewat kacamata anak muda, sekarang Skotlandia punya film ini yang menggambarkan hal yang kurang lebih sama namun lebih fokus pada kota Glasgow. Akhir kata, menurut gue film ini sangat transparan dan berani dalam menggambarkan kondisi masyarakat kelas pekerja di tanah Skotlandia. Sebuah media yang terbilang baik untuk memahami kondisi kemiskinan di salah satu negara maju. Menurut Peter Mullan dalam salah satu wawancaranya; jika saja film ini bisa menyadarkan dan mengubah hidup satu anak muda, baru ia akan menganggap film ini sukses.



Rating?
8 dari 10

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top