26 January 2011
One kritik

Black Swan

8:08 AM
Sobekan tiket bioskop tertanggal 25 Januari 2011 adalah Black Swan. Pertama kali gue melihat trailer film ini karena rekomendasi dari seorang teman adalah sekitar 6 bulan yang lalu. Benar-benar penantian yang panjang, engga sabar, dan melelahkan untuk akhirnya bisa nonton film ini. Apalagi setelah dijustifkasi oleh banyaknya penghargaan yang diraih oleh film ini, termasuk Natalie Portman yang mendapat gelar Best Actress di Golden Globe 2011.

Nina (Portman) adalah seorang penari balet di sebuah sanggar di New York yang hidupnya didedikasikan untuk tari balet. Dibesarkan oleh ibunya yang obsesif dan posesif yang dulu juga seorang penari balet, Nina mencoba mendapatkan dan mempertahankan peran utama di produksi terbaru mereka - Swan Lake. Swan Princess membutuhkan seorang penari balet yang bisa memerankan dua sisi sekaligus; White Swan yang polos dan anggun, serta Black Swan yang licik dan sensual. Nina adalah pilihan pertama dari sutradara Thomas Leroy (Vincent Cassel) karena cocok memerankan White Swan, namun Lily (Mila Kunis) juga cocok memerankan Black Swan. Ketika dua pedansa muda ini bersaing, Nina berusaha keras untuk mengeluarkan sisi gelapnya, yang malah mengancam untuk menghancurkan dirinya sendiri.
It's very nice, but I knew the white swan wouldn't be your problem. The real work would be your metamorphosis into her evil twin.
Wow, wow, dan wow. Kira-kira sebanyak itu juga gue merasakan cinematic-orgasm sampai sekujur tubuh. Penantian yang panjang, ekspektasi yang tinggi, rasa penasaran yang besar, semua terbayar dengan lunas bahkan melebihi ekspektasi gue yang sudah lumayan tinggi. Jujur, detik-detik sebelum film dimulai gue rada takut akan ekspektasi yang sudah gue pasung sedemikian tinggi, dan lagi dengan jalan cerita yang kurang lebih sudah gue tahu - apalagi setelah melihat trailernya puluhan kali semenjak enam bulan lalu. Tapi ternyata dengan bergulirnya jalan cerita, sulit rasanya untuk menebak adegan apa yang akan muncul selanjutnya - apalagi endingnya. Kejutan demi kejutan dihadirkan dan sukses mengernyitkan dahi penonton. Ditambah dengan eksekusi ending yang megah dan ... menggigit.

Darren Aronofsky yang pernah membawa kita ke ring gulat 2008 lalu, kali ini membawa penontonnya ke lantai tari balet di kota New York yang keras. Semua orang berjibaku untuk menjadi yang terbaik di kota ini, termasuk di lantai dansa. Siapa sangka penari-penari balet yang lemah gemulai itu ternyata juga bisa senggol-senggolan demi memperebutkan pemeran utama dalam suatu pertunjukkan. Tidak hanya anggun memperagakan en pointe dalam tariannya, tapi juga bisa melakukan segala cara untuk menjadi yang terbaik. Cerita yang ditulis oleh Andres Heinz ini adalah karya dia yang pertama di dunia perfilman. Cerita mengenai obsesi seorang pekerja seni untuk menjadi yang terbaik memang bukan lagu baru, apalagi seputar dunia balet. Namun cerita ini mampu dieksekusi secara brilian oleh Aronofsky. Walaupun balet memiliki stigma membosankan bagi kebanyakan orang (termasuk gue), namun Aronofsky berhasil menceritakan kisah Nina ini dengan menarik dan cenderung membuat para penontonnya duduk tegak tidak sabar menanti adegan selanjutnya muncul.
Gue suka bagaimana cerita dalam film ini menggunakan berbagai simbol untuk menggambarkan apa yang sedang terjadi, baik yang ada di jalan cerita atau yang ada di dalam pikiran dan perasaan Nina. Cerita klasik tentang Swan Lake sendiri sudah merepresentasikan dengan sempurna jalannya cerita keseluruhan pada film ini. Belum lagi dengan simbol-simbol kecil macam bagaimana Nina terobsesi untuk menggunting kukunya, jari-jari Nina yang terkadang berdarah, dan yang paling mencolok adalah lecet di punggungnya. Berbagai simbol ini yang menurut gue cukup cerdas untuk menggambarkan bagaimana obsesi Nina untuk tidak membiarkan ada satu hal kecil pun yang salah dalam setiap langkahnya dan berusaha untuk sesempurna mungkin. Suatu obsesi yang sama-sama kita tahu akan berdampak buruk pada akhirnya.
We all know the story. Virginal girl, pure and sweet, trapped in the body of a swan. She desires freedom but only true love can break the spell. Her wish is nearly granted in the form of a prince, but before he can declare his love her lustful twin, the black swan, tricks and seduces him. Devastated the white swan leaps of a cliff killing herself and, in death, finds freedom.
Tentunya tidak berlebihan kalau gue bilang bahwa woman of the match dalam film ini adalah Natalie Portman. Setelah tampil sebagai seorang putri aliansi di galaksi nun jauh disana, dan seorang wanita yang terjebak dalam cinta segitiga, perannya sebagai Nina/Swan Princess ini menurut gue adalah puncak karir dia. Dengan hampir semua adegan tarian balet dilakukan sendiri oleh Portman, tidak terbayang bagaimana kerja keras dan latihan dia demi memenuhi perannya tersebut. Belum lagi penampilannya sebagai Nina yang rapuh sekaligus obsesif akan kesempurnaan dan ingin segalanya berjalan sesuai aturan bisa dibilang mulus tanpa cela. Tidak hanya sebagai Nina yang identik dengan karakter White Swan, tapi Portman juga sukses menggambarkan sisi gelap Nina yang tersembunyi. Sangat menarik mencermati dinamika perkembangan serta transformasi karakter Nina yang berusaha keras mengeluarkan sisi Black Swan-nya. Perkembangan karakter yang memiliki kedalaman tersendiri inilah yang menurut gue cukup sulit untuk ditampilkan, yang membuat Portman layak mendapatkan gelar Aktris Terbaik di Golden Globe tahun ini. Bukan tidak mungkin bahwa Portman akan meraih penghargaan yang sama di ajang Academy Awards.
The only person standing in your way is you. It's time to let her go. Lose yourself.
Gue selalu suka dengan gaya camera work yang shaky, khususnya pada film ini karena seakan merepresentasikan kondisi Nina yang terombang-ambing demi mencari sisi Black Swan-nya. Sinematografi yang benar-benar menarik dan mengeksplor habis setiap sudut ruang latihan dansa, ataupun ruang ganti Nina yang sempit. Ada beberapa shot yang menurut gue sudut pengambilan gambarnya kreatif dan brilian, terbilang maksimal dalam menggunakan berbagai cara untuk mengambil gambar - termasuk memanfaatkan deretan kaca di ruang latihan. Belum lagi dengan score yang benar-benar menggugah hati. Clint Mansell sukses memberikan kontribusi bagi gue untuk merasakan cinematic-orgasm, khususnya di adegan klimaks.


Komposisi Swan Lake karangan Tchaikovsky pun dimanfaatkan dengan baik di beberapa komposisi - bahkan sampai diputar-balikkan - untuk menambah kesan megah sekaligus anggun pada atmosfer film ini.
Dengan cerita yang memberikan wejangan betapa obsesi bagaikan pedang bermata dua, menampilkan penampilan "sempurna" dari Natalie Portman, arahan brilian dari Darren Aronofsky, serta atmosfer film berbau psikologis yang sangat mungkin terjadi pada seseorang di dunia nyata, film ini patut ditonton lebih dari sekali!

Rating?
9,5 dari 10

BONUS: Poster-poster alternatif buatan fans
By: Dean Walton
By: Fanpop
By: Hunter Langston
By: Mat Macquarrie
By: Marine Velsch
By: TheFlyOnTheWall

1 kritik:

 
Toggle Footer
Top