15 January 2011
0 kritik

127 Hours

8:22 AM
Sobekan tiket bioskop tertanggal 14 Januari 2011 adalah 127 Hours. Semenjak The Beach (2000), gue memang engga pernah melewatkan film layar lebar karya Danny Boyle, yang sudah gue klaim sebagai salah satu sutradara favorit gue. Cuma satu hal tersebut yang membuat gue tidak akan melewatkan film terbarunya ini, tanpa peduli kisah apa yang akan ditampilkannya.

Diangkat dari kisah nyata yang ditulis oleh Aron Ralston sendiri ke dalam autobiografinya, film ini menggambarkan bagaimana perjuangan Aron untuk tetap hidup dan menemukan perspektif baru dalam memandang hidupnya. Seperti kebiasaannya menghabiskan akhir pekan, Aron bertualang mengarungi ngarai di Utah sendirian. Karena satu langkah yang salah, sebuah batu besar menimpa dirinya dan membuat dirinya terjebak di dalam ngarai yang sempit dan gelap. Dengan keterbatasan alat yang dibawa, Aron mencoba bertahan hidup dengan persediaan air minum sebagai tolok ukur hidupnya.

Pertama kali melihat trailer film ini sekitar dua bulan yang lalu, sempat ada sepercik keraguan dalam diri gue yang mengatakan "apa bisa seorang Danny Boyle menggarap kisah dengan premis sempit dan sederhana ini?". Diangkat dari buku autobiografi pula yang rasanya cukup membatasi ruang gerak Boyle untuk bermain-main dengan cerita. Apalagi kita sadar benar bahwa tidak semua film yang diadaptasi dari buku akan sebagus bukunya. Tapi memang sutradara kelahiran Inggris ini memiliki kualitas yang pantas diperhitungkan, yang rasanya akan membuat cerita atau film apapun menjadi sangat menarik. Premis yang sempit - sesempit ngarai yang menjebak Aron - tidak serta-merta membatasi ruang gerak Boyle untuk bermain dengan filmnya.

Engga heran jika film ini mendapat nominasi Golden Globe 2011 pada kategori Best Screenplay. Boyle dan Simon Beaufoy berhasil menerjemahkan setiap halaman buku Between a Rock and a Hard Place ke dalam jalinan gambar-gambar dan adegan-adegan yang memukau. Dibuka dengan indahnya susunan ngarai di Utah beserta tempat-tempat tersembunyi yang eksotis, sampai pada jurang ngarai tempat Aron terjebak selama lima hari. Sempitnya jurang ngarai justru menjadi kekuatan tersendiri pada film ini, karena Boyle bisa sepuas mungkin bermain dengan kameranya untuk mengambil adegan dari berbagai sudut yang ada. Terlihat bahwa sinematografi berperan cukup penting disini, walaupun tidak "sesulit" sinematografi di dalam peti mati-nya Ryan Renolds (Buried).
gambar diambil dari sini
Salah satu hal yang gue sukai pada film ini adalah scoring, soundtrack, dan sound effect yang digunakan pada film ini. Scoring arahan A. R. Rahman yang diboyong Boyle dari Slumdog Millionaire (2008) membuktikan bahwa musisi kelahiran India ini tidak hanya jago kandang membuat musik-musik berbau India. Scoringnya asik dan mengangkat setiap adegan yang ada, apalagi pilihan soundtrack untuk mengiringi adega-adegan tertentu juga tak kalah menariknya dan sangat enjoyable. Sound effect ini yang harus gue berikan pujian tersendiri, bagaimana adanya efek-efek suara untuk mendukung beberapa adegan agar tampak lebih hidup. Baik dari adegan Aron berhalusinasi, sampai pada adegan klimaks yang, euh! Adegan tersebut masih saja nempel di kepala saat gue mengetik ulasan ini, gara-gara si sound effect yang nyeleneh tapi kena banget.

Film-film lone-survival seperti ini memang menitikberatkan pada karakter utamanya, macam Tom Hanks yang terjebak di pulau terpencil, Joaquin Phoenix yang terjebak di sebuah gedung rapuh yang terbakar, atau Ryan Renolds yang terjebak di sebuah peti. Pada film ini, one-man show dari James Franco membuktikan kematangan aktingnya. Setelah Harry Osborne yang memiliki dilema untuk membalas dendam kematian ayahnya atau mempertahankan persahabatannya, Franco merekonstruksi pengalaman nyata Aron Ralston dengan sangat sangat baik. Banyaknya shot close-up pun dijawab dengan brilian oleh ekspresi muka dan sorotan mata yang di hari-hari pertama masih ada harapan, kemudian kehilangan harapan tersebut, sampai pada frustrasi dan melakukan segala cara untuk dapat tetap hidup.
gambar diambil dari sini
Layaknya Ladder 49 (2004) dengan flashbacks yang ada, film ini juga membawa penonton ke pikiran-pikiran apa saja yang dapat muncul di kepala seorang Aron Ralston ketika dihadapkan pada situasi seperti itu. Namun Boyle menggambarkan flashbacks tersebut dengan caranya sendiri, yang tidak membosankan dan membuat penonton sangat menikmati pikiran-pikiran random dari Aron yang melompat kesana-kemari.

Premis yang sederhana ini membuat gue setidaknya telah bisa sedikit menebak jalan keluar yang harus ditempuh oleh Aron di awal film. Walaupun tebakan gue itu benar, namun segala persiapan yang telah gue kumpulkan selama tiga perempat film tidak juga menahan keterkejutan gue akan eksekusi Boyle pada adegan pamungkas tersebut. Apalagi adegan tersebut digambarkan dengan se-realis dan se-grafis mungkin yang membuat badan gue mengkerut seperti bola. Benar-benar bagaimanapun ekspektasi anda di awal film, seperempat akhir film akan jauh diatas bayangan anda.
gambar diambil dari sini
Film ini tidak saja memberikan perasaan euforia setelah adegan penutup yang penuh jaya, tapi juga menempelkan beberapa adegan memorable ke dalam kepala gue yang rasanya akan terus terbayang dalam waktu yang lama.

NB: Lihat lagi posternya, kali ini lihat dari jauh. Lalu baca lagi tagline-nya. Kali ini terlihatkah apa yang ingin digambarkan oleh poster itu? Terlihatkah seperti suatu alat kuno pengukur waktu?

Rating?
9 dari 10

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top