01 July 2010
3 kritik

Toy Story 3 (3D)

9:43 PM
sobekan tiket bioskop tertanggal 1 Juli 2010 adalah Toy Story 3 (3D). pastinya gue engga mau melewati sekuel yang satu ini. 16 tahun semenjak kemunculannya yang pertama, mainan-mainan yang bisa berbicara ini mengisi masa kecil gue, sampe gue rela nangis2 dibeliin paket KFC yang berhadiah mainan Woody. walaupun gue baru nonton sekuel yang kedua beberapa hari yang lalu, tampaknya akan sayang bila gue melewatkan sekuel ketiga dan terakhir ini tanpa teknologi 3 dimensi.

nasib Woody dan teman-temannya menjadi tidak pasti ketika tiba saatnya bagi Andy untuk pergi kuliah. ketika Woody yakin bahwa dirinya akan dibawa oleh Andy, ia harus menyaksikan teman-temannya yang secara tidak sengaja dibuang dan terkirim ke tempat penitipan anak. ternyata ada hal buruk di dalam tempat penitipan anak itu dan Woody berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan teman-temannya.

sebuah cerita yang cukup cerdas untuk menutup trilogi petualangan Woody, Buzz, dan kawan-kawan. kalau pada sekuel pertama, Woody berpetualang untuk menyelamatkan Buzz dan sekual kedua dimana Buzz dan teman-teman berpetualang untuk menyelamatkan Woody, maka sangat pas jika kisah ini ditutup dengan petualangan "balas jasa" Woody untuk, tidak saja hidup teman-temannya, tetapi juga menyelamatkan persahabatan di antara mereka.

 sebuah trilogi yang baik tentunya tetap berpegang pada ide dasar dan pesan yang ingin disampaikan kepada para penonton, dan Toy Story dengan baik menjaga konsistensi ini. pada sekuel ketiga, garis besar cerita masih dalam konteks mempertahankan mainan (dan barang) yang memiliki makna tersendiri, entah sampai kapanpun juga. tentunya diwarna pula dengan ikatan persahabatan yang sangat kuat antara Woody, Buzz, Slink, Mr. dan Ms. Potato Head, Rex, Hamm, dan yang lainnya.


sekuel juga tak lepas dari hilangnya beberapa karakter lama untuk memberikan ruang bagi munculnya beberapa karakter baru. dalam film ini, penonton tidak sempat dibuat kecewa dengan karakter-karakter lama yang "dihilangkan" karena sangat dihibur dengan karakter-karakter baru yang lebih kocak dan mengesankan. nilai positifnya adalah, pembuat film berhasil mempertahankan konsistensi pusat cerita pada Woody dan teman-temannya dengan menjaga proporsi para karakter baru dengan baik. dan yang membuat gue senang, proporsi si tiga alien/Little Green Man ditambah!

dalam film ini, Woody masih saja membuat gue kagum akan kecerdasannya dalam menyusun strategi. Buzz sekali lagi berulah dan tidak sengaja mengubah mode setting dirinya yang mengundang tawa penonton. Mr. Potato masih dengan kesinisannya tetapi mampu membuat penonton tertawa terbahak-bahak melihat aksi menyamarnya. Little Green Men yang masih imut dan sangat menghibur, terutama setelah ending credit turun. dan walaupun ini adalah film animasi, tetap saja ada unsur menegangkan yang sangat sangat berhasil digambarkan di penghujung film, setidaknya sampai membuat gue menahan nafas selama beberapa detik.



seperti pada film-film Pixar lainnya, Easter Eggs pastinya selalu ada. yang gue maksud dengan Easter Eggs adalah hobi para animator untuk menyempilkan benda, barang, tulisan, bahkan karakter dari film-film Pixar terdahulu. gue sempat dibuat berteriak kecil ketika melihat karakter Totoro di beberapa adegan. Totoro adalah karakter animasi yang diciptakan oleh sutradara animasi berbakat asal Jepang, Hayao Miyazaki dalam film My Neighbor Totoro (1988). oya, ada beberapa dialog dalam film ini yang memiliki referensi dengan prekuel-prekuelnya. yang paling kentara adalah dialog pertama di film ini yang juga menjadi dialog pertama di Toy Story 2.

salah satu kecerdasan dari pada pembuat film ini adalah, walaupun sekuel ketiga diluncurkan 11 tahun setelah prekuelnya, film ini tetap menjadi film yang bisa ditonton oleh anak-anak yang notabene belum lahir pada saat kedua film pendahulunya diputar. dalam kata lain, setiap film dari trilogi ini, menurut gue, bisa berdiri sendiri dan bisa ditonton dan dimengerti tanpa menonton film pendahulunya.

pada dasarnya, sebuah sekuel pastinya diharapkan akan lebih bagus dibandingkan prekuelnya, khususnya dalam cerita trilogi. dan trilogi Toy Story karya Disney-Pixar ini pun menjawab dengan baik ekspektasi ini. dengan Toy Story 2 dengan cerita yang lebih kuat daripada pendahulunya, sekuel ketiga ini pun dengan sukses menjawab ekspektasi para penonton dengan cerita yang lebih dalam, ditambah dengan eksekusi ending yang cukup brilian.



rasanya gue engga terlalu berlebihan jika gue berpendapat bahwa film ini dapat meraih Best Animation dalam penghargaan Oscar berikutnya.

info tambahan, ketiga film ini masuk dalam daftar IMDb Top 250 dengan rincian: Toy Story (1995) rating 8.2 di peringkat 151, Toy Story 2 (1999) rating 8.0 di peringkat 236 dan Toy Story 3 (2010) rating 9.1 di peringkat 6!

rating?
9,5 of 10

3 kritik:

  1. lapor om, udah liat yang 2D
    keren banget, jadi teringat terus setelah keluar bioskop

    ReplyDelete
  2. iya nonton yang 2D cukup kok. yang 3D engga terlalu berasa.

    ReplyDelete
  3. yang jadi berasa adalah ketika kita ngikutin perjalanan mainan mainan ini dari toy story 1 dan 2, dan kita akhirnya melihat selesai perjalanan mainan-mainan itu

    ReplyDelete

 
Toggle Footer
Top