13 January 2011
0 kritik

Gulliver's Travels

5:29 AM
Sobekan tiket bioskop tertanggal 11 Januari 2011 adalah Gulliver's Travels. Semenjak kemunculan trailernya, film ini dipromosikan gila-gilaan di UK sini; mulai dari bis kota sampai botol susu. Entah apa yang mendasari promosi yang kelewatan tersebut, yang sayangnya malah menaikkan ekspektasi gue dalam menonton film ini. Tapi yah film ini tetap sayang untuk dilewatkan.

Gulliver, seorang pengantar surat di sebuah surat kabar ternama yang selalu merasa bahwa pekerjaannya adalah pekerjaan kecil dan tidak dianggap oleh orang-orang disekitarnya, secara tidak sengaja menerima pekerjaan untuk meliput tentang Segitiga Bermuda. Namun di tengah perjalanannya, dirinya masuk ke dalam dunia pararel dan terdampar di pulau Liliput yang dihuni oleh orang-orang berukuran super-kecil. Walaupun diuntungkan dengan ukuran badannya yang kelewat besar, namun dalam perjuangannya untuk kembali ke diunianya, Gulliver harus mengalahkan dirinya sendiri yang selalu menganggap dirinya "kecil".

Oke, siapa sih yang engga tahu cerita tentang Gulliver yang terdampar di pulau/planet Liliput? Walaupun gue belum pernah melihat dalam bentuk audio-visual, tapi setidaknya gue sudah tahu garis besar cerita fenomenal tersebut. Bahkan Fujiko F. Fujio (alm.) pun pernah mengangkat cerita tersebut ke dalam salah satu serial komik Doraemon. Nah menurut gue film ini adalah langkah yang berani dari Hollywood untuk kembali memvisualisasikan cerita Gulliver namun dalam bungkus modern. Satu (-satunya) hal yang gue puji dari film ini adalah latar belakang cerita - yang kemudian dijadikan makna yang bisa dipetik - dari film ini.


Bagaimana film ini dimulai dengan Lemuel Gulliver yang adalah seorang pengantar surat di sebuah kantor surat kabar yang selalu merasa "kecil" dan rendah diri diantara teman-teman kerjanya. Dengan mimpinya yang besar namun tak kunjung menemukan cara untuk mewujudkannya, dia pun melampiaskannya pada games, musik, film, dan action figures Star Wars-nya. Satu kesempatan emas pun tiba untuk menjadi penulis bagian travel di surat kabarnya, namun nasib sial kembali menaungi Gulliver. Ia terdampar di pulau Liliput dimana ia adalah satu-satunya manusia besar disana. Kemudian cerita bergulir bagaimana Gulliver bisa menjadi dirinya sendiri tanpa perlu rendah diri pada orang lain, karena ia yang paling tinggi dan paling besar di pulau itu! Namun ternyata itu bukan pelajaran yang baik baginya, karena ketika Gulliver menemukan bahwa dia bukan lagi menjadi manusia raksasa, dia pun kembali ke dirinya yang lama; rendah diri, minder, dan merasa bukan siapa-siapa.
gambar diambil dari sini
Premis yang bagus untuk dijadikan makna dan pelajaran, khususnya dalam dunia pekerjaan dimana masih banyak orang yang merasa bahwa pekerjaannya adalah bukan apa-apa dibandingkan pekerjaan orang lain. Namun sayang, eksekusi ke dalam bentuk cerita film yang menurut gue terlalu "bercanda". Gue yang sudah punya ekspektasi awal bahwa film ini adalah film humor yang berbalut cerita Gulliver (bukan cerita Gulliver yang berbalut humor yah), apalagi dibintangi oleh bintang komedi Jack Black, merasa bahwa film ini terlalu engga serius untuk dijadikan film. Entah kenapa gue kurang menikmati humor nyeleneh dan ngasal yang ada di film ini. Mungkin gue akan lebih menikmati cerita dan humor film ini dalam bentuk drama panggung atau teater,  tapi bukan dalam bentuk film karena efek visualnya pun terlihat seadanya. Visualisasi yang menarik sih untuk karakter-karakter (dan gerakan tubuh) yang menghuni Pulau Liliput, tapi sayangnya penampilannya kurang konsisten sepanjang film.

Bagi yang masih penasaran dengan aktingnya Jack Black, film ini sangat layak untuk ditonton di rumah!

Rating?
6 dari 10

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top