20 January 2011
0 kritik

Blue Valentine

5:34 AM
Sobekan tiket bioskop tertanggal 18 Januari 2011 adalah Blue Valentine. Tidak ada hal spesial yang meningkatkan ketertarikan gue akan film ini selain melihat materi promosi film ini berupa postcard. Entah kenapa dari desain postcard yang kecil itu, font judul, font cast, pose dari Ryan Gosling dan Michelle Williams membuat gue mendapatkan feeling yang kuat untuk menonton film ini. Masuknya nama kedua karakter utama tersebut dalam nominasi Golden Globe sebagai Best Perfomance by an Actor/Actress hanyalah sebagai justifikasi bagi gue untuk mengikuti feeling gue tersebut. Sebagai tambahan, Ryan-Michelle adalah satu dari tiga pasangan aktor/aktris yang dinominasikan bersama dalam satu film yang sama pada kategori tersebut di Golden Globe tahun ini (selain Jolie-Depp di The Tourist dan Gyllenhaal-Hathaway di Love and Other Drugs).

Film ini bercerita tentang menemukan cinta dan kehilangan cinta yang diceritakan dengan gaya maju mundur dengan momen "masa kini" dan "masa lalu". Potret jujur ini menceritakan bagaimana sepasang suami-istri, Dean dan Cindy, yang menghabiskan semalam di sebuah motel sebagai time-out dari anak mereka dalam usaha untuk menyelamatkan kehidupan perkawinan mereka

Ini salah satu asyiknya menonton film tanpa membaca sinopsis maupun melihat trailernya terlebih dahulu - bagaikan datang dan duduk di dalam bioskop sebagai gelas kosong yang siap menampung air. Tanpa ekspektasi apa-apa, setiap menit adegan yang muncul di layar lebar benar-benar memukau mata, telinga, pikiran, dan hati gue. Film drama romantis memang bukan barang baru lagi lantaran rasanya setiap bulan ada 3-4 film drama romantis yang ditayangkan di bioskop. Banyaknya film drama romantis ini membuat cerita dari masing-masing film menjadi kurang menarik lagi karena jalan cerita yang mudah tertebak atau film dipenuhi oleh rayuan-rayuan dan dialog-dialog cheesy. Sepanjang ingatan gue, cuma ada beberapa judul film drama romantis yang berbeda dari yang lain. Namun rasanya gue harus menambahkan judul film yang disutradarai oleh Derek Cianfrance ini ke dalam daftar film drama romantis terbaik sepanjang masa gue.

Gue sangat menikmati bagaimana film ini bertutur-kata dalam menceritakan kisah Dean dan Cindy. Dengan alur maju mundur a la The Damned United (2009), film ini seakan-akan memperlihatkan bagaimana perbedaan kualitas hubungan kedua karakter utama kita. Jangan berharap banyak bahwa adegan plot "masa lalu" akan serta-merta menjawab dengan mudah pertanyaan penonton akan apa yang terjadi pada plot "masa kini" seperti The Damned United. Malah bisa-bisa plot "masa lalu" yang muncul berganti-gantian dengan plot "masa kini" menambah pertanyaan rasa penasaran yang ada. Belum lagi cara bertutur seperti ini seakan membawa penonton menaiki roller-coaster yang naik dan turun tanpa ampun karena atmosfer kedua plot yang berbeda.
gambar diambil dari sini
Cerita yang ditulis oleh Derek dan dibantu oleh Cami Delavigne dan Joey Curtis ini menyuguhkan kisah percintaan lain dari yang lain. Disaat film-film drama romantis menyuguhkan kisah cinta yang bahagia, Derek berani menampilkan kisah percintaan yang kian lama kian luntur hingga kering - terutama pada plot "masa kini" yang terjadi enam tahun setelah plot "masa lalu". Terlihat bagaimana kerja keras Derek selama 12 tahun untuk mempersiapkan film ini, dengan cerita yang matang dan tanpa celah sedikit pun. Rasanya cukup mudah untuk menggambarkan plot "masa lalu" yang penuh dengan hingar bingar jatuh cinta antara Dean dan Cindy. Namun tantangan sebenarnya adalah untuk menangkap momen-momen luntur dan mengeringnya rasa cinta yang ada pada plot "masa kini". Tetapi hal tersebut sangat dibantu oleh akting nyaris-sempurna dari Ryan dan Michelle.

Ryan Gosling benar-benar menghidupkan karakter Dean, seorang pria paruh baya yang kerja serabutan mulai dari pengangkut barang-barang pindahan sampai tukang cat. Walaupun kerja serabutan seperti itu, namun Dean digambarkan sangat sayang kepada anak mereka satu-satunya, Frankie. Dari menit awal sampai menit akhir film, konsistensi rasa sayang tersebut ditampilkan dengan kadar yang tetap. Gue suka banget dengan chemistry yang ada antara Dean dengan Frankie, yang diperankan oleh aktris cilik pendatang baru Faith Wladyka. Faith yang masih berumur 6 tahun tampil sangat natural memerankan Frankie yang polos dan playful. Keberadaan mereka berdua di dalam satu adegan seakan menceriakan suasana yang ada; dengan imutnya Frankie dan childish-nya Dean. Dean juga digambarkan sebagai pria yang santai, cuek, dan masih memiliki jiwa kekanak-kanakan di dalam dirinya. Menarik melihat bagaimana Dean mengungkapkan perasaannya kepada anak dan istrinya; nyeleneh-nyeleneh tapi romantis gimana gitu.
gambar diambil dari sini
Berbeda dengan Dean, Cindy adalah karakter ibu rumah tangga yang serius, cenderung kaku, dewasa, dan berorientasi pada karir. Bekerja sebagai suster di sebuah rumah sakit, Cindy membawa jalan hidupnya dengan pasti dan detil, sepasti dan sedetil ilmu-ilmu medis yang dipelajarinya saat kuliah. Michelle Williams yang pernah memerankan istri yang bingung dan frustrasi karena suaminya ternyata gay di Brokeback Mountain (2005), terlihat tidak sulit memerankan karakter Cindy yang juga ternyata menyimpan segudang masalah dan perasaan yang serius. Michelle membawakan hal tersebut secara brilian lewat sorotan mata dan ekspresi wajahnya yang membuat penonton tidak berhenti untuk menebak apa yang ada di pikirannya - setidaknya tidak sesulit karakter Dean yang ekspresif.

Film dengan tipikal studi karakter seperti ini cukup adiktif untuk menyelami apa yang dirasakan dan dipikirkan oleh kedua karakter utama kita - khususnya pada Cindy. Kerja keras Ryan selama 6 tahun dan Michelle selama 4 tahun untuk mendalami karakter masing-masing terbayar baik dengan bagaimana mereka memberikan kedalaman tersendiri pada karakter mereka. Menurut gue, film ini tidak hanya melibatkan emosi penonton saja, tapi juga memancing penonton untuk menyumbangkan sudut pandang dan pengalaman masing-masing untuk turut berinterpretasi ria pada apa yang terjadi pada Dean dan Cindy. Sudut pandang dan pengalaman masing-masing penonton dapat terhisap dengan mudah karena saking ingin mencari jawab terhadap apa yang sedang terjadi di layar lebar.
gambar diambil dari sini
Menurut gue ini adalah salah satu film yang tidak hanya sebagai entertainment, tetapi juga sebagai experience. Film sebagai entertainment kebanyakan setelah lampu bioskop menyala dan pintu dibuka, kita harus menarik diri dari dunia alternate-universe sementara itu dan kembali ke kehidupan nyata; ke parkiran mobil, bayar parkir, pulang ke rumah, dan sebagainya. Namun film sebagai experience, memang saat ending credit turun kita sadar bahwa kita harus kembali ke dunia nyata, tapi ada sesuatu yang bisa - atau bahkan tidak sengaja - terbawa dari cerita dunia mimpi tadi ke kehidupan sehari-hari kita.

Gue suka dengan camera work-nya yang walaupun dalam konteks drama romantis, tetapi gaya shaky camera-nya seakan menggambarkan perasaan galau yang ada dalam kedua karakter utama. Belum lagi dengan sinematografi yang mampu menangkap dengan baik apa yang sedang terjadi dalam setiap adegan. Gue cukup terbius dengan score dan soundtrack yang mengiringi beberapa adegan dalam film ini. Apalagi Ryan Gosling sendiri turut menyumbang dua lagu yang ditulis dan ditampilkan sendiri olehnya.
gambar diambil dari sini
Dengan cara bertutur yang tidak biasa, jalan cerita yang sangat jujur, serta kekuatan karakter yang benar-benar "hidup" membuat film ini menjadi sangat sayang untuk dilewatkan. Walaupun gue cukup ragu film ini akan diloloskan oleh LSF Indonesia lantaran banyaknya adegan vulgar yang ada, menunggu DVD-nya pun rasanya akan setimpal.



Rating?
9 dari 10

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top